f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
istri

Perempuan: Menjadi Istri dan Ibu Berpendidikan adalah Prestasi

Bagi sebagian orang, menikah bukanlah menjadi suatu prioritas. Namun, ada beberapa segmen lapisan masyarakat yang menganggap menikah adalah salah satu capaian yang ‘harus’ dilalui oleh manusia normal. Menikah adalah salah satu ibadah yang akan dilakukan di seumur hidup manusia. Sebagai seorang muslim, menikah adalah menyempurnakan separuh agama. Menjalani kehidupan pernikahan tidak selalu mulus dan bahagia seperti resepsinya. Namun, menjalani kehidupan menikah adalah sebuah proses pendewasaan dan sebuah bentuk kepatuhan kepada Sang Pencipta.

Pernikahan bagi pria maupun wanita dapat dilakukan setelah mencapai usia balig atau dewasa, yakni umumnya di atas usia 19 tahun. Orang yang menikah pada kisaran usia 19 sampai 24 tahun dianggap sebagai “pasangan yang menikah muda”. Menikah di usia muda tentunya memiliki kelebihan maupun kekurangan. Menikah di usia yang muda bagi perempuan mengharuskan adanya batasan dalam bergaul maupun dalam hal karir atau pekerjaan. Tanggung jawab sebagai seorang istri harus ia kerjakan dengan sebaik-baiknya. Pun tanggung jawab ketika sudah dikaruniai anak, harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Selang waktu berjalan, perempuan merasa batasan mempersempit ruang gerak dan ruang berekspresi dalam kehidupan sosialnya. Alih-alih banyak mengeluh atau stress berlebihan, perempuan tetap bisa menyelaraskan kehidupannya tanpa takut mengorbankan tanggungjawabnya sebagai ibu rumah tangga.

Perempuan dapat berkarya dan berkontribusi dalam hal pendidikan. Ya, Pendidikan. Seperti yang banyak kita ketahui bahwa “Al-ummu madrosatul ula”, ibu adalah Pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Seorang ibu yang berpendidikan akan memiliki dasar yang kuat untuk mendidik anak-anaknya. Seorang ibu yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik akan menghasilkan anak-anak yang cerdas. Anak-anak cerdas adalah warisan yang tak ternilai harganya. Seorang istri yang memutuskan untuk melanjutkan sekolah adalah salah satu investasi besar yang akan ia wariskan kepada anaknya. Namun, di sisi lain keluarga tetap menjadi prioritas utama. Menjadi seimbang antara keduanya adalah hal yang akan dicapai bersama-sama. Bersama? Ya, Bersama-sama antara istri, suami, dan lingkungan keluarga. Bagaimana untuk menjadi seimbang? Mari kita ulas dalam beberapa poin.

Baca Juga  Mengakhiri Kekerasan dalam Pendidikan: Menghidupkan Nilai Kasih Sayang dalam Disiplin Islam
1. Meluruskan niat

Perempuan yang menikah di usia muda, tidak sedikit yang mengorbankan kegiatan dan karirnya untuk mengabdi kepada suami dan keluarga. Hal ini membuat perempuan berpikir kalau dirinya tidak bisa berkarya karena terkurung di rumah. Nah, ini adalah kesalahan. Salah besar. Banyak orang pun berpandangan sama tentang hal ini. Perempuan maupun laki-laki sama-sama memiliki fitrah untuk terus melanjutkan hidup dan bermanfaat. Kebermanfaatan itu tidak bisa dinilai hanya dengan materi.

Perempuan memiliki saatnya sendiri untuk berkembang. Jangan pernah takut atau minder jika ada yang memiliki stigma negatif seperti itu. Hal yang harus ia lakukan adalah terus mengembangkan diri dengan belajar. Jika ada kesempatan, cobalah daftar beasiswa untuk melanjutkan sekolah. Atau jika ingin segera belajar, coba komunikasikan kepada suami atau keluarga. Menjadi istri atau ibu bukanlah hambatan untuk terus berkembang. Niatkan untuk kebaikan dan kebermanfaatan. Mungkin tidak akan segera terasa, namun pasti suatu saat akan ada masanya apa yang kamu usahakan hari ini menjadi hal yang besar.

2. Suami turut membantu pekerjaan rumah dan mengurus anak

Menjadi istri sekaligus mahasiswa adalah sebuah prestasi. Percaya dirilah untuk melangkah. Berbincanglah dengan suami ketika kita melalui hari yang sulit. Jangan mengerjakan semuanya sendiri karena kita cuma punya dua tangan dan dua kaki, sedangkan urusan kita tak ada henti. Libatkanlah suami dalam urusan rumah tangga dan mengurus anak. Dua orang yang mengurus akan meringankan beban pekerjaan. 

3. Membuat daily activity

Pernah dengar kalau pekerjaan istri di rumah itu unlimited bukan? Yap, benar. Oleh karena itu, seorang istri yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya perlu mengatur waktu dengan sebaik-baiknya agar peran sebagai istri ataupun mahasiswa berjalan beriringan tanpa tumpeng tindih dan semrawut. Membuat daftar kegiatan yang akan kita lakukan setiap hari mulai dari bangun tidur sampai akan tidur adalah cara yang paling efektif supaya tidak ada kegiatan yang terlewat dan tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.

Baca Juga  Tantangan dan Peluang Menjadi Seorang Penulis Perempuan
4. Komunikasi yang intensif dan dua arah

Komunikasi adalah kunci penting dalam suatu hubungan. Begitu pula hubungan suami istri. Obrolan antara suami istri merupakan hal yang vital karena dapat menjaga keharmonisan rumah tangga. Tidak ada obrolan yang sia-sia, semua kata akan bermakna. Untuk istri, jangan pendam yang mengusik hati. Cukup utarakan kepada suami. Suami pun perlu menjadi pendengar yang baik bagi istrinya. Keduanya harus menjadi saling berbicara dan mendengarkan satu sama lain. Inilah kunci keberhasilan keluarga.

5. Membuat catatan pengeluaran setiap hari

Finansial dalam keluarga diatur sebagian besar oleh istri. Namun, dalam implementasinya, istri tetap harus berkoordinasi dengan suami supaya pemasukan dan keuangan berjalan seimbang. Istri yang bersekolah dan anak yang dimasukkan daycare atau taman kanak-kanak memerlukan lebih banyak biaya di luar kebutuhan pokok. Setiap rupiah pengeluaran harus dicatat supaya dapat diminimalisasi dan dihemat untuk hari selanjutnya. Hal ini juga dapat menghindari pembelian-pembelian barang yang tidak perlu serta mengurangi kebiasaan konsumtif.

6. Melibatkan orang tua dalam pengasuhan anak hanya ketika darurat

Pengasuhan utama anak ada di bawah kendali orang tuanya. Terkadang memang perlu sesekali untuk menitipkan mereka kepada nenek-kakeknya. Namun, ini tidak boleh terlalu sering atau bahkan setiap hari. Orang tua kita telah mengasuh kita saat kecil, jangan pernah bebani mereka untuk mengasuh anak-anak kita lagi. Sebisa mungkin kita bermanfaat bagi lingkungan, tapi jangan pernah membebani orang tua kita dengan kewajiban yang seharusnya kita kerjakan. Mengasuh anak adalah tugas kita sebagai orang tua. Kita bisa melibatkan orang tua kita, namun sebatas pada kondisi darurat. Tidak sering dan tidak setiap hari.

Bagikan
Post a Comment