Kesehatan Mental Fondasi Membangun Ketahanan Keluarga
Pembahasan tentang kesehatan mental menjadi hal yang sangat menarik bagi saya. Seseorang yang sehat secara mental akan mampu menyadari potensinya dan dapat bermanfaat bagi sesama manusia. Menurut WHO, kesehatan mental adalah kondisi di mana seseorang merasa sejahtera; menyadari kemampuannya; mampu mengelola stres, beradaptasi dengan baik, bekerja secara produktif; dan dapat berkontribusi untuk lingkungannya.
Kesehatan mental sendiri merupakan dasar yang penting bagi seseorang. Karena hal ini akan mempengaruhi bagaimana seseorang memandang dirinya, lingkungan dan bagaimana ia memahami lingkungan sekitar. Kesehatan mental mencakup kesejahteraan emosional, psikologis dan sosial manusia. Hal-hal ini akan membantu manusia untuk berpikir, merasa dan bertindak, serta menghadapi stres yang berhubungan dengan orang lain dan membuat keputusan yang tepat.
Sebaliknya seseorang dengan kondisi mental yang buruk atau mengalami gangguan kesehatan mental akan sulit mengendalikan emosi, stres, serta tidak dapat bepikir, merasa, bertindak dan membuat keputusan dengan tepat. Apalagi bagi keluarga yang memiliki masalah dengan perkawinannya, menghadapi himpitan ekonomi, hidup terpisah dengan suami/istri dan mengasuh bayi sendiri akan lebih berisiko mengalami depresi setelah perkawinan. Ibu/ayah dengan kepribadian tertutup, terisolasi secara sosial, dan tidak memiliki dukungan pasangan, teman, keluarga dekat atau tetangga juga lebih rentan. Maka dari itu kesehatan adalah mahkota yang dipakai orang sehat, tetapi hanya bisa dilihat oleh si sakit, betapa pentingnya bagi keluarga untuk menjaga kesehatan, tidak hanya kesehatan fisik anggota keluarganya, tetapi juga kesehatan mentalnya.
***
Kapasitas mental setiap orang berbeda. Sebagaian ibu pada generasi saat ini juga memiliki tantangan dan gaya hidup yang berbeda dengan para ibu pada beberapa generasi yang lalu. Setiap ibu juga memiliki cara sendiri dalam menyikapi kehidupan rumah tanggannya. Mencurahkan isi hati dan menceritakan unek-uneknya adalah salah satu mekanisme yang baik untuk melepaskan beban pikiran. Saat bercerita, sebagian dari mereka umumnya juga tak mengharapkan solusi atau bantuan, hanya cukup perlu didengar.
Sementara itu depresi setelah perkawinan juga kadangkala dirasakan oleh seorang ayah, segala kebutuhan rumah tangga meningkat, biaya belanja, sekolah anak dan lain sebagainnya dapat mempengaruhi kesehatan mental sang ayah. Namun berbeda dengan kakek nenek kita dulu yang mempunyai 7 anak bahkan lebih dengan penghasilan pas-pasan. Mengapa mereka bisa bertahan sementara sebagian suami istri sekarang tidak?
Pertanyaan yang selalu menggelitik dari ungkapan di atas adalah apakah orang tua dan kakek nenek kita bertahan dalam ketenangan jiwa (sakinah) atau sebaliknya? Apakah mereka punya kesadaran bahwa kebutuhan fisik, mental, sosial dan spiritual juga perlu terpenuhi dengan baik? Kesadaran inilah yang akan membedakan sebuah keluarga mesti bertahan karena suatu alasan.
Sebagaimana penjelasan dari Dr. Nur Rofi’ah, Bil. Uzm. (Dosen Pascasarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir PTIQ Jakarta) dalam konsep keluarga yang memposisikan istri sebagai konco wingking (teman di belakang). Ketahanan keluarga bagi istri adalah secara biologis tahan dan untuk terus menerus hamil, melahirkan, nifas dan menyusui dengan segala risiko komplikasi kesehatan reproduksi yang mungkin muncul. Suami tidak mengalami hal ini.
Sementara secara sosial (jamak di masyakat) istri juga mesti tahan untuk hamil dan sebagainya juga mengasuh anak-anak, yang mungkin masih kecil sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tak berkesudahaan dan terus bertambah dengan bertambahnya anak. Suami lagi-lagi secara sosial tidak dituntut untuk melakukan hal ini. Mereka hanya menjalankan kewajiban untuk kerja dan pulang bawa uang untuk menafkahi keluarga yang juga bagi suami tidak mudah.
***
Terbayang dengan orang zaman dahulu, waktu (saya) kecil banyak keluarga di kampung dalam kondisi mengenaskan; anak banyak, masih kecil-kecil dan terus bertambah, sementara istri mulai sakit-sakitan, padahal suami tidak punya penghasilan tetap. Mereka tidak tahu dan tidak punya akses pada alat kontrasepsi dan sumber ekonomi yang baik. KDRT dalam beragam bentuknya kerap kali mewarnai keluarga seperti ini, termasuk penelantaran nafkah keluarga oleh suami yang merantau dan tak kembali. Mereka kerap juga dinilai sebagai keluarga yang mampu bertahan karena hingga akhir hayat tidak pernah bercerai.
Tentu mental orang tua dan kakek nenek kita yang benar-benar mampu mempertahankan keluarga sesulit apapun adalah teladan berharga. Tetapi penting bagi kita untuk memastikan agar keluarga mampu bertahan dalam kondisi terbaik untuk semua pihak yang sama-sama mengikhtiarkan; baik suami dan istri, tokoh dan anggota masyarakat, adat, tokoh dan umat beragama, bahkan penyelenggara dan warganegara.
Ketahanan keluarga bukanlah tahan untuk diperlakukan zalim oleh pihak lainnya demi nama baik keluarga; melainkan semua pihak tahan untuk saling memperlakukan secara bermartabat (muqsyarah bil ma’ruf) demi ketenangan jiwa (sakinah) mereka semua tanpa kecuali. Keluarga seperti ini meniscayakan cara pandang yang memposisikan suami dan istri sebagai pasangan (zawaj) yang setara sebagai subjek penuh sistem perkawinan.
Editor: Martina Mulia Dewi
