Menjadi Perempuan yang Tidak Sempurna adalah Hal yang Paling Manusiawi
Tidak mudah menjadi seorang perempuan, ungkapan tersebut kiranya tepat untuk menggambarkan perjuangan perempuan dengan dimensi yang melingkupinya. Apalagi perempuan Indonesia, tidak cukup menjadi baik hati, tapi juga harus berprestasi, berpenampilan menarik, berjiwa tangguh, cerdas, penurut, sekaligus pribadi yang lembut.
Jika suatu ketika menangis disebut si paling melankolis. Lalu bila berpendirian kuat maka dapat julukan keras kepala yang sok smart. Di ranah publik, perempuan masih dianggap manusia kelas dua. Di ranah domestik, perempuan dituntut serba bisa.
Menyapu, mencuci, memasak, menyetrika, masih mendapat label “pekerjaan perempuan”. Padahal pekerjaan tersebut tidak bergender, laki-laki pun memiliki peran serupa di rumah. Tidak berhenti sampai di situ, perempuan juga mendapat tuntutan agar menjadi secantik Nia Ramadani padahal tidak semua kantong laki-laki setebal milik Ardi Bakrie. Intinya apa pun kondisinya, perempuan selalu dituntut sempurna paripurna.
Perempuan Karir Harus Tahan Dicibir
Standar perempuan yang berkarir di ranah publik cenderung lebih complicated. Peran ultra sebagai pekerja, istri, sekaligus seorang Ibu bagi anak-anaknya menguras tenaga, pikiran, dan mentalnya. Belum lagi komentar para tetangga dan keluarga. Di kantor ia harus profesional dalam bidang pekerjaannya. Saat pulang ia harus berganti peran menjadi sosok istri yang mencari rida suami, juga sosok Ibu peri yang baik hati.
Sebabnya sedari awal harus mencari pasangan yang bisa diajak diskusi dan kompromi. Bahwa kesetaraan gender yang paling dasar terjadi dalam ranah domestik. Laki-laki juga mesti berperan aktif dalam pekerjaan rumah tangga. Derajat suami tidak serta-merta turun hanya karena mencuci piring dan menjemur handuknya sendiri.
Kalaupun ada bisik-bisik tetangga, tetaplah berpikir positif bahwa yang suka berbisik niscaya juga ingin suaminya berbuat yang sama. Kalaupun diledek bapak-bapak, jawablah bahwa seluruh pekerjaan rumah bukanlah kewajiban istri. Kewajiban istri hanya satu, mencari rida suami.
Tapi kadang-kadang rekan laki-laki dalam dunia pekerjaan juga suka iseng menanyakan, “Anak-anak bagaimana jika Anda selalu pulang sore?” jika demikian maka cukup jawab, “Anak saya baik-baik saja dan bahagia!” Itu pertanyaan sindiran sebetulnya, semacam kata lain dari “Kamu itu seorang Ibu, tega sekali meninggalkan anak sampai sore!”
Anehnya jika pulang terlalu awal demi anak-anak di rumah juga mendapat sindiran lagi, “Enak kali jadi perempuan bisa pulang cepat dengan alasan anak”, atau “Perempuan itu susah produktif di kantor kalau hobinya cuti melahirkan!” Oh, come on!
Medan Laga Ibu Rumah Tangga
Jangan salah, sosok istri yang penuh waktu di dalam rumah tak kalah beratnya. Selain karena lingkup aktivitasnya hanya di dalam rumah, orang menganggap pekerjaannya hanya tiduran saja. Padahal jika berkenan menonton film Kim Ji-young, Born 1982 (2019), terbukti sosok istri sekaligus Ibu bisa tertekan secara mental karena lingkungan di sekitarnya.
Perempuan yang tidak berkarir dianggap tak berdaya guna. Padahal jika menilik kisah Pak Habibie, kesuksesan beliau juga tak lain berkat perjuangan istrinya Bu Ainun. Berjuang itu bukan melulu soal maju di medan laga Baratayudha. Mengalah untuk fokus di rumah dan berhenti dari karir juga merupakan perjuangan yang sangat heroik.
Maka tak salah jika ada pepatah, di balik laki-laki sukses, ada sosok istri hebat yang membersamainya. Konon ketika Michelle Obama pergi ke sebuah tempat makan lalu berkata ke Barack Obama bahwa pemiliknya adalah teman dekatnya dulu, Barack Obama dengan bangga mengatakan, “Untung Kamu menikah denganku, seandainya dengan dia Kamu juga akan bekerja di sini.”
Michelle Obama dengan yakin menimpali, “Kalau aku menikahinya maka yang menjadi presiden Amerika saat ini adalah dia, bukan dirimu.” Luar biasa jawaban tegas dari Michelle Obama. Dia menunjukkan power dia sebagai perempuan yang berhasil membuat sukses suaminya.
Perempuan Mandiri Dianggap Beridealisme Tinggi
Lalu kelelahan perempuan kini makin tampak dari penurunan data pernikahan. Di negara-negara maju bahkan terjadi resesi angka kelahiran. Ini adalah bentuk protes perempuan yang tak ingin hidupnya makin rumit, dipersulit, dengan tuntutan laki-laki yang super sulit. Namun toh keluarga dan orang-orang di sekelilingnya tetap akan berkomentar bahwa perempuan tidak akan berbahagia jika belum berkeluarga.
Jika perempuan menikah terlalu tua dianggap sudah kedaluwarsa. Sedangkan laki-laki semakin tua usia menikahnya justru disebut berwibawa. Sungguh dunia ini betulan tidak baik-baik saja. Apa salahnya perempuan memilih berdikari, sekolah ke luar negeri, dan punya pendapatan sendiri?
Perempuan juga memiliki hak yang sama untuk menentukan jalan sendiri baik-baik saja atau berkeluarga di usia yang tak lagi muda. Perempuan boleh bermimpi setinggi angkasa yang oleh Bung Karno kalaupun terjatuh akan mendarat di antara bintang-bintang.
Sempurna bukan Sifat Manusia
Dari sini kita kembali lagi pada persoalan multi-standar perempuan Indonesia. Sudah saatnya berhenti menuntut perempuan menjadi sempurna. Seorang perempuan pekerja memiliki kelemahan tidak dapat maksimal mengurus dan membersihkan rumah. Seorang Ibu Rumah Tangga tentu lebih perhitungan dengan uang dan mengharap penghasilan dari pasangan. Perempuan yang mandiri punya visi-misi dan pemikiran pribadi.
Perempuan selama ini dianggap sebagai tulang punggung yang harus menanggung beban tuntutan menjadi sempurna. Padahal kesempurnaan sendiri juga hal yang rapuh. Bukankah lukisan siluet gunung menjadi menarik karena tidak simetris seperti gambar segitiga? Begitupun letak keindahan perempuan justru karena tidak sesempurna bidadari.
Bahkan lagu dari Band Padi berjudul Tempat Terakhir, mengungkapkan bahwa sesempurnanya bidadari Surga tidak akan mampu menggantikan sosok seorang Istri. Jadi biarkan perempuan menjadi dirinya sendiri yang cerdas berarti juga keras kepala, yang cantik berarti memerlukan modal dari suami, dan yang sering meneteskan air mata justru karena kelembutan hatinya.
Sebagai penutup tulisan ini, bolehlah kiranya jika penulis menyarankan bahwa pada akhirnya perempuan harus memiliki standar masing-masing. Jangan mengacu pada standar tuntutan sosial yang tidak masuk akal. Menjadi tidak sempurna adalah hal yang paling manusiawi. Be yourself and bet on yourself!
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Instagram: @titisetiyoningsih Facebook: Titi Setiyoningsih
