Otak Manusia Sok Benar
Terduga meradang
Terpuruk di sudut kamar tanpa tiang
Langit kehidupan cukup terang memandang
Hingga taringnya nampak berkilat tajam
Penuduh pun merasa berang
Ponggah di atas batu hitam tanpa penyesalan
Matahari dirasa berpihak, hingga panasnya seolah teman
Kian tajam, kian menyerang
Masing-masing merasa hancur
Masing-masing merasa kecewa
Masing-masing merasa dikhianati
Masing-masing merasa dikorbankan
Tidak ada yang mau memulai
Tidak ada yang mau mengalah
Tidak ada yang mau menyerah
Seolah tidak ada kesempatan kembali seperti awalnya
Coba dipikir
Jangan hanya bisa nyinyir
Sebaiknya jujur di depan
Sudah main belakang, fitnah menfitnah tak mau kalah
Semua yakin, dunia ini ada umurnya
Semua bicara tentang syurga dan neraka
Semua percaya pahala dan dosa
Namun sayang, semua saling klaim diri yang paling dari lainnya
Saat diri jatuh
Mulai sibuk mencari kambing hitam
Lupa bahwa diri juga bisa jadi belati
Menyakiti tanpa perlu permisi
Saat diri di puncak
Kacak pinggang menjadi pertanda diri jumawa
Lupa, bahwa sombong tak pantas untuk manusia
Hingga ia lupa bahwa ada sosok lain yang menjadi tangganya
Ha… ha… ha…
Dicurangi syetan kok bangga
Telinga dikencingi syetan, orang lain yang disalahkan
Akhirnya…
Syah! Setan menang, DAB!
Bukti otak bodoh yang merasa bagai jagoan
Mendahulukan nafsu, sedangkan akal belakangan
Gemar dunia yang tak akan di bawa pulang
Lupa kampung tujuannya pulang
Sudah, teruskan!
Jangan kau pedulikan!
Hingga saatnya tiba,
Kita akan sama-sama tahu, kita ini manusia jenis apa.

