Bebas Kantong Plastik Bukan Cita-Cita Lagi
Pemandangan menarik perhatian saat berada di depan sebuah mini market. Di pintu masuknya, ada tempelan tulisan, “Gresik Bebas Kantong Plastik”, Kami tidak menyediakan kantong plastik
Walah, palingan cuma tagline doang. Sering ketemu tagline yang mirip begitu. Tapi pada kenyataannya, ya mereka tetap menyediakan kantong plastik. Cuman, kantong plastiknya berbayar alias tidak gratis. ‘Baiklah, kita lihat saja ya’, bisik saya dalam hati.
Setelah mengambil tiga kemasan gula, saya menuju ke kasir. Di antrian depan ada seorang ibu yang belanja gula juga. Rupanya kami memiliki tujuan yang sama: beli gula untuk acara walimatul ‘urs.
Setelah membayar di kasir, si ibu keluar minimarket dan kembali masuk dengan membawa tas. Rupanya, ibu itu sekalian langsung berangkat ke acara walimah. Dia sudah berpakaian rapi dan menyiapkan tasnya.
Tidak ada kantong plastik yang dikeluarkan mbak kasir. Padahal biasanya mbak kasir atau mas kasir sangat dermawan memberikan kantong plastik.
Belanjaan yang berupa makanan atau minuman dijadikan satu lalu dimasukkan kantong. Belanjaan yang bukan jenis makanan juga dijadikan satu lalu dimasukkan ke kantong plastik yang berbeda.
Alhasil, pulang ke rumah dengan membawa dua atau tiga kantong plastik. Tak heran jika tersedia koleksi aneka warna, dan ukuran kantong plastik di rumah.
Keputusan Menggunakan Plastik Dimulai dari Diri Sendiri
Nah, tiba giliran saya bertransaksi dengan mbak kasir. “Ibu, total belanjaannya adalah sekian rupiah. Mohon maaf, kami tidak menyediakan kantong plastik”, jelas mbak kasir dengan senyum manisnya.
Sayangnya saya hanya membalasnya dengan sedikit senyum kecut. Sedikit lho, ya. Pasalnya saya tidak membawa tas belanjaan. Terpaksa, tiga kemasan gula itu saya bawa tanpa pembungkus apapun.
Beruntungnya, jok sepeda sedang kosong. Tak ada jas hujan di dalamnya. Tiga kemasan gula itu saya masukkan didalamnya. Tidak mungkin kan, kalau saya menyetir sepeda sambil membawa gula. Tentu khawatir bisa jatuh dan saya tidak jadi berangkat ke acara walimah. Duh!
Sepanjang perjalanan pulang, saya senyum-senyum sendiri. Beruntung tidak ada yang melihatnya. Nanti dikira yang aneh-aneh. Bisa gawat, kan?
Senyum itu tandanya senang. Senang melihat ternyata ada, ya orang yang pelit memberi kantong plastik. Waduh, mbak kasir itu jadi orang terkeren yang saya temui dalam satu hari ini.
Melawan Sampah perlu Istiqamah
Poster tempelan peraturan daerah tentang kantong plastik itu juga telah membuat hati suka cita melebihi suka citanya ketika melihat poster promo minyak goreng.
Tanda-tanda pemerintah daerah serius dengan masalah persampahan mulai terlihat. Yes, sinyal untuk semakin peduli sampah semakin terang. Tapi apakah seterang lampu di etalase-etalase toko? Ah, semoga saja!
Sekitar tiga tahun lalu, saya kebagian tugas dari sekolah untuk mengikuti program adiwiyata sekolah. Sedikit banyak belajar memahami permasalahan sampah.
Salah satunya dari kantong plastik. Sebuah kantong yang serbaguna, murah, dan jumlahnya melimpah. Namun, selembar kantong plastik mampu memberikan dampak yang sungguh berbahaya.
Sampah yang katanya sulit terurai hingga berjuta tahun lamanya. Setelah agak paham bahaya di balik kebaikan si kantong plastik ini, muncul semangat untuk mulai diet kantong plastik. Secara, kita sudah sangat terbiasa menggunakan kantong plastik dan begitu besar jasanya membantu kita dalam keseharian.
Berikan Semangat pada Orang Lain
Rupanya semangat saya untuk mau peduli masalah persampahan ini kadang naik. Sering turun. Kalau pas semangat, maka dengan ringan hati saya membawa tas belanja dan wadah makanan saat belanja di pasar.
Sambil melempar senyum manis, Saya menyodorkan wadah makanan untuk tempat ikan, atau ayam. Sebagai isyarat: mohon tidak memberi kantong plastik pada saya. Meski bakulnya jadi bengong sebentar, agak aneh bagi mereka.
Para bakul biasanya dengan murah hati akan memberi kantong plastik dobel untuk membungkus ikan atau ayam. Nah, kalau pas semangat turun, saya hanya membawa tas belanja tanpa membawa tepak makan.
Namun, sebisa mungkin barang belanjaan minim kantong plastik. Kubis, wortel dan kawannya langsung cemplung masuk tas belanjaan. Nah, ikan, ayam, tahu dan sejenisnya dengan terpaksa dibungkus dengan kantong plastik. Cuman, saya minta satu kantong saja. Tidak perlu dobel plastik lagi
Bebas kantong plastik itu adalah cita-cita yang sungguh mulia. Itu salah satu cara menjaga keberlangsungan kehidupan untuk anak cucu kita. Tentu saja cita-cita mulia itu perlu dukungan semua pihak.
Bagaimana mau mendukung program yang amat baik itu sedangkan kantong plastik adalah sahabat karib setiap kita. Memutuskan persahabatan itu sungguh sulit tentunya.
Perlu edukasi kepada semua lapisan masyarakat. Tidak hanya melarang saja. Peraturan yang bijaksana tersebut pada pelaksanaan harus konsisten alias istiqomah.
Pun, regulasi ini semoga bisa dilaksanakan semua : bebas kantong plastik di minimarket, pasar, perusahaan, sekolah dan tentu saja perkantoran pemerintah daerah. Semua saling mendukung. Wah, cita-cita mulia itu bisa jadi suatu kenyataan dan kabar gembira untuk anak cucu kita nantinya.
Editor: Fitria Salsabila

Seorang guru. Tinggal di kota Gresik Jawa Timur.
Instagram : @nuryumsaidah
