f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
keresahan

Keresahan Ibu : Anak-Anak Back to School, Benarkah?

Oleh: Hayatul Mughiroh,M.Pd

Sejak membaca postingan teman di media sosial, saya mulai resah. Keresahan ini mewakili kaum ibu. Postingan itu merupakan edaran pengaktifan kembali anak-anak untuk sekolah. Artinya, anak anak akan belajar di sekolah sebagaimana biasanya.

Sebagai seorang ibu dua anak usia sekolah, tentu saya memiliki kekhawatiran. Kurva statistik covid-19 yang ditunjukkan sampai hari ini masih belum turun. Meskipun ada yang mengatakan mulai melandai, tetapi  belum ada informasi yang akurat. Bahkan di tempat kami tinggal, angka positif covid-19 masih bertambah. Dengan begitu, saya mencari informasi terkait tindak lanjut edaran dinas pendidikan tersebut. Selain kepada pihak sekolah, saya juga bertanya kepada teman yang berprofesi guru, dan yang bekerja di instansi terkait.

Surat Edaran Mendikbud No. 15 tahun 2020 telah diterbitkan yang berisi tentang pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah dalam masa darurat penyebaran covid-19. Ada dua puluh halaman dalam edaran itu yang terdiri dari tiga bab yakni tujuan, prinsip, metode dan media pelaksanaan belajar dari rumah; panduan belajar dari rumah; dan panduan kegiatan pembelajaran saat satuan kembali beroperasi.

Bab paling menarik dari edaran tersebut adalah panduan kegiatan pembelajaran saat satuan kembali beroperasi.  Tata laksana yang disampaikan mengatur bukan hanya dari pihak guru, murid saja tetapi sampai semua yang terlibat di sekolah termasuk orang tua. Bukan hanya protokol kesehatan pencegahan covid-19, tetapi juga memastikan bahwa sekolah mempunyai mekanisme komunikasi yang mudah dan lancar dengan orang tua/wali murid.

Derivasi dari edaran No 15 tahun 2020, ditindaklanjuti oleh edaran dari sebagian dinas pendidikan. Isi edarannya antara lain pengaktifan belajar tanggal 2 Juni, ujian semester, pembagian rapor dan satu poin yang menyampaikan bahwa ketentuan proses belajar mengajar masih menunggu petunjuk resmi dari Kemendikbud dan pemerintah setempat. Nah, artinya sekolah akan kembali beroperasi jika ada petunjuk resmi dari Kemendikbud. Di sinilah saya mulai sedikit nyaman karena belum tentu anak-anak akan sekolah dalam waktu dekat.

Baca Juga  Mengapa Anak Menjadi Nakal?

Selain edaran dinas pendidikan, tidak sedikit informasi dari beberapa media yang menyampaikan bahwa kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan secara daring sampai akhir tahun 2020. Saya meyakini, bahwa Kemendikbud sedang terus berupaya membuat formula belajar pada masa pandemi. Karena selain kepastian berakhirnya pandemi ini yang belum jelas, menjaga keselamatan siswa  jauh lebih penting.

Beberapa Negara Mengaktifkan Sekolah

Jika kita belajar dari negara lain, saat ini kurang lebih enam negara sudah membuka sekolahnya. Anak-anak kembali beraktivitas di sekolah. Tetapi mereka tetap tidak lupa mengambil langkah pencegahan penyebaran virus.

Sebagian sekolah di Norwegia, Jepang, Denmark, China dan Taiwan sudah aktif kembali. Mereka berani mengambil langkah untuk mengembalikan kegiatan belajar mengajar di sekolah, karena tingkat infeksinya telah menurun. Setiap negara berusaha mematuhi protokol kesehatan.  Sekolah di Denmark, Norwegia, dan Israil memberi jarak enam kaki antar meja siswa sesuai anjuran WHO.  Israil, tidak mengijinkan kontak fisik dengan teman sebayanya maupun pihak sekolah. Sementara di Jepang, Taiwan dan China, anggota staf sekolah akan memeriksa suhu anak setiap kali masuk sekolah. Lebih dari itu beberapa negara ini juga menyediakan cuci tangan, memberikan formulir kesehatan kepada orang tua untuk memastikan bahwa anaknya tidak sakit.

Beberapa negara telah memulai mengembalikan anak-anak ke sekolah, tetapi yang perlu digaris bawahi adalah bahwa negera-negara tersebut tingkat infeksi virusnya telah menurun. Sedangkan di Indonesia, sampai saat ini belum ada informasi akurat bahwa situasi virus ini kurvanya menurun. Namun demikian, bukan tidak mungkin kita untuk menyiapkan kebijakan sejak dini. Dengan kata lain, jika sekolah sudah siap kembali dibuka, maka kebijakan tinggal diaplikasikan.

Physical Distancing di Sekolah

Bagian penting kegiatan di sekolah adalah protokol kesehatan. Hal ini bukan hanya diberlakukan kepada guru dan murid di sekolah, tetapi orang tua pun harus andil dalam pencegahannya. Dan protokol kesehatan ini bukan hal yang sepele, karena tidak mudah mengajarkannya kepada anak-anak, terlebih anak-anak TK atau SD/sederajat. Berawal dari  sekolah menyediakan tempat cuci tangan di depan kelas masing masing sampai pada pemeriksaan suhu tubuh juga dilakukan, sebelum anak masuk sekolah. Mewajibkan anak-anak untuk bermasker dan tidak diperbolehkan saling pinjam alat tulis. Pertanyaannya adalah, sarana protokol kesehatan itu membutuhkan dana yang tidak sedikit, dari mana sekolah mengalokasikannya? Seperti edaran Kemendikbud yang sebelumnya disampaikan, bahwa BOS bisa digunakan untuk keperluan pencegahan Covid-19 di sekolah.

Baca Juga  Perempuan Pelayan Warung : Terpaksa Menjual Diri Demi Bertahan Hidup

Protokol kesehatan yang sulit dikendalikan adalah physical distancing. Menghimbau untuk mengurangi interaksi sosial antar siswa bukanlah hal yang mudah. Maka dari itu, perlu kiranya pemangku kebijakan pendidikan membuat formula untuk ini. Kita bisa membayangkan bagaimana guru akan terus berteriak kepada siswa setiap saat agar jaga jarak kepada temannya. Belum lagi jika menemukan sekolah yang siswanya ratusan sampai ribuan. Bisa jadi guru menjadi kewalahan dan justru menurunkan imun guru itu sendiri. Contoh kasus seperti ini yang kemudian perlu dibuat kebijakan khusus karena memang kita belajar dalam situasi yang lain dari biasanya.

Perlunya Kebijakan Khusus Saat Sekolah Diaktifkan

Apa kebijakan yang harus dibuat? Dinas pendidikan atau sekolah harus berani membuat  kebijakan taktis yang di-support oleh kementrian, dinas pendidikan maupun pemerintah setempat.  Salah satu cara agar sekolah bisa memberlakukan physical distancing adalah dengan memberlakukan setiap satu kelas di bagi dua sesi belajar. Saya mencontohkan seperti ini. Jika sebagiannya di sesi Senin, maka sebagian berikutnya di hari Selasa dan begitu seterusnya. Atau sebagian di pagi hari, dan sebagian mulai belajar di siang hari. Dengan demikian di dalam kelas yang biasanya ada siswa 30 atau lebih/kurang, maka hanya akan didapatkan sebagian siwa dalam satu sesi pembelajaran. Saya yakin para wakil kepala bagian kurikulum lebih terampil menyusun jadwal dengan mempertimbangkan pencegahan Covid-19 dan kondisinya masing-masing.

Jika dibuat kebijakan seperti di atas (bergantian dihari dan jam berbeda)? Saat tidak ke sekolah apakah diliburkan? Tentu tidak. Di saat sebagian siswa masuk sekolah, maka sebagian yang lain belajar secara daring di rumah. Sehingga physical distancing dapat terlaksana dan pembelajaran tetap berjalan. Seharinya digunakan guru untuk mengevaluasi, mempersiapkan KBM berikutnya. Tujuannya dalam pembelajaran daring, kontennya bukan hanya penugasan dari segi aspek kognitif saja, tetapi juga aspek lain.

Baca Juga  Masalah Pernikahan yang Berujung Perceraian

Semuanya harus dipersiapkan dengan matang dengan mempertimbangkan pergerakan infeksi covid-19 di Indonesia. Bukan hanya tata laksana di sekolah saja yang dipersiapkan, tetapi biaya operasional, desain jadwal dan SDM serta kesejahteraan guru mesti diperhatikan. Tentu hal ini dapat menguramgi keresahan orang tua terutama ibu. Dari beberapa negara yang telah mengembalikan anak belajar di sekolah, Perancis dan Finlandia justru menemukan kasus baru yakni guru dan murid terpapar covid 19. Siapkah Indonesia?

*) Penulis adalah Ibu Rumah Tangga dan Komisioner KPU Kabupaten Merangin

Bagikan
Comments
  • Afiya

    Mb haya tulisan nya keren jago nulis argumennya bagus

    Mei 28, 2020
  • Fedriani

    Saya sebagai guru SMA juga tidak setuju siswa belajar kembali ke sekolah.sementara kasus PDP covid 19 di Jambi blm ada info yg pasti bisa new normal / tdk.apa lag sebagai seorang ibu khawatir dg anak saya.

    Juni 1, 2020
Post a Comment