f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
fitnah perempuan

Perempuan Adalah Khalifah, Bukan Sumber Fitnah (2)

Quraish Shihab dalam Tafsir Mishbahnya menginterpretasikan QS. Ali ‘Imran ayat 14 dengan cara pandang yang lebih berkeadilan. Bahwa manusia secara naluriah memandang indah kecintaan kepada syahwat yakni hal-hal yang bersifat fisik biologis, seperti lawan jenis (laki-laki dan perempuan), keturunan (istilah banin: anak laki-laki dan termasuk anak perempuan), emas perak, kendaraan dan lainnya. Keindahan itu tidak bersifat hakiki karena akan hilang seiring berlalunya waktu.

Tafsir Mubadalah tentang Posisi Laki-Laki dan Perempuan

Dalam pandangan tafsir dan metode Mubadalah, akan selalu melihat dan memposisikan laki-laki dan perempuan sebagai subjek yang sama dalam konsepsi fitnah. Keduanya bisa menjadi pelaku dan bisa menjadi korban. Pada beberapa ungkapan Al Qur’an istilah fitnah memiliki makna “timbal balik” antara dua belah pihak. Misalnya, orang kafir adalah fitnah bagi orang mukmin (QS. Al Buruj: 10), orang mukmin adalah fitnah bagi orang kafir (QS. Al-Mumtahanah: 5), kebaikan adalah fitnah, begitupula dengan keburukan (QS. Al Anbiya: 35) dan setiap orang adalah fitnah bagi yang lain, atau sebagian orang atas sebagian yang lain (QS. Al Furqan: 20).

Menurut Faqihuddin Abdul Qadir dalam bukunya Qira’ah Mubadalah, stigma fitnah yang hanya dilekatkan pada perempuan akan sangat jauh sekali dengan ungkapan fitnah dalam Al Qur’an yang bersikap relasional. Dengan demikian teks-teks hadis yang memandang perempuan sebagai sumber fitnah harus dimaknai secara mubadalah agar sejalan dengan cara pandang relasional ayat-ayat Qur’an tentang fitnah. Pesan utama agama yang didasarkan pada fitnah perempuan adalah pentingnya kewasapadaan kita terhadap potensi keburukan dari manusia bahkan segala sesuatu.

Menyoal perempuan sebagai sumber fitnah, ternyata laki-laki juga bisa menjadi sumber fitnah. Dikisahkan dalam kitab Rasail al Jahizh khalifah Umar bin Khattab pernah mengisolasi Nashr bin Hajjaj seorang pemuda tampan ke Bashrah, Irak lantaran ketampannanya membuat para perempuan tergila-gila. Ternyata masih saja ia digandrungi banyak perempuan karena sangat tampan. Kemudian sang Gubernur mengusir pemuda tersebut ke Persia. Dan tetap saja pesona ketampanan pemuda tersebut dipuja-puja para perempuan. (Fahmina, Fitnah Laki-laki)

Jadi, fitnah perempuan bukan sedang membangun keburukan perempuan sebagaimana fitnah laki-laki bukan sedang membangun keburukannya. Tetapi sebagai anjuran agar berwaspada terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk yang berasal dari seseorang dan sesuatu

Memahami Fitnah Secara Proporsional

Penulis ingin menyitir pandangan Majdah Amir seorang ulama perempuan Mesir tentang QS. An Nur ayat 30 yang masih berkaitan dengan pesona fitnah manusia. Menurut Majdah Amir dalam bukunya (Fiqih Wanita: Segala Hal Tentang Perempuan Tentang Hukum Islam), ia menjelaskan bahwa pesan utama QS. An Nur ayat 30 adalah pentingnya kesantunan laki-laki dalam : mengontrol cara pandang, perintah ini ditujukan untuk keduanya baik laki-laki maupun perempuan. Laki-laki diwajibkan menutup tubuh mereka untuk menahan seseorang dari segala bentuk sikap yang menjurus pada hasrat seksual. Laki-laki juga dilarang menggunakan pakaian yang bisa menggoda perempuan. Lebih jauh lagi, laki-laki dilarang bertindak atau berbicara dengan cara-cara yang bisa menggoda perempuan.

Dari berbagai perspektif di atas, maka cara pandang timbal balik ini akan melahirkan pembacaan baru dalam memahami makna fitnah secara proporsional. Pesona fitnah ternyata tidak hanya melekat pada perempuan bagi laki-laki bahkan bisa datang dari segala sesuatu yang ada di atas bumi. Sebagaimana di dalam kehidupan ini, kondisi sehat adalah fitnah (ujian) bagi yang sakit juga sebaliknya. Orang kaya adalah fitnah bagi orang miskin. Pemimpin Negara adalah fitnah bagi rakyatnya juga sebaliknya.

Keberadaan ayat-ayat relasional yang digunakan Al Qur’an tentunya lebih adil untuk difahami dibandingkan dengan interpretasi teks-teks hadis yang seakan-akan merendahkan martabat perempuan. Memaknai ayat tersebut secara utuh melalui upaya rethinking dan pembacaan baru dapat melahirkan pengetahuan-pengetahuan yang lebih berkeadilan di dalam membaca teks-teks keagamanan.

Laki-laki dan perempuan diciptakan sebagai khalifah  yaitu wakil Tuhan di bumi, maka ia bisa menjadi rahmat bagi semesta manakala mendatangkan kebaikan. Dan bisa saja menjadi fitnah manakala ia mudah tergoda dengan potensi-potensi keburukan dan kenikmatan yang bersifat fatamorgana.

Menegaskan Kembali Makna Khalifah dan Kemanusiaan Perempuan

Menurut Ismail Rajih al Faruqi dalam bukunya Tauhid, tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah konsekuensi logis dari ajaran tauhid yang tidak hanya memiliki dimensi spiritual tetapi juga sosial. Dengan penghambaan sepenuhnya kepada Tuhan akan membawa manusia pada tindakan etis yang mana segala sesuatu ditentukan melalui keberhasilan pencapaian subjek moral di tengah berbagai tantangan sosial kemasyarakatan. Dengan kesadaran ini, maka tentu saja, pertama kali harus menghapus sekat jenis kelamin yang mendiskriminasi yang satu atas yang lain.

Nur Rofi’ah dalam bukunya Nalar Kritis Muslimah, membagi tiga level kesadaran kemanusiaan perempuan. Pertama, level terendah, manusia hanyalah laki-laki perempuan bukan manusia. Ini adalah cara pandang jahiliyah terhadap perempuan zaman dahulu. Kedua, level menengah, perempuan adalah manusia tetapi kemanusiaan laki-laki dijadikan standar bagi kemanusiaan perempuan. Ketiga, level tertinggi, perempuan adalah manusia seutuhnya seperti laki-laki. Keduanya subjek utama kehidupan. Standar kemanusiaan keduanya adalah sama. Sama-sama dipertimbangkan kondisi keduanya yang berbeda dan pengalaman khas perempuan.

Betapa banyak pesan-pesan ilahiyah yang menjelaskan tentang tugas manusia sebagai khalifah. Salah satunya menebar rahmat Islam kepada segenap penghuni alam semesta dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan melalui jalinan persaudaraan dengan tidak saling mendzalimi dan merendahkan sebagian yang lain.

Pandangan perempuan sebagai sumber fitnah seakan-akan masih memosisikan perempuan hanya sebagai subjek seksual. Padahal jika kita meyakini bahwa manusia adalah khalifah Tuhan, maka sudah semestinya kita juga meyakini bahwa kedirian manusia bukan sebatas subjek seksual (biologis) namun juga merupakan subjek spiritual, intelektual dan sosial. Sebagaimana pandangan Ismail Rajih Al Faruqi tentang tugas khalifah di bumi maka kita perlu membentuk dan membangun standar pribadi dengan landasan teologis (Tauhid) yang kuat sehingga bisa mengantarkan kita menjadi manusia yang senantiasa mencerahkan semesta.

Bagikan
Post a Comment