Hiperealitas dan Komodifikasi Ramadan dari Perpektif Jean Baudrillard
Bulan Ramadan tahun ini umat muslim terlihat adaptif dalam melakukan ibadah puasa, ketimbang Ramadan tahun lalu. Jika kita mengingat Ramadan tahun lalu umat muslim dalam menjalankan ibadah penuh dengan kekhawatiran. Sebab, pandemi virus Corona. Alhasil masjid-masjid yang biasanya ramai pada sore menjelang maghrib untuk menyambut waktu berbuka puasa mendadak sepi. Selepas waktu isya umat muslim yang biasanya berbondong-bondong mendatangi masjid untuk salat tarawih berjamaah mendadak tiada.
Kegiatan ibadah spiritual saat bulan Ramadan yang memungkinkan mendatangkan orang banyak sangat kita hindari. Suatu siasat untuk tidak terjangkit virus Corona, mereka melakukan ibadah puasa dan salat tarawih dengan banyak berdiam diri di rumah masing masing dengan tetap kiat menjalankan protokol kesehatan.
Pada tahun ini, umat Islam sepertinya rindu untuk melewati Ramadan dengan normal seperti masa-masa sebelum datangnya pandemi corona. Membangunkan sahur di lingkungan komplek, berburu takjil untuk menu berbuka puasa, melepas puasa seharian dengan buka puasa bersama rekan-rekan, salat tarawih berjamaah, dan kegiatan serupa lainya.
Dan kali ini, persis saat selepas waktu isya umat muslim sudah kembali melakukan salat tarawih berjamaah. Pedagang takjil juga mulai terlihat untuk menjajakan makanan dan minumanya sembari menunggu setiap orang yang sedang ngabuburit sore hari menghampiri untuk membeli dagangannya. Tentunya itu semua tetap di bawah kesadaran untuk melakukan protokol kesehatan dalam hidup bersamaan dengan pandemi corona.
Hiperealitas dan Komodifikasi Ramadan
Ada cara unik bagi umat muslim khususnya di Indonesia untuk mengetahui kalau dalam waktu dekat akan segera memasuki bulan Ramadan. Yaitu, dengan adanya iklan sirup yang tayang di televisi. Penawaran berbagai macam produk di televisi saat menjelang dan berlangsungnya Ramadan secara kuantitas memang melonjak. Seperti mengajak penonton untuk berbelanja macam macam produk dalam momen satu tahun sekali, yaitu saat bulan Ramadan. Contoh lainnya, dalam program acara televisi.
Banyak stasiun televisi sudah mempersiapkan program acara yang spesial untuk ditayangkan di bulan Ramadan. Seperti program tausiah atau kultum, reality show dan berbagai macam lainnya, dengan penempatan waktu pada waktu siang hari, sore hari menjelang berbuka, bahkan waktu dini hari saat santap sahur. Industri media dalam hal ini televisi mampu memanfaatkan jam yang sebelumnya sepi penonton menjadi ramai penonton dengan rating yang setidaknya lumayan memuaskan.
Tidak hanya televisi, marketplace online dengan cepat mampu menjajakan produk khusus spesial Ramadan, seperti mukenah, sarung, peci, pakaian lebaran, hingga produk-produk elektronik dengan promo atau harga spesial Ramadan. Semua produk yang meminjam “Ramadan” sebagai strategi penjualan untuk mendatangkan pembeli dan laba.
Peristiwa ini nampaknya menjadi semacam ajakan untuk melakukan belanja saat bulan Ramadan selain ibadah utama yaitu berpuasa. Fenomena ini menurut sosiolog postmodern asal Prancis Jean Baudrillard merupakan dunia simulakra. Realitas saat industri kapital “memanfaatkan” Ramadan sebagai komodifikasi dalam menawarkan produknya.
Ramadan: Ibadah dan Budaya Konsumtif
Selain menjalankan ibadah wajib puasa, dan salat sunah tarawih selama satu bulan penuh, sebagai perjalanan sprititual. Mungkin ada sebagian dari kita yang perlu untuk membeli pakaian baru di saat menjelang lebaran. Bahkan hingga menjadi rutinitas tahunan. Atau membeli macam-macam produk saat datangnya bulan Ramadan. Secara bersamaan produk yang telah kita beli sebenarnya jauh dari kebutuhan pokok atau utama sepanjang bulan Ramadan.
Rutinitas konsumtif itu sudah menjadi hal yang fundamental dalam lingkungan sosial kita. Keadaan di mana individu atau perilaku sosial menjadi sangat konsumtif disebut oleh Jean Baudrillard sebagai Mode of Consumtif. Hal ini hadir bukan tanpa pangkal, namun akibat dari upaya industri komoditi yang menjadikan setiap individu sebagai objek sasaran, melalui berbagai macam platform, seperti: televisi dan marketplace online. Dalam artian, Jean Baurdilar bukan semata menyalahkan tindakan konsumtif. Akan tetapi mencoba menguak. Bahwa tindakan konsumsi oleh individu bergeser dari yang semula berdasarkan kebutuhan menjadi tindakan yang berdasarkan keinginan bahkan sekedar mengikuti gaya hidup yang tiada akhir.
Dalam karya adiluhungnya Simulacra and Simulacrum (1989), Jean Baudrillard dengan sangat futuristik mengajak kepada kita untuk memahami karakter kehidupan kontemporer. Baginya kehidupan sosial adalah hasil dari praktik konstruksi simulakra atau simulasi. Simulakra adalah kumpulan rekonstruksi atas realita. Dan dalam hal budaya konsumtif, simulakra menjelma menjadi sekumpulan tanda dan simbol yang disimulasi secara terstruktur hingga tersaji dengan bentuk komoditi yang dipasarkan dengan visualisasi yang menarik melalui platform televisi dan marketplace onlline yang mempunyai karakter live time dan everytime.
Pada konsteks perspektif masyarakat yang konsumtif, Jean Baudrillard juga memandang adanya ikatan yang sangat kuat antara masyarakat dan media, yang selanjutnya disebut Mediascape. Di mana media menjadi aktor utama dalam mengkonstruksi simulasi komoditi kepada setiap individu agar ekonomi atau kapital tercipta melalui ekosistem konsumtif oleh setiap individu.
Menempuh Pendidikan sarjana di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan pilihan program studi Ilmu Komunikasi dengan minat studi kajian media and cultural studies serta komunikasi politik. Sekarang menempuh Pendidikan magister program studi ilmu pemerintahan di Jusuf Kalla School of Government, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Selain itu, aktif di organisasi otonom Muhammadiyah: DPD IMM Lampung sebagai sekretaris bidang Hikmah periode 2019-2021. Untuk menjumpainya bisa melalui media sosial: Setiawan Rendi(FB), @sr.rendi(IG). Bunga rampai tulisanny dapat dijumpai di blog pribadi: masrendii.blogspot.com
