Cukup HP Saja yang Hilang, Asmara Harus Tetap Berjalan
Kehilangan adalah sebuah kata yang ditakuti oleh setiap orang, entah apa pun bentuknya, mulai dari kehilangan orang tua yang dijemput ajal, kekasih tercinta yang hilang entah karena ditikung atau memang bukan jodohnya, hingga kehilangan barang berharga yang nilainya jauh melebihi harga jam Richard Mille sekalipun.
Berbicara tentang kehilangan, sekira dua minggu lalu, hp jadul saya yang bermerk Lenovo A-7000 itu raib di curi maling. Kejadian ini berlangsung sekira pukul 00.00 hingga menjelang shubuh, saat saya dan kawan-kawan yang lain telah terlelap di lantai dua salah satu masjid di Surabaya bagian Selatan, dengan kondisi gelap sebab semua lampu dimatikan.
Saat akan melaksanakan salat subuh, saya mengecek hp saya yang masih dalam keadaan di-charge itu, dan saya baru menyadari hp saya sudah tidak ada di sana. Sebelum iqamah, saya tak patah arang untuk terus mencari di sela-sela karpet. Namun sayang, saya sama sekali tak menemukannya.
Beberapa saat kemudian, iqamah dikumandangkan, saya bergegas menuju panggilan Tuhan, kendati di hati dan pikiran ini masih tertuju pada hp yang entah sembunyi di mana dia? Walhasil, dalam tiap rakaat, saya mengingat-ingat kembali di mana saya meletakkan hp itu, di tas kah? Di jok motor kah? Atau jangan-jagan di dua ember dan dua magic jar yang kosong itu? Pikiran saya benar-benar ambyar kala itu.
***
Usai salat, saya berdo’a dengan sungguh-sungguh, berharap ada keajaiban dari Gusti Allah melalui Kun Fayakun-Nya. Setelahnya, saya bergegas lagi menuju ke tempat yang sudah saya pikirkan saat salat; tas, magic jar, dan ember. Namun, saya tak menemuinya di ketiga barang itu. Saya pun sudah bertanya kepada semua kawan yang lain, dan mereka pun tak tahu keberadaan hp saya itu.
Seketika semuanya ikut panik, salah satu kawan mencoba untuk melacak keberadaan hp saya dengan aplikasi termutakhir sekalipun. Namun lagi-lagi, hp saya tidak ditemukan dalam radar aplikasi tersebut. Dengan kata lain, si maling yang terkutuk itu berhasil membobol sistem keamanan hp, me-logout akun e-mail saya, dan me-reset data pabrik sehingga memori kembali dalam keadaan kosong.
Malang, hari itu saya benar-benar ketiban apes. Beruntung, hp saya saja yang dicuri, dan yang lainnya aman-aman saja. Dan pada hari itu pula, saya harus mengakhiri pemakaian hp yang usianya sudah terlampau tua untuk ukuran hp android: 7 tahun pemakaian, itu pun seken alias dari tangan pertama.
Saya benar-benar bingung kala itu, mau nangis tapi kok ya blass nggak pantas, mau marah pun sama siapa? Akhirnya, saya mencoba untuk mengikhlaskan kepergian si hp berwarna hitam itu bersama orang lain, beserta seluruh kenangan indah bersamanya. Kendati baterai hp sudah sangat ngedrop.
Walau begitu, saya masih memiliki satu alat komunikasi lagi: notebook. Ya, notebook itulah satu-satunya alat yang bisa saya andalkan saat itu, apa lagi kalau tidak untuk menghubungi seorang perempuan perihal raibnya hp saya via e-mail, dan memberitahunya jika ada pesan aneh terlebih teror yang mengatasnamakan saya.
***
Usai mendengar musibah itu, alangkah terkejutnya dia mendengar berita mengenaskan yang saya alami. Dia pun menanyai rentetan kronologisnya seperti apa, saya mencoba menceritakannya kembali dengan cukup detail.
“Ya udah sabar aja dulu, ntarrr pasti diganti yang lebih baik ko,” katanya dengan penuh keyakinan yang mantap. Saya mengamini tak kalah mantap dan bersemangat.
Bagaimana tidak, hanya dengan musibah ini, kami bisa kembali terhubung setelah sekira 2 bulan lebih tidak saling sapa dan melepas rindu oleh karena sibuk dengan karir dan kesibukan masing-masing. Tapi dengan cara itulah, kami menjaga hubungan agar tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Semenjak itu, hati saya yang tadinya tidak karuan perlahan mulai tenang dan damai seiring dengan support-nya juga teman-teman saya yang rela hp-nya saya pinjam untuk kemudian mengabari beberapa pimpinan perusahaan dan organisasi tempat saya bernaung, mengais cuan, dan berlatih berorganisasi. Demi mendengar kabar buruk itu, mereka pun kaget dan tak menyangka hp saya raib dicolong maling.
Salah satu dari mereka nampak panik, sebab selama ini saya bekerja dengan menggunakan hp dan jarang sekali menggunakan notebook kalau tidak benar-benar penting dan mendesak saja.
Sehari berlalu tanpa gawai, saya hanya bisa bermain notebook dan membaca buku sembari meratapi nasib yang harus saya terima dengan lapang dada. Saya masih belum bisa move on dari hp itu, sehari tidak memegang hp rasanya sangat hambar. Kendati demikian, hati kecil saya bilang bahwa tidak lama lagi saya akan mendapatkan penggantinya yang lebih baik, seperti apa yang dikatakan si dia.
Dan benar saja, dua hari kemudian, saya pun akhirnya meminang hp yang benar-benar saya impikan sejak 3 tahun lamanya. Sebab, hp jadul itu sudah terlalu udzur dan benar-benar harus diistirahatkan total.
***
Usai meminang hp baru dan memulihkan nomor hp di galeri Indosat, saya pun bergegas mengabari si dia. Mendengar kabar baik itu, ia pun bergembira bukan kepalang. Hmm.. saya rasa, ada alasan terselubung kenapa dia sampai segitunya.
“Banca’an, wkwkwk,” katanya. Benar saja.
“Okay, yang penting di caffee yang harganya merakyat sajaaa,” balas saya dengan harapan agar diamininya.
“Baiklahhh, di SB yaaa…,” balasnya enteng.
“Banca’an yo banca’an, tapi ya nggak di SB jugaaa Maliihh -_-,” jawab saya diplomatis, diikuti dengan gelak tawanya melalui emoticon tawa Whatsapp terguling-guling.
Memang. Setiap orang, saya pikir harus merasakan betapa pedihnya kehilangan, sebab jika tidak, ia tak akan memahami bahwa apa-apa yang dimilikinya; anak, istri, suami, orang tua, harta benda, hewan kesayangan, pacar, Tupperware, hanyalah titipan semata, dan suatu saat akan diambil oleh Sang Pemilik Semesta.

Gemar membaca dan menulis sambil dengerin lagu bergenre Pop-EDM. (IG: rvdafii_ls. E-mail: ruzdanfauzi025@gmail.com)
