Problem Kesetaraan
Seorang perempuan cenderung menuruti perasaannya, dari pada pikirannya. Sebaliknya, laki-laki cenderung menggunakan nalarnya dari pada perasaannya.
Asumsi seperti itu, menimbulkan problem. Terutama, anggapan umum terhadap perempuan. Juga citra yang tidak baik terhadap perempuan. Misalnya, banyak profesi lebih cocok untuk laki-laki. Dan kurang cocok untuk perempuan.
Termasuk juga pemimpin. Lebih cocok untuk laki-laki karena cenderung berpikir logis. Sementara perempuan, tidak cocok menjadi pemimpin karena lebih mengedepankan perasaan dari pada pikiran.
Tapi, apa itu pikiran? Dan apa itu perasaan? Pikiran bisa dipahami sebagai akumulasi pengalaman. Sehingga, apa yang disebut daya pikir adalah kemampuan untuk memahami sesuatu yang ditangkap oleh indra, berdasarkan akumulasi pengalaman.
Sementara itu, perasaan adalah apa yang dialami oleh diri. Atau lebih tepatnya adalah pendapat terhadap sesuatu setelah melalui berbagai pertimbangan panjang. Bedanya, pikiran hanya mendeskripsikan. Sementara perasaan juga menilai.
Jadi. Baik pikiran atau perasaan, adalah jenis kemampuan manusia. Dan itu dimiliki oleh semua manusia. Apakah itu perempuan atau laki-laki. Tidak dominan pada jenis kelamin tertentu.
Perempuan Dominan Perasaan, Laki-Laki Dominan Pikiran?
Tidak selalu. Kemampuan mana yang lebih sering digunakan, sehingga tumbuh, tergantung dengan lingkungannya. Jika lingkungan mengasah seseorang untuk lebih sering menggunakan pikiran, maka pikiran lebih berkembang. Dan begitu sebaliknya. Jika lingkungan mengasah perasaan, maka perasaan tumbuh.
Lalu, apakah benar peluang bagi seorang perempuan lebih kecil untuk menduduki posisi-posisi penting dan bergengsi dalam struktur sosial? Saya tidak sependapat dengan itu. Cleopatra adalah satu dari beberapa firaun perempuan di mesir kuno. Kita tahu. Firaun adalah gelar bagi raja mesir kuno. Yang dianggap titisan dewa.
Dan dalam konteks politik dunia modern, jika iklim politik kondusif, seorang perempuan bisa juga duduk di kursi-kursi penting sebuah negara.
Mitos Patriarki
Apa yang membuat perempuan cenderung mengisi wilayah domestik? Mengisi wilayah rumah tangga. Memasak, mencuci, merawat bayi, dan persoalan rumah tangga lainnya? Sehingga, banyak profesi diisi oleh laki-laki?
Ini terjadi karena adanya mitos patriarki. Patriarki adalah ide yang mengatakan bahwa laki-laki lebih kuat. Dalam banyak hal. Sehingga, banyak urusan publik harus dijalankan oleh laki-laki. Sementara perempuan, menjalankan persoalan rumah tangga. Wilayah domestik.
Ini adalah mitos. Sebuah kepercayaan yang dianut oleh banyak orang. Dari generasi ke generasi. Sehingga menjadi anggapan umum. Karena sudah menjadi anggapan umum, orang yang tidak begitu mengerti akan menganggap itu lazim.
Harus diakui bahwa, mitos itu berpengaruh terhadap banyak hal. Termasuk juga terhadap struktur politik sebuah negara. Mulai dari persoalan yang sangat remeh seperti siapa yang harus membeli garam di toko seberang jalan. Sampai ke persoalan siapa yang berhak memimpin sebuah negara.
Namun, sampai saat ini, kita belum tahu mengapa mitos patriarki ini bertahan sangat kuat. Dari zaman ke zaman. Meski berbagai varian gerakan feminis terus bertumbuhan. Terutama paling tidak lima dekade terakhir.
***
Apa yang diupayakan oleh gerakan feminis memang patut kita acungi dua jempol. Mereka telah memicu banyak perubahan. Terutama karena upaya mereka mengikis mitos patriarki. Namun. Tetap saja, patriarki masih bertahan laten. Dan kita belum tahu apa sebab mitos patriarki begitu kuat bertahan. Dari zaman ke zaman.
Beberapa analisa diajukan oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul Sapiens: A Brief History of Humankind. Dia menjelaskan paling tidak ada tiga teori yang menjadi basis ide patrarki. Yaitu teori otot, teori agresi, dan teori reproduksi. Namun, ketiga teori itu juga tidak memberi penjelasan yang memuaskan.
Apakah karena laki-laki punya otot lebih kuat lantas berhak mendominasi? Apakah agresi yang dilakukan oleh laki-laki dalam perang itu masih melekat dalam gen sampai sekarang? Lantas, Apakah karena punya rahim dan kelenjar susu, lantas tidak boleh menjadi pemimpin?
Singkat kata, ketiga teori itu tidak cukup menjelaskan mengapa mitos patriarki bertahan begitu laten dalam berbagai peradaban. Dari zaman ke zaman.
Fakta bahwa beberapa firaun pernah dipegang oleh perempuan tidak cukup mampu mengubah mitos patriarki. Dan fakta bahwa perempuan pernah menjadi orang nomor satu di beberapa negara tidak lantas mengubah anggapan bahwa mencuci piring dan memasak adalah pekerjaan yang harus dikerjakan laki-laki.
Begitu juga hasil studi akademik. Fakta bahwa perempuan lebih mampu bekerja di bawah tekanan, tidak lantas mengubah anggapan bahwa merawat bayi dan mencuci piring adalah pekerjaan perempuan.
Memupus Mitos
Baiklah. Saya sepakat bahwa manusia adalah makhluk mitos. Lantaran manusia sangat gemar sekali dengan mitos. Manusia gampang sekali mempercayai sesuatu. Termasuk mitos tentang patriarki.
Karena itu, dengan cara yang sama. Yaitu dengan menciptakan mitos baru, mungkin kita bisa menutup mitos lama. Kita mulai dari hal-hal yang sangat sepele. Seperti mencuci piring atau menanak nasi, tidak semata-mata tugas perempuan. Itu hanya soal pembagian tugas.
Sampai dari persoalan yang dianggap penting, seperti setengah dari kursi parlemen harus diisi oleh perempuan. Begitu juga dengan merawat bayi. Bukan semata-mata tugas seorang perempuan. Sampai persoalan menjadi orang nomor satu di suatu negara, bukan semata-mata hak laki-laki.
Begitu juga berbagai profesi penting di ruang publik. Sepeti hakim, pengacara, dosen, anggota dewan, menteri, ketua partai, dokter dan profesi penting lainnya. Tidak hanya menjadi hak laki-laki.
Yang pada intinya, kesetaraan itu harus dimulai dari pikiran. Lalu terus dipromosikan ke publik. Hingga kepercayaan itu dianut oleh banyak orang. Dan kemudian menjadi mitos baru yang akan memumpus mitos lama patriarki. []
Civitas Universitas Siber Muhammadiyah (SIBERMU). Alumnus program studi Syariah dan HAM, Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2018. Juga alumnus Program studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2015. Juga sempat mengenyam pendidikan diploma II Program studi bahasa Arab dan Studi Islam pada Ma’had Abdurahman Ibn ‘Auf Universitas Muhmmadiyah Malang lulus tahun 2011.
Sepanjang tahun 2020 telah menulis beberapa buku. Yaitu: (1) Pengantar Singkat Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Penerbit Ruang Karya), (2) Pandemiologi: Catatan Kritis Tentang Parodi Kekuasaan di Hadapan Covid-19 (Penerbit Ruang Karya), (3) Agama dan Refleksi Filosofis: Dari Tabiat kebebasan ke Toleransi Pemikiran (Penerbit Ruang Karya), (4) Islam Progresif, Catatan Pemikiran yang Melampaui Zaman Untuk Kemajuan Peradaban (Penerbit Ruang Karya), (5) Indonesia Menuju Plutokrasi, Catatan Hitam Bagi Kekuasaan (Penerbit Literasi Nusantara), dan Ilmu Kepenulisan, Memahami Rahasia Menjadi Seorang Penulis (Penerbit Farha Pustaka).
