f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
cermin wajah jodoh

Jodoh adalah Cermin Diri

Wajah bening bak artis/aktor Korea. Romantis, mapan dan setia. Memiliki pasangan seperti ini pasti dong bikin bangga. Sayangnya kriteria yang ideal belum tentu menjadi pasangan ideal.

Bisa jadi kriteria yang kita sangka ideal ternyata adalah konstruksi media sosial. Sihir dari konstruksi drama yang masyarakatnya berbeda kulturnya. Kita perlu hati-hati dengan apa yang sering kita lihat. Sebab perlahan bisa terinternalisasi dalam cara kita berselera. Kriteria kita menjadi sama dengan kriteria publik. Kriteria umum yang ujungnya justru tidak membuat bahagia.

Pasangan ideal menurut Islam dijelaskan haruslah sebagai orang yang baik agamanya. Baik agamanya berarti ia shalih secara pribadi dan sosial. Shalih saat sendiri ataupun di depan orang. Ini syarat utama. Selainnya terserah selera anda.

Tentu saja keshalihan bukan kriteria yang bisa dilihat dari pakaian berjubah, jenggot dan atribut fisikal. Shalih ditandai (akhlak) perilakunya baik pada Tuhan dan sesama makhlukNya.  Itulah kriteria yang baik untuk jadi pasangan ideal kita.

Akhlak itu penting karena pernikahan bukanlah drama. Bukan episode singkat semusim. Sudah pasti kriteria pasangan harus pas sepanjang waktu. Iya, tho?

Ibarat pakaian, pasangan kita harus sesuai di musim panas atau musim dingin. Hangat di musim dingin, menyejukkan di musim panas.  Pasangan ideal adalah pakaian yang memperindah dan menutup kekurangan kita.

###

Kriteria pasangan ideal juga ditentukan oleh sejauh mana kita mengenali diri kita. Tidak meng underestimate diri kita dan juga tidak kebesaran gaya. Siapa yang mengenal dirinya maka ia akan tahu sebab-sebab yang membuatnya bahagia.

Secara naluriah tiap orang punya kriteria pasangan yang berbeda. Pasangan yang dipilih berdasarkan naluri biasanya dialah pasangan ideal kita. Sesederhana itu. Itulah mengapa seorang pendiam biasanya jatuh hati pada sosok yang heboh dan ceria. Itulah mengapa perempuan judes tetap saja ada peminatnya. Judesnya konon justru mempesona. Hehe…

Biasanya sosok ideal itu orang yang kita butuhkan. Bukan yang kita inginkan. Alam bawah sadar kita bisa merasakan apa yang melengkapi kita. Ibarat tulang rusuk yang hilang bertemu pemiliknya. Klik. Chemistry langsung terasa.

Baca Juga  Siap Menikah? Periksa Dahulu 3 Hal Penting Ini Saat Taaruf
Rasulullah dan Khadijah

Saya mengira pasangan ideal itu adalah yang cantik/ganteng, yang mapan, yang sama dengan kriteria orang kebanyakan.  Tapi kenyataannya berapa banyak pasangan yang mapan, mempesona dan populer ternyata tak bisa terus bersama.

Apa gunanya ideal dalam pandangan masyarakat tetapi tidak membuat kita bahagia? Sebaliknya meski tidak ideal apa salahnya jika bisa langgeng bersama. Lihatlah jarak usia Ibunda Khadijah dan Pemuda Muhammad. Bisakah disebut ideal?

Kala menikah, usia Khadijah ra 40 tahun dan  Muhammad Saw 25 tahun. Tidak hanya berbeda usia tapi juga beda status. Khadijah ra pernah menikah. Beliau juga telah memiliki keturunan dari pernikahan sebelumnya. Khadijah ra seorang pemilik modal sementara pemuda Muhammad pedagang pemula. Kemapanan ekonominya berbeda.

Sejarah mencatat keduanya adalah pasangan legendaris harmonis. Ketika ditanya apakah Khadijah ra bahagia bersama Rasulallah saw. Beliau menjawab bahwa ia tak pernah memikirkan kebahagiaannya tapi bagaimana suaminya bisa ia bahagiakan. Ia mendampingi perjuangan Muhammad Saw sepanjang sisa usianya.

Khadijah ra telah sampai pada hirarki tertinggi pada puncak kebutuhan Abraham Maslow. Bukan mencari bahagia tapi memberi bahagia. Itulah eksistensinya.

Rasulullah saw selalu menjadikannya cinta pertama. Tak tergantikan. Cinta yang begitu mendalam. Setelah wafatnya pun Khadijah ra masih mampu menjadikan Aisyah ra nan jelita cemburu buta. Artinya kriteria pasangan ideal bagi Rasulallah saw bukanlah tentang kriteria fisikal.

Ya bagi kita sih boleh saja menetapkan kriteria pasangan ideal berdasar bentuk fisik. Bukankah seseorang boleh dinikahi karena kecantikannya, kekayaannya, kemuliaan nasab/keturunannya?  Tapi seharusnya itu bukanlah kriteria utama.

Kriteria Fisik dan Kebutuhan Rasa Aman

Menurut Maslow, kebutuhan seseorang memiliki tingkatan. Kebutuhan mendasar bersifat fisikal dan primer. Sandang, pangan dan papan. Kebutuhan ini harus terpenuhi dulu sebelum yang lainnya. Jadi bukan matre kalau ada perempuan menginginkan pasangannya punya pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan.

Baca Juga  Keluarga dan Pendidikan Kekerasan Terhadap Anak

Jadi tidak salah menetapkan kriteria fisik, ya. Justru memang kebutuhan ini harus dipenuhi sebelum mencapai level kebutuhan selanjutnya. Jika dilompati bisa beresiko adanya ketidakstabilan. Sampai di sini paham kan kenapa selera remaja menyukai wajah bening? Menyukai cowok tajir. Ehem, namanya juga remaja.

Kebutuhan selanjutnya adalah level di mana ketika kebutuhan dasar terpenuhi maka orang beranjak mendamba rasa aman. Seorang yang sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya (fisik) akan mencari pasangan yang memberinya rasa aman/nyaman. Ada juga orang yang kriterianya mencari pasangan yang bisa memberi kasih sayang dan kesetiaan. Namun ada yang menetapkan kriterianya adalah orang memiliki pencapaian status dan reputasi. Begitu seterusnya hingga ke level aktualisasi diri.

Pada tahap aktualisasi diri, kriterianya lebih pada kebutuhan untuk mengabdikan diri. Pernikahan ini lebih bernilai transenden. Itulah mengapa pernikahan poligami Rasullallah saw adem ayem. Pernikahan beliau untuk memberi banyak maslahat pada umat. Levelnya beda. Kita mencari empat wanita level kita memenuhi fisik/biologis semata. Rasulallah saw setiap pernikahannya membawa kemaslahatan terbesar untuk umat. Beda, Rahmania.

Jodoh adalah Cermin

Intinya makin banyak kriteria yang kita tetapkan untuk memilih pasangan, itu menunjukkan bahwa kebutuhan dasar kita banyak yang belum terpenuhi. Ya akhirnya kita repot sendiri menemukan orang yang sesuai. Kalaupun ada ternyata sudah ada yang punya.

Sebaliknya makin dewasa seseorang, caranya berselera jadi simpel. Orientasinya lebih untuk berkontribusi dan memberi. Ia telah melewati kepuasan pemenuhan tahapan-tahapan kebutuhan ala Abraham Maslow.

Tak heran jika kita melihat orang kaya seperti Mark Zuckerberg hidup sederhana dan memilih seorang istri yang sederhana pula. Marx bisa memilih artis atau mendapatkan perempuan dari kalangan milyader tapi ia tidak melakukan itu. Caranya menetapkan kriteria pasangan ideal mengindikasikan seberapa level kematangannya. Dan kedewasaan tidaklah tergantung usia.

Baca Juga  Ibu, Stimulan Pendidikan Toleransi Sejak Dini

Jadi macam apa kriteria pasangan yang ideal? Dia adalah seorang yang merupakan cerminan diri kita. Cermin itu sama persis dengan diri kita. Mungkin hobinya sama, selera terhadap makanan serupa, wajahnya mirip, dan ia sebenarnya dekat di sekitar kita.

Tapi jangan heran jika di balik kesamaan itu, sisi dirinya  sangat berkebalikan dengan kita. Kita ribut macam sirine, dia setenang danau. Dia karakter khas pemimpin khas koleris yang bersemangat. Kita tipe plegmatis yang mager dan rebahan.

Namanya juga cermin datar pasti bayangannya terbalik sisi kanan kirinya. Kalau cermin cembung ya nanti bayangannya menggelembung. Kalau cermin cekung bayangan kepalanya terbalik. Hehe…pastikan bercermin dengan benar ya. 

Bagikan
Comments
  • Nurnaningsih

    Keren Bun, betul itu semua tergantung dari pikiran kita, mdh2an saya bisa seperti bunda Siti Khadijah Ra istri Rasulullah, trs bercermin

    April 2, 2021
    • Wiji

      Terimakasih bunda Ning. Barokallah

      April 2, 2021
  • Solichen

    Barokallah bunda guru… Inspiratif banget

    Cermin ajaib ya seperti jodoh. Jodoh gitu juga seperti cermin…

    April 2, 2021
    • Wiji

      Terimakasih. Wafiik barokallah Ustaz.

      April 2, 2021
  • Nurnaningsih

    Keren Bun, sangat menginspirasi, mdh2an saya bisa seperti ibunda Siti Khadijah Ra istri Rasulullah, membahagiakan dan memuliakan org lain dan membuat suami bahagia

    April 2, 2021
  • Keren Ibu Wiji.. sukses selalu.
    Selamat sudah dapat sayembaranya

    April 2, 2021
    • Wiji

      Terimakasih pak Iqbal, Alhamdulillah bisa belajar menulis di rahma.

      April 2, 2021
  • Maria ulfa

    Menginspirasi bun..

    April 2, 2021
    • Wiji

      Terimakasih mbak Maria Ulfa.

      April 2, 2021
  • Hesti

    Menginspirasi bun…
    Pingin deh,bisa nulis seperti bunda wiji😍

    April 2, 2021
  • Lia

    Bacaannya ringan, tapi mengena di pikiran, sukses terus bu wiji

    April 2, 2021
    • Wiji

      Terima kasih mba. Salam kenal. Doa yang sama untuk mba Lia.

      April 3, 2021
  • Reisha

    Masya Alloh Tabarakalloh
    Sangat menginspirasi😊🙏

    April 2, 2021
  • Reisha

    Masya Alloh Tabarakalloh👍🥰

    April 2, 2021
    • Wiji

      Terimakasih mba. Salam kenal.

      April 3, 2021
  • Wiji

    Terimakasih bunda 🙂 saya sedang belajar juga

    April 3, 2021
  • Ika Lutfiana

    Kereen bunda Wiji..

    April 4, 2021
  • Ninik Mufidah

    Semakin berisi karya tulis Bu Wiji..salut and angkat topi tuk sahabat yg satu ini..selamat dan semangat terus tuk berkarya👍💪😘😘

    April 4, 2021
Post a Comment