f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
drakor

Refleksi Pengasuhan Dari Drama Korea

Menonton drama korea (drakor) menjadi salah satu cara untuk menghilangkan kebosanan saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Meskipun bagi para pencinta drakor sesungguhnya hal ini sudah menjadi salah satu me time bahkan hobi yang sudah sejak lama.

Akhir Tahun 2020 drakor yang berjudul Start Up viral dari sorotan para penonton drakor diberbagai lini media sosial.  Saya pun termasuk yang menonton drakor tersebut dan menikmati berbagai review tentang drakor Start Up.

Tokoh utama drakor Start Up terdiri dari Seo Dal Mi yang diperankan oleh Bae Suzy, Nam Do San yang diperankan oleh Nam Joo Hyuk dan Han Jie Pyong yang diperankan oleh Kim Seon Ho. Ketiga tokoh ini memiliki karakter yang kuat; dan banyak hal yang dapat kita refleksikan sebagai orang tua dalam pengasuhan selama ini terhadap anak-anak kita dari drakor tersebut.

***

Dalam drakor Start Up, Seo Dal Mi sebagai perempuan yang putus kuliah dan melakukan berbagai pekerjaan paruh  waktu. Ia berharap bisa menjalankan perusahaannya sendiri yang baru saja ia bangun, ia bermimpi bisa menjadi seperti Steve Jobs.

Nam Do-san sebagai pendiri Samsan Tech. Ia suka coding dan merajut dan Ia pernah menjadi kebanggaan keluarganya; karena saat kecil Nam Do San pernah menjadi orang termuda yang memenangkan Olimpiade Matematika.

Han Ji Pyeong sebagai anak yatim piatu yang sukses. Dengan keterampilan investasinya yang menakjubkan, ia memiliki mobil mewah dan apartemen dengan pemandangan Sungai Han. Han Ji Pyeong merupakan lambang dari anak muda yang sukses.

Nah sebagai orang tua kita berharap anak kita seperti tokoh siapa? Apakah seperti Seo Dal Mi, Nam Do San atau Han Ji Pyeong? Meski itu hanya tokoh dalam sebuah drakor tapi sebenarnya sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari.

Baca Juga  Hal Sederhana dalam Mendidik Anak, Parenting Ala Ibu Muda

Kita mungkin sering sekali mendengar banyak anak yang stress karena harus banyak mengikuti berbagai les karena paksaan orang tuanya; banyak juga orang tua terobsesi agar anaknya menjadi anak yang serba bisa atau menjadi juara dikelasnya tanpa meminta pendapat anak.

Bahkan juga mungkin sering mendengar anak yang sampai usaha dewasa, namun tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Karena sejak kecil, orang tua selalu ‘intervensi’ untuk mengambil alih menyelesaikan masalah anak serta masalah lain yang dihadapi anak saat dewasa karena pola asuh orang tua yang tidak tepat.

***

Dari drakor Start Up kita bisa melihat bagaimana Seo Dal Mi yang putus sekolah, namun selalu mencari cara untuk setiap masalah yang dihadapi. Tentunya sikap Seo Dal Mi ini karena pola pengasuhan ayahnya yang memberikan teladan untuk tetap berusaha mencapai impian dengan berbagai upaya terbaik yang dilakukannya.

Meskipun pada akhirnya, ayah Seo Dal Mi tidak dapat menikmati impian tersebut karena saat impian mulai tercapai kematian sudah lebih dahulu menghampirinya.

Dalam pengasuhan kita perlu memahami prinsip perkembangan anak.  Pada prinsipnya perkembangan tiap anak berbeda, hal itu terbentuk karena faktor bawaan, maupun faktor lingkungan.

Memahami perkembangan anak berarti sensitif terhadap kebutuhan anak; menerima hal-hal yang menjadi keunikan anak dan bersikap positif dalam meresponnya. Maka orang tua perlu memperhatikan aspek perkembangan anak, antara lain sosial-emosi, kognitif, aspek fisik serta bahasa.

***

Menurut saya, Nam Do San dibesarkan dari orang tua yang lebih fokus pada aspek kognitif anak, namun kurang memperhatikan aspek lainnya. Salah satunya aspek sosial-emosi, Nam Do San mencari sendiri cara agar dapat menyalurkan temperamennya secara positif salah satunya dengan merajut.

Baca Juga  Rumah yang Bersahabat Bagi Tumbuh Kembang Anak

Hal ini karena cara orang tuanya kurang positif dalam merespon apa yg diungkapkan anak.  Nam Do San harus memendam rasa bersalah selama bertahun-tahun akibat menyontek pada saat Olimpiade Matematika.

Kepercayaan diri Nam Do San tidak terbangun, padahal kemenangannya dalam olimpiade matematika menjadi kebanggaan bagi orang tuanya. Namun tidak bagi Nam Do San yang menyadari caranya mendapatkan kemenangan pada Olimpiade Matematika itu melalui cara yang tidak jujur alias menyontek.

Karakter Nam Do San berbeda dengan karakter Han Je Pyeong. Meskipun ia seorang anak yatim piatu, harus keluar dari panti asuhan saat memasuki usia dewasa dengan ‘tunjangan’ 2 juta won untuk bertahan hidup seorang diri.

Namun dalam kondisi sulit, Han Jie Pyeong tidak pernah menyerah dan selalu optimis. Ia memiliki kepercayaan diri yang bagus meski tidak memiliki support system yang utuh yaitu keluarga. Tentunya tidak ada manusia yang sempurna, Han Je Pyeong dengan berbagai kelebihannya namun memiliki kekurangan, yaitu mengelola kata-kata saat menjadi mentor, pada akhirnya tersadar bahwa kata-katanya pernah membuat orang lain sampai bunuh diri.

***

Meski apa yang terjadi dalam drakor Start Up merupakan kisah fiksi, namun kita sebagai orang tua tetap bisa merefleksikan diri terkait pola pengasuhan kita selama ini.

Pola pengasuhan masa lalu akan membentuk kepribadian/karakter seorang anak. Maka pola asuh yang kita terapkan kepada anak bisa jadi karena pengaruh oleh pola masa lalu orang tua kita saat mengasuh kita. Praktik baik yang diberikan orang tua kita dalam pengasuhan bisa kita adopsi, modifikasi dan tiru (ATM). Namun sayangnya kita kadang sulit untuk memfilter praktik buruk pola asuh masa lalu, sehingga turun menurun pola asuh yang salah tetap kita terapkan.

Baca Juga  Memahami dan Menangani Anak Ketika Tantrum

Untuk itu, kita perlu mempersiapkan diri sebagai orang tua dengan bekal ilmu dan keterampilan pengasuhan (parenting) serta berbagi peran pengasuhan dengan sekitar kita, salah satunya dengan tergabung dalam Relawan Keluarga Kita (Rangkul).

Rangkul mendorong orangtua berdaya untuk orangtua lain dengan terus menjadi sumber belajar yang efektif dan berbagi praktik baik pengasuhan untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Pengasuhan harus menjadi urusan bersama, bukan hanya dominan urusan Ibu. Jika pengasuhan hanya menjadi tanggungjawab Ibu, saat anak bermasalah maka ibu yang selalu menjadi sasaran utama untuk ‘dihakimi’.

Meskipun tidak ada orang tua yang sempurna tapi kita selalu memiliki kesempatan untuk memilih mencintai dengan lebih baik anak-anak kita. Kita perlu mendorong bahwa tanggung jawab pengasuhan adalah tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya orang tua. Peran pengasuhan adalah upaya kolektif untuk masyarakat dan negara lebih baik, bukan hanya dari dan untuk satu keluarga saja.

Bagikan
Post a Comment