Surat Untuk IMMawati
Kita bersua, saat krisis melanda bangsa, beranak pinak, sering dipelihara dan diternak negara. IMMawati, apakah kau pernah mengira, bahwa kita akan terdampar tepat pada pulau yang sama. Maha kuasa Tuhan, diciptakannya anak kecil yang besar suaranya, lantang tuturnya, pula bergerak kakinya membela kaum papah.
IMMawatiku yang cemerlang, kau telah menjadi bagian baik dalam hidupku, pula IMMawan lainnya. Berpapasan denganmu di rumah para intelektual ikatan ini. Kau yang bersamaku membicarakan tentang ; teori Simon de Behavoir, kisah perlawanan Emma Goldman, tabiat Fatimah Azzahra, pula seabrek buku yang kita kulak di awal bulan.
Kita adalah manusia kecil yang meneguk kopi di angkringan sederhana, pada bapak angkringan yang sudah renta. Sambil menertawakan tingkah lucu pejabat. Mereka seperti lumba-lumba dikebun binatang, suka atraksi seperti kera. Biarpun satu pisang digenggamnya, pisang lainpun ingin diraih juga. Kadang pula mereka bertengkar sesama, demi kedudukan belaka, saling memukul, menghina, mengejek. Serupa pertengkaran kucing dan tikus di film animasi anak kecil.
Apakah kau dengar berita terakhir, tentang Omnibus Law itu. Sangat lucu bukan? ternyata bukan saja cinta yang kerap kandas, nasib buruh seringpula demikian, kandas, atau dikandaskan. Humor itu diperagakan para pejabat lumba-lumba itu. Tanpa rasa malu.
Teruslah Bergerak Untuk Menembus Realitas
Adakah yang lebih romantis dari pertemuan kita di jalan? sesaat setelah panggilan demonstrasi menggema dari grup WA. Kemudian kita memegang poster berisi protes sambil menyanyikan simponi darah juang yang menggetarkan itu. Waktu itu, tapak kaki kita melangkah, sambil membayangkan bahwa oligarki yang mencengkeram itu segera mendapatkan keruntuhannya, jatuh sepenuh-penuhnya.
Kita paham, kemelaratan sosial yang tercipta ialah akibat dari segelintir kelompok dalam negara yang memonopoli kekuasaan dan kekayaan. Atas nama kesejahteraan, mereka justu melemparkan kita pada jurang kemiskinan dan ketimpangan.
Tidak ada suasana paling mengharukan, kala kita turun ke rumah-rumah rakyat, mengetuk pintu, bertanya tentang masalah-masalahnya; mereka yang dihimpit kemiskinan, menyaksikannya dikalahkan struktur dan sistem bentukan negara. Biarpun senyumannya tetap mekar, batinnya sesak oleh janji yang tidak pernah tunai. Mereka itu sebetulnya adalah korban dari negara yang abai.
Sebenarnya tidak ada momen paling membosankan dari duduk pasif di ruang kelas kampus. Sambil menyaksikan dosen menggelar teori-teorinya. Sebuah konsep yang terpisah dari kenyataan, alih-alih membicarakan kemiskinan. Mereka lebih suka menjual buku dalam kelas. Serupa khutbah jumat, mereka berbicara searah semata, acap tak memberi kita kesempatan untuk menawarkan pikiran.
Inilah dia bangsa kita. Tempat di mana kemerdekaan adalah slogan belaka dan kesejahteraan hanya meme lucu siang bolong. Negara ini, bak tempat “prostitusi”. Sebuah kamar perselingkuhan nista pejabat dan juragan. Menghasilkan “anak haram,” berupa oligarki, produk hukum yang timpang, pula kebijakan yang salah kaprah.
Tetaplah Menjadi yang Terbaik
IMMawatiku, Di hari-hari mendatang mata kita mesti kian tekun mengamati. Telinga mesti lebih rajin mendengarkan dan kaki kita harus lebih sering menyusur kehidupan manusia tepat di jantung persoalannya. Bukankah demi itu kita menimba pengetahuan. Kita tahu, ilmu bukan demi pintar belaka, melainkan pula adalah perangkat membela kaum miskin, buruh, dan orang-orang tertindas.
Jangan menyerah, biarpun masalah sosial kian menambah, semangat kita mesti berlipat ganda. Kita mesti terus merawat dan melahirkan intelektual baru; merekalah yang berani menginterupsi negara dan menjelaskan keberpihakannya. Maka dari itu, regenerasi harus terus berjalan, mengalir aktif, itulah mengapa kita terus memerlukan DAD, biarpun sering melelahkan.
Menjalankan roda organisasi memang sering meletihkan, kadang kita didera permasalahan kader hilang, mati langkah gerakan, pula masalah lainnya. Tetapi tetaplah bersabar, jalani penuh komitmen dan konsisten. Memang hidup ini sering melulu tentang individu. Tetapi barangkali sebagai monumen sejarah, kita harus memberikan karya paling baik untuk kemanusiaan sebelum akhirnya mati dipapah orang miskin.
Pesan Untuk IMMawatiku
Dalam interaksi di ikatan ini, jangan lunglai dan kalah dari IMMawan. Sebagian mereka acap kali hanya bersuara besar belaka. Kau harus memastikan bahwa kehadiranmu, pula perempuan lainnya tetap dihargai sebagai keberadaan yang berperan. Terapkan semangat fastabiqul Khairot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Tidak ada yang membedakan antara IMMawan dan IMMawati semua dapar berperan dalam roda ikatan. Jangan merasa rendah, tentu saja jangan merendahkan. baik IMMawan maupun IMMawati sama dan setara dalam ikatan. Demikian itulah sebetulnya realisasi dari pelajaran kesetaraan gender yang acap kita bedah dibanyak forum dialektika.
Jangan malas membaca, juga berdiskusi. Akal kita harus terus diberi santapan biar tidak lapar, pula harus sering dilatih dengan perdebatan. Bacalah buku, mungkin tentang agama, humaniora, sastra atau buku lainnya. Jangan suka main aman atau diredam perasaan malu-malu, memendam pikiran dalam otak belaka, tak dihamparkan ke forum dialog. Sesering mungkin, bahkan kau mesti mencatat sesuatu, menulis, dan menyebarnya di media-media.
Jangan tertipu dengan program-program nikah muda. Sebisa mungkin isilah waktu yang singkat ini untuk berdedikasi dan berkontribusi. Tunjukkan bahwa IMMawati adalah sosok perempuan hebat. Budaya untuk segera menikah tersebar banyak di masyarakat kita, namun IMMawati bisa memilih dan menentukan pilihannya sedniri. Pun biar pernikahan sudah kau tempuh, jangan berhenti berperan untuk hajat hidup orang banyak. Pernikahan tak menjadi halangan IMMawati untuk terus berkiprah bukan?
IMMawatiku, kuliahlah semaksimal mungkin di jurusanmu masing-masing. Kelak tetaplah jadi cerdik pandai yang tetap berpihak pada masyarakat, menemani kesepian mereka. Semoga demikianlah upayamu untuk terus membesarkan perjuangan. Dan, bila saatnya pada masa tua kita bertemu lagi, kita akan berbicara masa muda yang heroik. Suatu masa yang kita isi dengan pengabdian yang penuh kepada orang banyak, bukan melulu kepentingan individu semata. (Editor : Vika)

Ketua Umum DPD IMM DIY, Pendiri Organisasi Himpunan Pelajar Kritis-Gowa, pendiri Organisasi Pemuda Tabbinjai Berkarya, Kepala Madrasah Digital Yoyakarta, penulis buku “Meretas Jalan Pemikiran (Sebuah Pengilmuan IMM)”, penulis dalam buku “Mempersatukan Indonesia”

Rosalinda Lenama
The best