f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
psikosomatis

Psikosomatis Anxiety Disorder: Sugestimu, Mempengaruhi Kerja Tubuhmu

Hal yang sering saya temui di kehidupan sehari-hari saya adalah berpikir berlebihan. Kalau kata anak muda sekarang namanya “overthinking”. Terkadang, masalah yang sebetulnya hanya sebuah batu kerikil bisa tiba-tiba menjadi batu besar karena pikiran saya sendiri. Hal serupa juga kerap saya dengar dari orang-orang di luar sana. Beberapa orang mengalami sakit kepala, pusing, mual, demam, stress, bahkan meninggal dunia karena sugesti dari dalam dirinya. Masalah ini umumnya dikenal dengan Psikosomatik.

Dilansir dari Alodokter.com, Psikosomatik merupakan gangguan yang menyatakan keluhan fisik disebabkan atau diperparah oleh faktor psikis atau mental, seperti stress, depresi, atau cemas. Orang yang menderita gangguan ini umumnya akan merasa sakit di bagian tubuh tertentu namun tidak terdeteksi oleh pemeriksaan medis.

Beberapa waktu lalu saya sempat melihat sebuah berita mengenai seorang anak sekolah yang meninggal akibat pikirannya sendiri. Awalnya anak itu mendapat kata-kata candaan dari teman-teman kelasnya, yang tidak pernah diduga akan membuatnya mengalami stress akut. Dari situ dia merasakan sakit pada salah satu bagian tubuhnya, hingga dia tidak nafsu makan, beraktivitas, bahkan berbicara. Hal terburuknya adalah, anak itu akhirnya meninggal akibat kerusakan pencernaan yang disebabkan oleh pikirannya.

Saya pernah mengalami hal yang hampir serupa. Ketika idola saya dijadwalkan menggelar konser di Indonesia pada hari terakhir saya ujian. Satu hari sebelumnya, saya merasa bahwa saya tidak cukup keras dalam belajar untuk hari terakhir ujian besok. Berakhir membuat saya berpikiran buruk tentang hari esok. Malamnya, saya merasakan pusing yang tidak karuan, mual, dan muntah. Saya mempunyai riwayat asam lambung, dan itu membuat saya malah tidak bisa mengikuti ujian terakhir, dan tidak bisa menonton konser.

Baca Juga  Menanti Peran IMMawati di Tengah Krisis Identitas

Saya pernah membaca sebuah quote di buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Kata Hans Salye, “Bukan stres yang membunuh kita, tetapi reaksi kita terhadapnya.” Karena sebetulnya, stres yang kita alami berasal dari pikiran negatif diri sendiri, sehingga menyebabkan otak bekerja lebih keras. Pada ilmu pengobatan Psikosomatik dijelaskan bahwa otak sangat berpengaruh terhadap keseluruhan kerja tubuh kita. Umumnya, Psikosomatik diawali dari stres, atau cemas.

Cemas itu berbeda dengan takut, karena cemas cenderung tidak didasari dengan alasan kenapa seseorang bisa cemas. Dominasi perasaan dari diri sendiri akan memberikan distraksi besar kepada otak sehingga dapat menimbulkan gangguan cemas tersebut. Dari beberapa artikel yang saya baca, keadaan ini dapat menyebabkan tubuh melepaskan zat adrenalin (epinefrin) ke aliran darah, lalu pembuluh darah akan menyempit dan kepala menjadi tegang. Kondisi ini jika berlanjut dapat meningkatkan hormon stres yang dapat merusak tubuh kita.

Jaman sekarang, dengan adanya media sosial, kehidupan orang yang kita tidak kenalpun bisa kita lihat. Nanti ketika ada orang yang hidupnya jauh di atas kita, mulai muncul pikiran seperti, “Kenapa hidup gue gini-gini aja?” “Kenapa gue gabisa kayak mereka?” Awalnya hanya pikiran biasa, namun ketika tidak menemukan solusi, berakhir menjadi depresi. Stres kecil lain yang sering dirasakan Gen-z adalah ketika akan melakukan public speaking misalnya. Tubuh kita akan memberi tahu salah satunya dengan membuat detak jantung berdetak lebih cepat.

Dari situlah saya mulai menyadari bahwa sugesti atau pikiran kita dapat membawa pengaruh besar bagi kerja tubuh. Saya menyadari bahwa hal kecil yang terjadi sehari-hari perlu diperhatikan, jangan menanggap remeh cemas yang terjadi sehari-hari. Saya mencoba banyak hal untuk meredakan pikiran-pikiran yang muncul di otak saya. Mulai dari mengganti kata-kata yang saya gunakan sehari-hari. Seperti mengganti kata “harus” dengan “bisa” karena itu bisa mengurangi pressure yang dapat ditimbulkan oleh pekerjaan yang saya lakukan.

Baca Juga  Pay It Forward

Contohnya, “saya harus menyelesaikan tugas ini” menjadi “saya bisa menyelesaikan tugas ini.” Memberikan sugesti pada otak kita sehingga dapat mengubah persepsi dari sebuah pekerjaan jadi lebih less pressure. Tubuh kita perlu dukungan dari otak untuk bisa bekerja dengan baik, sehingga kita sebagai pemiliknya harus dapat menjaganya. Jika sudah mengalami gangguan Psikosomatik, cobalah untuk menanganinya dengan hal-hal sederhana dulu.

Mulai dari mengenali dari mana stres itu berasal, dan coba mengatasinya sendiri atau dengan bantuan orang lain. Ingat momen bahagia bersama keluarga, teman, pasangan, atau momen bahagia ketika sendiri. Lakukan aktivitas yang bisa mengubah suasana hati menjadi lebih baik. Jalin interaksi, keterbukaan, dan kepedulian dengan orang-orang terdekat. Oleh karena itu, ayo kita tingkatkan kepedulian terhadap kondisi tubuh diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita, dengan menceritakan sebagian beban yang kita rasakan agar lebih lega, menemani orang-orang yang membutuhkan bantuan, dan menyadari gejala-gejala dari seseorang lebih awal, sehingga bisa mengurangi kemungkinan hal-hal yang tidak kita inginkan untuk terjadi. Barulah ketika dirasa hal-hal tadi tidak membatu, segera pergi ke psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Bagikan
Post a Comment