Sedu Sedan Pertiwiku
Cakrawala senja masih merah merona
Kucoba berpaling dari sejumlah fatamorgana
Namun raga ini menggigil oleh hembusan bayu
Kala kudengar lirih masih ada senandung tangis pilu
Bumi yang terpijak kini terasa sempit
Tak ada suara apalagi teriak untuk menjerit
Kaum papa kehabisan daya ‘tuk menangis
Tak tahu lagi kemana rejeki bisa dikais
Jangan berkerumun, memantik kebingungan rakyat jelata
Jangan ada pesta, menggerogoti mental kaum sosialita
Semua terhalang dan terlarang ada hura-hura
Agar korona tak semakin meraja lela berkuasa
Bumiku kini merintih sedih
Buanaku menggeliat letih, bangkit walau tertatih
Bunga-bunga bangsa tumbang, jatuh berguguran
Membasahi semesta ini dengan darah pengabdian
Mimpi para siswa ke sekolah hanya tinggal impian
Belajar daring merenggut paksa indahnya sebuah keakraban
Bertemu teman dan guru, mengkristal sebagai sebongkah rindu yang membelenggu
Membuncah, gelisah, tak tentu kapan bersua kapan bertemu
Awal tahun hadir penuh ujian dan tantangan yang mendera
Di saat luka goresan pedang PHK masih menganga
Musibah, bencana banjir dan longsor datang melanda
Ada yang tegar, tak terhitung yang terlunta-lunta
Derita dan nestapa menghadang tak mengenal kasta
Memeluk mesra kapada siapa tak ada kata tunda
Menguji nyali yang kini tinggal setengah hasta
Demi sejumput asa yang masih tersisa
Kepada siapa kita harus mengadu
Kalau bukan kepada Sang Maha Penentu?
Berdoa dan berharap badai segera berlalu
Agar tak terdengar lagi isak pilu sedu sedan bumi pertiwiku

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.

Bu Guru Wiendy
Menikmati kesibukan di tengah pembelajaran daring…..