Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Generasi Strawberry
Istilah strawberry generation muncul dari negara Taiwan. Istilah ini ditunjukkan pada sebagian generasi baru yang lunak seperti buah strawberry. Pemilihan buah strawberry untuk penyebutan generasi baru ini karena buah strawberry tampak indah dan eksotis, tetapi jika dipijak atau ditekan ia akan mudah sekali hancur. Menurut Prof. Rhenald Kasali, strawberry generation merupakan generasi yang penuh dengan gagasan namun mudah menyerah dan mudah sakit hati.
Karakter Strawberry Generation
Karakter merupakan perpaduan antara moral, etika, dan akhlak. Moral lebih menitik beratkan pada kualitas perbuatan, tindakan atau perilaku manusia. Sedangkan etika merupakan penilaian tentang baik dan buruk berdasarkan norma-norma yang berlaku dalam Masyarakat tertentu. Sedangkan akhlak lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri manusia lebih tertanam keyakinan di mana keduanya (baik dan buruk) itu ada (Siregar, 2023).
Karakteristik yang tertanam pada anak tentunya memiliki faktor yang mempengaruhi, salah satunya orang tua. Orang tua merupakan tempat pertama anak belajar dan memperoleh berbagai macam informasi termasuk dalam membentuk karakternya. Generasi yang ada saat ini merupakan agen yang diharapkan membawa perubahan yang lebih baik ke depannya. Generasi muda seharusnya memiliki karakter yang kuat guna membangun bangsa dan negara. Maka dari itu diperlukan generasi yang memiliki karakter seperti kreatif, inovatif, edukatif, memiliki jiwa saing tinggi, semangat nasionalisme, dan memiliki kepribadian yang mumpuni. Namun pada kenyataannya generasi ini sangat jauh dari karakter-karakter tersebut. Generasi saat ini memiliki mentalitas yang sangat rapuh dan ketahanan fisik yang lemah.
Pada era generasi strawberry yang cenderung memiliki mental dan kekuatan fisik yang lemah dan rapuh bahkan hancur jika dipijak dipengaruhi beberapa faktor. Salah satu faktornya yaitu pola asuh dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Kecenderungan orang tua dalam membesarkan anaknya dengan kehidupan yang Sejahtera membuat mereka dengan mudah memanjakan anaknya. Selain itu, orang tua juga memiliki kekhawatiran dan larangan yang berlebih yang membuat anak tumbuh sebagai penakut. Ketidak tepatan pola asuh orang tua berpotensi mengembangkan anak sebagai individu yang lemah baik secara fisik maupun mental.
Mirisnya melihat kondisi generasi strawberry sebagai generasi penerus namun sangatlah bobrok. Permasalahan degradasi moral dan mulai runtuhnya karakter anak semakin terasa akhir-akhir ini. Mulai dari hal kecil yang dilakukan sampai hal yang bersinggungan dengan norma susila dan sosial di masyarakat. Berbagai perilaku generasi strawberry yang melanggar norma tersebut semakin memprihatinkan ketika justru dilakukan kepada orang yang lebih tua. Orang yang lebih muda menghormati yang lebih tua dan yang lebih tua menyayangi yang lebih muda. Namun kenyataannya dalam Masyarakat tidak begitu. Kedudukan orang yang lebih tua menjadi terhinakan oleh perilaku-perilaku yang keluar dari tata aturan dan norma-norma yang berlaku.
Sekolah formal saja tidak cukup untuk membenahi karakter yang ada di generasi strawberry sekarang ini. Pola asuh orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Baik dari segi negatif maupun segi positif. Pengaruh tersebut dikarenakan anak merupakan peniru yang andal. Semua yang didengar, dilihat, dan dirasakan akan mempengaruhi pola pikir dan perilakunya. Pola asuh merupakan suatu bentuk interaksi antara orang tua kepada anak dalam mendidik, membimbing, dan memberikan perlindungan agar anak mampu berinteraksi di masyarakat dan bisa bersikap mandiri.
Munculnya generasi yang rapuh saat ini tidak terlepas dari kurangnya perhatian orang tua dalam menanamkan karakter yang berguna untuk anaknya dalam menghadapi kehidupan sehingga terlahirlah generasi yang lemah baik secara mental maupun fisik. Tidak hanya tugas ibu sebagai madrasah pertama, namun tugas dan peran ayah sangatlah penting juga dalam mendidik anak. Seorang ayah dalam mendidik generasi strawberry bisa sebagai pendengar, mempunyai sikap toleransi dan demokrasi, dan mampu berdialog dengan baik (Fadli, 2023). Selain itu, ayah juga harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi dalam mendidik anak. Adapun karakter utama yang perlu ditanamkan kepada anak yaitu penanaman tauhid sejak dini, rasa percaya diri, dan kemandirian seorang anak.
Pergeseran pola pikir dan pola interaksi sesama manusia seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi pada era revolusi industri 5.0 telah memberikan kesadaran dan pemahaman akan arti penting adab yang baik dalam membentuk kepribadian yang kuat dan berkarakter positif. Kemajuan teknologi yang tidak dilandasi dengan fondasi keimanan dan moral yang baik, maka hanya akan menenggelamkan manusia pada samudera kehancuran. Generasi strawberry merupakan generasi yang lemah. Maka perlu antisipasi dengan melakukan terapi pendidikan agama untuk menjadi kuat secara fisik maupun kuat keimanannya dengan tetap memiliki akhlakul karimah meski berkecimpung di dunia modern yang kian hari semakin sekuler. Penguatan pendidikan karakter dengan cara menghidupkan nilai-nilai positif dalam kehidupan yang dipraktikkan dengan berbagai metode dan strategi harapannya mampu menjadi terobosan dalam menjawab tantangan revolusi industry 5.0.
Referensi
Fadli M., 2023, Pendidikan Karakter Generasi Strawberry: Mengambil Ibrah dari Kisah Ibrahim dan Ismail, Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 5 (6), 2300–2309.
Siregar A.P., 2023, Terapi Pola Asuh Islam Dalam Memperkuat Karakter Remaja Stroberi(Strawberry Generation), Al-Murabbi: Jurnal Pendidikan Islam, 1 (1), 48–64.
