f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mengingat mati

Sebuah Rasa Takut pada Kematian

Tempo hari, dari bilik notifikasi muncul sepuluh pesan baru belum terbaca di WhatsApp yang dikirim salah seorang kawan. Setelah sebuah pesan, Zak. Aku mau cerita, tapi jangan ketawain aku.

Sehabis merampungkan satu dua pekerjaan, saya segera membuka pesan yang sepertinya genting tersebut. Dan ternyata mak jeder!, bukan suatu yang mengherankan, tapi bukan suatu yang bercanda pula, ia menuliskan rasa gelisah serta takutnya akan kematian yang terus menerus mengusiknya selama bertahun-tahun, bagaimana kecemasan akan berakhirnya kehidupan di dunia dengan dunia baru setelahnya.

Dalam beberapa kali tukar balas pesan, ia menuntaskan cerita sekaligus memintal benang kesimpulannya sendiri. Selanjutnya kami tak lagi berbicara hal tersebut. Meski saya yakin, perasaannya tersebut belum tentu usai juga saya yang terus terngiang masih berkemelut.

Dan semoga Allah senantiasa menjaga rasa dan momentum dzikrul maut ini sebagai sarana melembutkan hati, memperbanyak istighfar dan keinsyafan diri sendiri. Bukan layaknya, tamu yang datang hanya satu dua kali.

Perjalanan Mengingat Kematian

Di kehidupan ini, tak jarang muncul banyak rasa khawatir hingga takut pada banyak hal. Ketika kecil, kita kerap menangisi waktu di mana ditinggalkan banyak orang dan merasa sendiri, hingga teringat cerita-cerita hantu dan horor di kegelapan.

Menginjak dewasa, hal tersebut berkembang jauh lebih rumit, muncul kecemasan akan masa depan, hendak jadi apa kelak, takut untuk hidup tidak semenyenangkan saat ini, akan jadi apa di masa depan, dan lain-lain.

Padahal perkara tersebut merupakan suatu yang belum pasti datangnya. Lantas, bagaimana kita masih dapat abai pada kepastian yang tak mampu lari darinya? Sedangkan setiap yang berjiwa pasti akan menemui ajalnya?

Perasaan takut mati yang kerap datang, sebelumnya mesti didefinisikan sebabnya. Apakah merasa timbangan amal masih sedikit? Tak terbayangkan tentang rasanya sakaratul maut, berada dalam alam kubur, dibangkitkan sendirian di Mahsyar lalu ditimbang seadil-adilnya amal perbuatan, sebagaimana rentetan peristiwa yang sudah kita hafal betul sejak bangku sekolah dasar, atau jangan-jangan dari lubuk hati teridap pula penyakit al-Wahn tanpa disadari, terlampau mencintai dunia dan takut mati.

Baca Juga  Ekofeminisme, Alternatif Penyelamatan Lingkungan
Hakikat Mengingat Kematian

Buya Hamka, dengan kalam hikmahnya dalam Tasawuf Modern, salah satu buku dalam tetralogi mutiara falsafah beliau, menuliskan di antara sebab orang takut menghadapi kematian; yakni diri yang tak memahami hakikat kematian; tiada menginsafi kemana hendak pergi sesudah mati; takut akan siksa di kubur hingga neraka atas dosa yang diperbuat; juga perasaan takut, lebih tepatnya sekedar sedih hati dan enggan untuk meninggalkan anak serta hartanya.

Kemudian dibagilah keadaan manusia dalam mengingat mati menjadi tiga, ada orang yang sama sekali lupa dan abai, hingga tak mengerti hakikat mati, hingga ia sendiri yang menemuinnya. Ada yang senantiasa takut saja mengingat kematian itu sendiri dengan cemas atau gemetar sebab datangnya tak pernah mengingat umur, waktu serta keadaan. Terakhir, adalah orang yang mengingatnya dengan akal budi dan hikmah, guna mengumpulkan sebanyak-banyak bekal jika malaikat maut datang tiba-tiba.

Golongan ketiga itulah sejalan dengan  hadis yang dikisahkan Ibnu Umar, di mana Rasulullah Saw bersabda; bahwa orang mukmin yang paling utama adalah yang paling baik akhlaknya. Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang berakal.

Penggunaan kata takut mati, akan lebih baik dan indah jika diganti dengan mengingat mati, atau dzikrul maut. Sebagai seorang yang mengimani adanya kehidupan setelah dunia, Allah senantiasa mengingatkan kita untuk tiada takut dan bersedih hati. Kematian dunia sesungguhnya hanyalah kematian jasad, untuk selanjutnya melanjutkan hidup di alam akhirat sesuai ganjaran perbuatan sebelumnya.

Perkara mengingat kematian, maka harus dikonversi untuk menghidupkan muhasabah serta spirit meningkatkan amal selama di dunia. Mencegah kematian yang lebih dini: kematian iradat dan tabiat, kematian qalb dan akal oleh nafsu serta kebodohan, hingga matinya kemanusiaan!

Baca Juga  Sampah Parasit bagi Manusia

Allahummaj’al al-hayata ziyadatan lana fi kulli khair, waj’al al-mauta raahatan lana min kulli syarrin.

Bagikan
Post a Comment