Bumi dan Langit, Sebuah Relasi Keseimbangan Kosmik
Bumi menjadi benda alam tempat pijak manusia. Bumi menerima segala yang ditanam oleh manusia, ia menerima sekaligus mengembangkan dan menumbuhkan apa yang ditanam menjadi berbuah (Qs.[36]:36). Bumi tidak pernah memprotes terhadap kebaikan yang manusia tanam. Ia menunjukkan karakter feminin dalam relasinya terhadap manusia dan alam semesta. Bumi adalah ibu bagi manusia.
Manusia menginjak bumi, mengolahnya, merekonstruksi sesuai dengan kehendak logikanya. Bumi yang menunjukkan sifat-sifat feminin bagai ibu yang membalas dengan kebaikan dari manusia. Bumi menjadi alas hidup manusia, dan ia membangun relasi semesta dengan langit yang membawa karakter maskulin.
Sedangkan langit menjadi simbol keperkasaan alam semesta, bagai laki-laki dengan kekuatan badannya. Cara pandang budaya dan religi manusia acapkali menggambarkan Tuhan berada di langit, bahkan dalam beberapa religi langit adalah Tuhan itu sendiri. Langit menjadi simbol atas keperkasaan dan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.
Bumi dan langit menjadi pasangan saling berkorelasi untuk saling memberi, dan menghidupkan dalam sebuah keseimbangan. Tidak hanya manusia, tetapi juga makhluk lainnya yang hidup di atas bumi, di bawah langit. Bumi menerima biji yang manusia tanam, dan bumi tidak mendiamkan biji itu, ia menumbuhkan dan mengembangkan menjadi tanaman yg memiliki nilai manfaat bagi hidup manusia. Untuk itu, bumi bekerja bersama dengan langit untuk menumbuhkan banyak tanaman.
***
Langit mengirimkan hujan juga angin yang membantu proses penyerbukan; bekerja untuk membantu bumi dalam menumbuhkan kehidupan. Langit dengan maskulintasnya membentuk berbagai kekuatan baik hujan hingga angin mendorong bumi terus tak henti menumbuhkan segala yang kebutuhan manusia.
Kerja gerak feminisme bumi dan maskulinisme langit hakikatnya adalah gerak kehendak Allah sebagai puncak hirarki kerja semesta alam. Allah berada di puncak piramida, sedangkan langit dan bumi berada di kaki piramida alam semesta. Allah menghendaki sebuah keseimbangan (equilibrium) dalam dinamika kerja alam antara langit dan bumi. Langit bekerja dengan konsep maskulinitasnya yang berkarakter memberi, sedangkan bumi bekerja dengan konsep femininitasnya yang berkarakter menerima segala pemberian .
Alam semesta baik langit yang berkarakter maskulin, hingga bumi yang berkarakter feminin bekerja secara simbiosis untuk saling memberi. Bumi menjadi tempat pijak segenap makhluk, dan langit melindungi makhluk dari ancaman benda luar angkasa. Keduanya adalah pasangan karena segala makhluk diciptakan dalam posisi berpasangan (Qs.[51]:49), bekerja tanpa henti menjalankan kehendak-kehendak Illahiah. Manusia berada di tengah keduanya, menerima limpahan kenikmatan dariNya melalui keseimbangan kerja langit dan bumi (Qs.[67]:1-3).
Eksistensi Manusia dan Rekonstruksi Alam
Manusia berbuat dengan dorongan keinginannya dan juga melalui gerak akalnya mencoba untuk berinteraksi dengan alam. Ia mencoba memulai kehendaknya untuk memaknai alam. Alam adalah wujud kehadiran Allah melalui tanda-tanda yang Dia hadirkan. Bahwa alam baik langit dan bumi merupakan sebuah tanda (sign) dari adaNya (Qs.[45]:3-5).
Manusia tidak mampu melihat wujud ontologis Allah, tetapi ia mampu menggapai wujud epistemologis Allah melalui penciptaan langit dan bumi yang dihamparkan olehNya. Ketika wujud Allah menjadi begitu tak dipahami oleh empirisme hingga rasionalisme akal manusia, maka wujud Allah yang tak terjamah empirisme panca indera memberikan tanda berupa langit dan bumi yang membuktikan bahwa Dia ada.
Manusia sebagai makhluk Allah yang paling mulia, mengekspresikan apa yang ada di langit dan di bumi. Manusia mengemban amanah untuk aktif mengolah dengan karakter maskulin, sekaligus menerima dengan penuh syukur dengan karakter femininnya. Kedua sosok feminin dan maskulin alam semestas ini ada dan menyatu dalam wujud manusia. Manusia menjadi sosok yang paling sempurna untuk menjelaskan eksistensi langit dan bumi. Melalui manusia kehadiran langit dan bumi dapat diketahui dan dijelaskan.
***
Alam raya menjadi ruang besar (makrokosmos) yang Allah ciptakan. Untuk memahami makrokosmos beserta gerak eksistensinya, maka Allah ciptakan manusia sebagai miniatur alam (mikrokosmos). Manusia menjadi alam yang berfikir, ia memiliki kualifikasi sebagai hamba Allah yang paling sempurna dan memenuhi derajat khalifah, walau ia hanyalah wujud renik dalam hamparan makrokosmos yang tampaknya tak bertepi.
Sebagai mikrokosmos (miniatur alam raya/alam kecil) sekaligus menjadi tanda pula bagi keberadaan dan adanya Allah itu sendiri. Manusia menjadi wujud yang paling sempurna untuk menjelaskan hadirnya kekuasaan Allah dalam wujud nyata. Dalam wujud manusia tertanam entitas ruh sebagai wujud yang tak terbendakan, sebagaimana entitas wujud Allah tak terbendakan dalam bentuk.
Wujud manusia juga tercipta dalam wujud sebagian perempuan yang mengasihi, dan sebagian laki-laki yang mengendalikan. Ia menjadi pencerminan sifat feminin bumi dan sifat langit yang maskulin. Wujud hadirnya manusia menunjukkan bahwa ia adalah simbol gerak langit dan bumi. Ia juga menjadi tanda yang paling nyata atas kehadiran Allah itu sendiri.
Dalam posisi manusia yang sempurna ini, maka ia terkadang berkehendak untuk menundukkan alam. Manusia berupaya merekonstruksi alam ke dalam kehendaknya.
***
Rekonstruksi akal yang membawa sifat-sifat langit ke dalam dirinya, menumbuhkan keinginan untuk mendominasi alam. Antroposentrisme menjadi sebuah metode ideologis untuk mengendalikan semesta di bawah kehendaknya. Akal menjadi sebuah senjata utama untuk menundukkan bumi dalam kehendaknya. Bumi yang kini terpasung dalam kehendak antrposentrik manusia dipaksa untuk mengikuti alur kerja kehendak manusia.
Bumi bukanlah sekedar ibu yang diam, sesekali ia mengingatkan manusia atas ego antroposentris yang tak terkendali. Lautan menggenangi daratan, gunung memuntahkan muatan lava, gempa bumi mengguncang hidup manusia sebagai tanda pengingat atas ego antroposentris manusia yang acapkali tak terkendali.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (Qs. Ar-Ruum [30]:41)
Dosen Program Magister Hukum
Universitas Al Azhar Indonesia
