Cerita Senja di Atas Trotoar
Betapa dalam senja ini telah kulabuhkan berbagai cerita
Bersahutan bersama deru knalpot yang tak beraturan
Masih bisa kulihat jingga menyapa di ujung cakrawala
Mengibaskan selamat tinggal pada hari yang telah panjang berteman
Hanya trotoar ini yang mampu menyelami hati
Spasi yang datar yang membuat langkah beriringan mampu kujadikan saksi
Hidup memang tak semudah yang diceritakan penulis
Tak seindah yang dipaparkan pujangga
Apakah mengagumkan seperti gumaman penyair
Tepi kaki ini cerita kelak
Kilometer yang kuhabiskan untuk terus bergerak
Sejauh mampu jemari kaki ini berbuat
Ia kan tetap mengayun bersama telapak
Kujelang mimpi yang selalu mengayuh hari
Membunuh keputusasaan yang berbuih
Agar ia larut jauh ke dasar palung yang tak bertepi
Kujelang engkau bersama bagian diri
Walau telapak ini harus perih
Aku tak akan pernah peduli karena ada kamu selalu menanti
Menungguku di sebalik dinding bambu beratap ruai
Kepulan asap knalpot semakin membumbung
Berpayung cahaya lampu pinggir jalan
Bersambung dengan sahutan azan magrib dari berbagai pelantang
Tunggulah, Dik!
Abang pasti pulang
Dengan lelah yang berjurai
Membawa kepingan logam rupiah
Semoga laparmu kan segera tunai
Sebelum waktu isya datang

Penulis lahir di Singaparna Tasikmalaya adalah seorang pendidik di madrasah aliyah swasta di kota tersebut. Aktivis Nasyiatul Aisyiyah ini meniti pengalaman organisasinya mulai dari PRNA Singaparna sampai menjadi salah satu pimpinan harian di PWNA Jawa Barat. Kecintaannya terhadap dunia literasi melahirkan beberapa tulisan yang terbit di surat Kabar Priangan, Siap Belajar, dan Tribun Jabar. Salah satu puisinya terdapat pada antologi berjudul Nyanyian Tahun yang Tak Kulagukan Rindu dan 1 Januari Biru yang diterbitkan oleh FAM Publishing, Sawidak yang diterbitkan oleh Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Jawa Barat. Karya penanya dapat ditemui di akarmenulis.blogspot.com.
