f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mahdzab

Jangan Fanatik Terhadap Satu Mazhab!

Oleh : Siti Majidah*

Tulisan ini berawal dari kerisauan saya, melihat beberapa kawan yang mengungkapkan kegelisahannya perihal kuliah whatsapp (kulwaps) yang ia ikuti. Dari penuturannya dia merasakan tidak mendapatkan pencerahan setelah mengikuti kulwaps tersebut namun justru merasakan kegalauan. Kulwaps yang ia ikuti membahas tema mengenai masalah fikih puasa yang salah satu materinya mengkaji mengenai bagaimana hukum fikih membayar puasa bagi ibu hamil dan yang menyusui, apakah cukup mengqadha puasa, membayar fidyah atau keduanya?

Singkat cerita, Pemateri di Kulwaps tersebut hanya membolehkan membayar puasa bagi ibu hamil dan menyusui dengan memilih qodho puasa atau qodho beserta fidyah tergantung alasan apa seorang ibu hamil dan menyusui tersebut meninggalkan puasanya. Yang menjadi kegalauan, beberapa peserta yakni ketika pemateri tidak memperbolehkan membayar puasa hanya dengan fidyah saja, dan menganggap bahwa ini sebuah kesalahan dalam mengambil istinbat hukum karena tidak sesuai dengan pendapat imam madzhab manapun.

Pertanyaannya apakah benar hukum wanita yang meninggalkan puasa karena alasan hamil dan menyusui hanya wajib mengqodho dan fidyah atau hanya wajib qodho puasa saja? Lalu bagaimana pendapat yang menyatakan bahwa boleh diganti dengan fidyah saja? Dalam tulisan ini, saya akan mengupas beberapa pendapat dan dalil yang digunakan ulama dalam memandang permasalahan fikih diatas.

Perintah kewajiban puasa Ramadhan terdapat di beberapa firman Allah, diantara di dalam surat al-Baqarah ayat ayat 183
Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Ayat tersebut menegaskan bahwa perintah puasa telah diwajibkan kepada umat manusia jauh sebelum diutusnya Muhammad sebagai utusan Allah. Mengutip pendapat Siswono dalam bukunya Sejarah Ibadah menyebutkan bahwa berpuasa sudah dikenal orang-orang bansa Mesir kuno, Yunani Kuno, Romawi Kuno, Majusi, Yahudi, Nasrani, Cina Kuno, Jepang Kuno, Budha, Hindu, Manu, Konghuchu, aliran kebatinan dan lainnya.

Tujuan mereka berpuasa pun berbeda-bedaa, ada yang bertujuan mencari ketenangan batin, mengendalikan nafsu, mengekang jiwa, memperoleh kemudahan belajar, untuk kekebalan, kesaktian dan lain sebagainya. Sedangkan di dalam ajaran Islam puasa bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Selain itu al-Qur’an juga menyebutkan siapa saja yang wajib berpuasa dan siapa saja yang mendapatkan rukhsoh atau keringan untuk tidak berpuasa karena beberapa alasan syar’I.

Allah Swt berfirman di dalam surat Al-Baqarah ayat 185

Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, maka barangsiapa diantara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka) maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah yaitu memebri makan seorang miskin….(QS.al-Baqarah (2): 184).

Ayat diatas menjelaskan bahawa puasa diwajibkan atas setiap muslim yang berakal dan baligh serta mampu. Selain itu juga dijelaskan mengenai beberapa kelompok yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa yaitu orang sakit yang dengan berpuasa akan membuat sakitnya samakin parah atau justru akan menyebabkan kematian ini sesuai dengan firman Allah “dan janganlah kamu membunuh dirimu” (QS. An-Nisa’:29).

Kelompok kedua yaitu Musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan. Kelompok ketiga yaitu orang tua renta yang sudah tidak memiliki kemampuan untuk berpuasa atau jika dengan berpuasa justru membahayakan kesehatannya, serta orang yang sakit yang tidak kunjung sembuh. Untuk golongan pertama dan kedua maka wajib membayar hutang puasanya dengan mengganti (mengqhodo) di hari lain selain Ramadhan. Sedangkan untuk kelompok ketiga maka tidak diwajib mengqhodo puasanya namun boleh menggantinya dengan fidyah (memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan) begitu halnya untuk orang sakit yang tidak ada harapan sembuh juga diperbolehkan hanya menggantinya dengan fidyah.

Lalu bagaimana hukum fikih bagi wanita hamil dan menyusui jika mereka tidak berpuasa? Ada beberapa pendapat mengenai ketentuan hutang puasa bagi wanita hamil dan meyusui menurut beberapa ulama baik dari ulama klasik maupun ulama kontemporer.

Jika merunut pendapat madzhab syafi atau syafi’iyyah, kewajiban ibu hamil dan menyusui jika meninggalkan puasa maka ada beberapa kondisi. Kondisi pertama yaitu ketika dia meninggalkan disebabkan oleh kekhawatiran dia atas dirinya maka wajib qadha, kondisi kedua jika dia tidak puasa karena khawatir atas kondisi janin atau anaknya serta dirinya maka wajib mengganti dengan qodho, kondisi ketiga jika ia tidak berpuasa karena mengkhawatirkan kondisi anak atau janinnya saja maka wajib qodho dan fidyah. Didalam pendapat mazhab hanabilah, malikiyah dan hanafiyyah juga tidak ada satupun yang membolehkan hanya membayarnya dengan fidyah saja.
Lalu bagaimana jika ada ulama yang berpendapat bahwa bagi wanita yang hamil dan menyusui cukup mengganti dengan fidyah saja. Apakah menyalahi ijma ulama? Dan jika menyalahi ijma ulama apakah kemudian tidak selamat? Lalu apa dalil yang digunakan?

Memang betul jika kita merujuk kepada pendapat imam madhzab besar yaitu mazhab syafi’iyyah, hanafiyyah, malikiyyah, dan hanabilah tidak ada satupun yang menghukumi boleh membayar fidyah saja bagi orang hamil dan menyusui yang meninggalkan puasa. Namun perlu difahami bahwa ada satu pendapat ulama yang membolehkan dengan membayar fidyah saja berdasarkan dari riwayat atsar Ibnu Abbas yang menafsirkan “mampu tetapi dengan memaksakan diri ( yuthiqunahu) di dalam surat al-Baqarah ayat 184 maka dia berpendapat termasuk didalamnya yaitu wanita hamil dan menyusui. Hal ini juga dikuatkan dengan salah satu perkataannya kepada jariyahnya yang hamil;

“Engkau termasuk yang mampu dengan memaksakan diri oleh karena itu engkau hanya wajib membayar fidyah dan tidak wajib mengqhodo (HR. Al-Bazzari dan dishahihkan oleh Daruquthni).

Maka akan salah pikir jika mengatakan pendapat yang menyalahi jumhur fuqaha dalam -hal ini mazhab- sebagai orang yang telah menyelisihi ijma’. Apalagi sampai mengatakan bahwa kalo mau selamat maka ikutilah pendapat ulama madzhab. Ini artinya jika memiliki pendapat laiin yang berbeda dengan pendapat 4 imam madzhab maka tidak akan selamat? Sungguh sangat sempit sekali pendapat seperti ini.

Terlebih ini adalah masalah fiqhiyyah yang berkaitan dengan perkara-perkara furu’iyyah di dalam ajaran islam? Bahkan dalil qath’inya pun tidak ada karena semua ulama menggunakan metode interpretasi dengan metode analogi maka kemungkinan berbeda hasil istimbathul hukumnya pun tidak bisa diniscayakan. Jika demikian adanya maka akan mencederai fungsi dari ijtihad itu sendiri karena akan menyebabkan umat kembali terkungkung kepada mazhab hingga menyebabkan stgananisasi ijtihad yang justru akan berimbas kepada gagapnya ajarann Islam dalam merespon problematika kontemporer masa kini. Terlebih merespon pertanyaan masalah fiqhiyyah dari beberapa masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang madzhab dan aliran diperlukan jawaban-jawaban moderat yang tidak cenderung memaksakan jawaban apalagi sampai menyalahkan pendapat salah satu ulama yang diyakininya.

Maka perlu kiranya kita meneladani kesantunan imam-imam mazhab kita seperti apa yang dicontohkan oleh imam Ahmad bin Hambal, beliau mengatatakan;

“Janganlah engkau taqlid kepadaku, dan jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’I, Al-Auza’idan At-Tsauri. Tetapi ambilllah darimana mereka mengambilnya”

Ini artinya para ulama madzhab tidak menghendaki kita fanatik kepadanya jika sekiranya ada pendapat lain yang diikuti asalkan tidak menyalahi dalil-dalil yang ada. Selain itu terlalu meributkan hal-hal yang bersifat furuiyah dalam islam juga sangat tidak dianjurkan karena perbedaan pendapat merupakan rahmat yang tidak bisa dihindari.

*Siti Majidah, Lc., MA. , Dosen Universitas Ahmad Dahlan dan aktivis perempuan

Bagikan
Post a Comment