f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mani madzi wadi

Fikih: Menyelami Perbedaan Mani, Madzi, dan Wadi

Pernahkah anda mendengar kata mani, madzi, dan wadi? Jika pernah tentu anda akan sangat mudah untuk mengartikannya. Namun, sebaliknya apabila kalian belum pernah mendengar – belum pernah belajar – tentu anda akan sangat kesulitan untuk membedakannya. Padahal, ketiga hal ini, sangat penting untuk dimengerti oleh anda. Apalagi bila anda sudah mempunyai umur alias baligh Perbedaan antara mani, madzi, dan wadi wajib anda ketahui.

“Baligh” atau padanan bahasa Indonsesia disebut “balig” merupakan orang yang sudah sampai umur. Apabila dia laki-laki biasanya ditandai dengan mimpi basah. Apabila dia perempuan biasanya ditandai dengan haid atau menstruasi. Nah, dari tanda baligh ini seseorang terutama dalam Islam wajib mengetahui mengenai perbedaan antara mani, madzi, dan wadi.

Selanjutnya, mengapa hal ini wajib diketahui? Karena ketiga hal ini erat hubungannya dengan masalah thaharah (bersuci). Hasan Rifa’i Al-Faridi dan Iqbal Setyarso dalam bukunya 100 Tanya Jawab Seputar Bersuci, mengartikan bersuci merupakan kebersihan dari segala kotoran, seperti: hadats (hal-hal yang membatalkan wudu), najis, dan juga kotoran yang lainnya.

Perbedaan Mani, Madzi, dan Wadi dan Hukumnya

Mani, madzi, dan wadi merupakan cairan yang keluar dari kemaluan laki-laki dan perempuan. Namun, ketiga cairan ini memiliki perbedaan baik dari segi pemaknaan maupun segi hukum fikih mengenai bersuci.

Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim dalam Shahih Fiqih Sunnah, menuliskan bahwa “bersuci” mempunyai antonim dari kata “najis.” Najis merupakan istilah untuk benda yang kotor secara syar’i.  Oleh karenanya, seseorang yang telah baligh diwajibkan membersihkan diri dari najis dan memcuci apa saja yang terkena olehnya.

Jenis-jenis najis cukup banyak. Mulai dari tinja atau kotoran manusia dan air seninya, kotoran hewan, air liur anjing, bangkai, daging babi, dan termasuk madzi dan wadi. Sebab jenis najis sangat banyak, artikel ini dibatasi pada perbedaan mengenai mani, madzi, dan wadi. Mari kita selami satu demi satu.

Pertama: Mani dan Hukumnya

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mani merupakan cairan yang keluar dari kelamin laki-laki pada waktu ejakulasi. Hal ini merupakan produk yang berasal dari berbagai organ, seperti: buah zakar, gelembung mani, kelenjar prostat, dan juga sperma. Keluarnya mani ini biasanya pada saat seseorang sedang bersenggama dengan lawan jenisnya. Mengenai hukum keluarnya mani seseorang diwajibkan mandi.

Imam Muslim No. 288 pada Syarah Shahih Muslim menuliskan bahwa: “Seorang laki-laki singgah ditempat Aisyah, lalu pada pagi harinya ia mencuci pakaiannya. Maka Aisyah berkata, “Sepatutnya kamu membasuh sebagiannya saja, jika kamu melihat kotorannya, maka basuhlah tempat kotor tersebut. Sebaliknya jika kamu tidak melihatnya, cukuplah kamu memercikkan air disekitarnya saja. Sesungguhnya aku pernah menggaruk air mani yang terdapat pada pakaian Rasulullah. Lalu, beliau menggunkan pakain tersebut untuk mendirikan salat.”

Kedua: Madzi dan Hukumnya

Madzi merupakan cairan halus dan kental yang keluar dari kemaluan pada saat syahwat sedang naik. Hal ini dapat terjadi ketika mengingat jima’ (bersetubuh) dan dapat juga karena yang menginginkannya. Cairan ini terjadi antara laki-laki dan perempuan, tetapi biasanya banyak dialami oleh perempuan. Lalu, bagaimana hukumnya? Abu Malik Kamal  mengutip dari Al-Majmu, An-Nawani dan Al-Muqhni, Ibnu Qudamah menghukumi madzi merupakan najis menurut kesepakatan ulama.

Imam Bukhari dalam hadisnya No. 269 pada Fathul Bari menuliskan hadis: Dari Abdurrahman dari ‘Ali berkata:

“Dulu aku adalah seorang yang sering mengeluarkan madzi. Maka aku minta seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alihi wasallam. Karena kedudukan putri beliau, maka orang itu bertanya, lalu jawab Nabi, “Berwudulah dan suci kemaluanmu.”

Dari hadis di atas, maka seseorang yang keluar cairan madzi hanya dihukumi untuk membersihkan kemaluannya saja dan apabila ingin menjalankan salat, maka berwudu. Tidak seperti keluarnya cairan mani yang menyebabkan seseorang diwajibkan untuk mandi.

Ketiga: Wadi dan Hukumnya

Wadi merupakan cairan berwarna putih dan kental. Biasanya wadi ini keluar setelah buang air seni. Abu Malik menuturkan dalam bukunya bahwa wadi termasuk najis menurut ijma’ (kesepakatan).

Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah dalam Fiqih perempuan, juga menuliskan bahwa wadi merupakan najis, akan tetapi tidak diwajibkan mandi, seperti halnya keluarnya mani. Beliau juga mengutip hadis dari Ibnu Abbas, ia berkata:

“Tentang mani, wadi, dan madzi. Adapun mengenai mani, maka diwajibkan mandi karenanya. Sedangkan mengenai madzi dan wadi, maka cukup dengan membersihkannya secara sempurna.” (HR. Al-Atsram  dan Baihaqi)

Dengan demikian, telah nampak perbedaan ketiga hal mengenai mani, madzi dan wadi. Sehingga, sekarang kita tinggal mengamalkan apa yang telah menjadi ketentuan fikih yang disepakati. Maha benar Allah dengan segala perintahnya.

Bagikan
Post a Comment