f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pernikahan dini

Sebab dan Akibat Pernikahan Dini

Pernikahan merupakan sesuatu hal yang sakral, yang menunjukan adanya suatu hubungan yang dekat, sangat erat, sangat akrab, amat mesra, lestari dan berlangsung seumur hidup. Menurut Aristoteles, segala sesuatu yang bernyawa, yang menurut kodratnya harus berpasang-pasangan, jika ingin berlangsung hidup maka harus berkoinonia. Sebagai contoh, jantan dan betina bagi hewan maupun tumbuhan, dan pria serta wanita bagi manusia harus bergabung dengan pasangan sesuai jenisnya, guna melanjutkan eksistensinya masing-masing. Maka perlu mempersiapkan bekal yang cukup.

Komunitas Nikah Muda

Namun kasus pernikahan yang terjadi dalam suatu masyarakat; tidak jarang kita temui banyak pernikahan terjadi karena keinginan yang menggebu-gebu sehingga kurang dalam mempersiapkan untuk bekal berumah tangga. Perlu persiapan secara mental maupun material, sehingga tujuan menikah yang dapat menghantarkan keluarga sakinah mawadah warahmah dapat dicapai.

Sayangnya penulis menemui beberapa komunitas yang hanya mengajak atau bahkan menantang anak muda secara ugal-ugalan untuk segera menikah, dengan dalih mencegah perbuatan zina. Hal tersebut mampu mendoktrin anak-anak muda berfantasi dan berimajinasi, terkait indahnya memadu kasih dan efeknya banyak terjadi pernikahan usia dini.

Sebenarnya, dakwah tersebut tidak sepenuhnya salah karena memiliki landasan untuk mencegah perbuatan zina yang marak di kalangan anak muda. Di sisi lain dengan dakwah yang hanya memasifkan ajakan untuk menikah tanpa bimbingan pengetahuan dalam pembekalan ilmu berumah tangga; ternyata dapat memunculkan suatu permasalahan baru. Seperti terjadinya pembodohan karena terputusnya sekolah, terjadinya kasus kekerasan dalam rumah tangga, kandungan rentan keguguran, rentan perceraian dan masih banyak lagi permasalahan yang dapat menimpa rumah tangga.

Kasus pernikahan dini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia; menurut Dana Kependudukan PBB  atau United Nations Fund for Population Activities – UNFPA; lima negara dengan kasus  tertinggi terjadi di negara-negara Afrika dan negara bagian Asia Selatan, seperti Nigeria, Chad, Malawi, Bangladesh, dan India.

Baca Juga  Pendidikan Pranikah : Perwujudan Masyarakat Beradab

Sedangkan menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, satu dari sembilan perempuan berusia 20-24 tahun sudah menikah sebelum mencapai usia 18 tahun. Dengan jumlah sekitar 1,2 juta kasus pernikahan dini yang terjadi telah memposisikan Indonesia pada urutan ke-8 dengan kasus pernikahan dini terbesar dunia.

Bukan Karena Kemiskinan

Pernikahan dini bukan hanya faktor kemiskinan, melainkan juga terkait dengan suatu geografis daerah tersebut. Sebut saja daerah kabupaten OKU Timur yang tidak lain adalah tempat kelahiran penulis. Jika membicarakan OKU Timur, merupakan salah satu kabupaten yang cukup kaya akan penghasilan alamnya. Komoditi dari OKU Timur adalah Padi dan karet.

Meskipun penduduknya rata-rata berprofesi sebagai petani, bukan berarti secara ekonomi masyarakatnya miskin-miskin. Kemudian inilah yang menjadi salah satu landasan adanya pernikahan dini di kabupaten OKU Timur; barangkali untuk daerah lain dalam ruang lingkup pedesaan kasus tersebut juga sama.

Pendapat penulis terkesan spekulatif karena tidak dikuatkan oleh data penelitian yang tertuang dalam jurnal-jurnal ilmiah. Namun secara real di lapangan kita mampu memahami, bahwa ini real yang terjadi dalam suatu masyarakat. Pernah suatu ketika penulis iseng-iseng bertanya terhadap teman sebaya, bertanya tidak hanya pada satu atau dua orang, melainkan beberapa.

“Mengapa tidak lanjut kuliah saja, bukankah kamu punya biaya untuk melanjutkan kuliah karena ditunjang oleh penghasilan karet dan sawah yang luas?.” Kemudian dijawab, “Mengapa harus kuliah, orang tua saya sudah mapan, kuliah hanya membuang-buang waktu saja, lebih baik menikah.”

Rendahnya Pendidikan dan Pengetahuan

Kasus-kasus tersebut saya rasa tidak hanya terjadi pada daerah di mana penulis tinggal, melainkan di beberapa daerah yang secara geografis jauh dari hiruk-pikuk, hingar-bingar dunia perkotaan, dan jauhnya tempat pendidikan seperti universitas. Kasus pernikahan dini juga karena rendahnya pendidikan dan pengetahuan orang tua dan anak. Sehingga dalam membuat suatu keputusan tergantung pada kematangan psikososial dampak dari tingkat pendidikan.

Baca Juga  Ketika Perempuan Nembung Lebih Dulu

Maraknya pernikahan dini di pedesaan biasanya berkaitan erat dengan tradisi dan budaya atau milieu. Stigma sosial terkait pernikahan setelah melewati masa pubertas seringkali menjadi aib pada kalangan tertentu.

Sedang pernikahan dini dalam ruang lingkup perkotaan secara general karena pergaluan bebas yang sudah membudaya dan kurangnya perhatian orang tua terhadap anak. Hal tersebut sudah tidak menjadi rahasia umum, kemerosotan moral anak bangsa dan kurangnya perhatian orang tua dalam mengayomi anak menjadi faktor yang sangat fundamental.

Dalam suatu kasus di beberapa pengadilan aama, tidak jarang kita menemui orang tua yang mengajukan dispensasi nikah untuk anak-anaknya. Rata-rata anak tersebut sudah melakukan persetubuhan tanpa pernikahan dan karena menanggung malu atas janin yang dikandung qobla pernikahan.

Berdasarkan hasil penelitian UNICEF di Indonesia, terdapat kasus pernikahan anak usia 15 tahun sekitar 11%. Sedangkan pada usia 18 tahun sekitar 35%. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 melaporkan bahwa 12,8% dari 6.341 perempuan usia 15-19 tahun sudah menikah; dan 59,2% dari 6.681 perempuan usia 20-24 tahun di antaranya sudah menikah.

Faktor Pendorong

Adapun permasalahan setelah terjadinya pernikahan dini terjadi karena faktor yang mendorongnya, sebut saja faktor pendidikan. Semakin dini usia menikah, maka semakin rendah pula tingkat pendidikan yang dicapai oleh anak.

Karena dengan menjadi suami-istri, artinya memiliki suatu tanggung jawab baru yang tentunya tidak hanya urusan dapur saja; melainkan lebih komplek sehingga tidak bisa melanjutkan urusan pendidikan. Di sisi lain masalah kesehatan reproduksi seringkali terjadi pada ibu muda; kehamilan kurang dari usia 17 tahun dapat meningkatkan resiko komplikasi medis. Kehamilan di usia muda memiliki benang merah dengan tingginya kematian bagi ibu maupun anak.

Baca Juga  Hak Anak Atas Pendidikan

Serta dalam urusan pergaulan suami-istri seringkali tidak harmonis, karena kurang matangnya usia, sehingga dalam menyelesaikan suatu konflik seringkali tidak menemukan kejelasan atau solusi.

Pernikahan dini memang memiliki  mashlahat, tapi mashlahat lebih kecil jika daripada dengan mudharatnya. Maka daripada itu sangat diperlukan suatu regulasi yang jelas dan solutif yang dibuat oleh pemerintah maupun organisasi-organisasi masyarakat dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat secara kolektif, supaya pernikahan dini dapat ditekan pertumbuhannya.

Bagikan
Post a Comment