Kriteria Pasangan Ideal
Membahas cinta laksana mengarungi luasnya samudera, tidak akan pernah ada habisnya dan selalu menarik dijadikan bahasan khususnya di kalangan kawula muda. Kecenderungan insan terhadap rasa ingin memiliki dan mendapatkan kasih sayang dari lawan jenis; merupakan anugerah terindah dari yang Maha Kuasa yang berwujud fitrah sejak diciptakannya bapak manusia.
“Dengan cinta, yang pahit menjadi manis. Dengan cinta, tembaga menjadi emas. Dengan cinta, sampah menjadi jernih. Dengan cinta, yang mati menjadi hidup. Dengan cinta, raja menjadi budak. Dari ilmu, cinta dapat tumbuh. Pernahkah kebodohan menempatkan seseorang di atas tahta seperti ini?” demikianlah ungkapan seorang tokoh sufi dunia Jalaluddin Rummi tentang cinta melalui bait syairnya.
Kodrat manusia berpasangan
Tidak salah yang diungkapkan oleh sang sufi, hal demikian dapat kita perhatikan dari kisah Nabi Adam AS ketika diciptakan hidup seorang diri di syurga. Meski hidup dengan segala kenikmatan dan jaminan dari Allah; sungguh tidak dapat mengisi ruang kosong dalam dirinya.Rasa kesepian yang membelenggu hidupnya seolah merundung duka Adam hingga Allah menciptakan Hawa agar menjadi teman hidupnya.
Melekatnya cinta dalam diri manusia sehingga muncul kisah-kisah cinta mengiringi perkembangan zaman. Di jazirah arab bukan hal asing mendengar kisah “Laila Majnun” yang mengisahkan dua insan di mabuk cinta bernama Qays dan Laila. Qays mengagungkan nama Laila melalui puisi-puisinya yang membuat Laila manaruh hati padanya. Karena terhalang restu orang tua Laila, Qays gagal menggapai cintanya. Meski takdir tidak memihak padanya Qays selalu menunggu Laila, akibatnya ia dijuluki “Majnun” yang artinya gila.
Kisah menarik lainnya datang dari Nabi kita tercinta, Muhammad SAW dengan istrinya Khadijah. Sungguh romansa cinta terlihat di antara keduanya, saat nabi pertama kali menerima wahyu gemetar hebat dirasakannya; kemudian pulang dipeluk oleh Khadijah sehingga mendapat rasa nyaman dan tentram. Begitu besar dampak cinta bagi manusia, sehingga saat Nabi berduka ditinggal Khadijah, Allah menghiburnya dengan perjalanan ke Sidratul Muntaha.
Melihat pentingnya membangun ikatan cinta maka Allah memberikan pelajaran bahwa Islam menjaga kesucian cinta melalui pernikahan. Dengan menikah seorang perempuan bernilai tinggi martabatnya di mata masyarakat. Islam pun mengapresiasi pernikahan sebagai bentuk ibadah paling panjang. Nabi Muhammad melalui hadisnya memerintahkan agar ummatnya menikah; bahkan Nabi tidak memasukkan ke dalam golongannya bagi orang yang tidak mempunyai keinginan untuk menikah.
Kriteria pasangan
Euforia pernikahan merupakan gambaran yang indah khusunya bagi generasi muda, Maka sebab itu dengan hadirnya ajaran agama diharapkan menjadi penunjuk arah, agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang dapat menodai kesucian cinta. Islam melalui ajarannya mengatur segala aspek kehidupan manusia, mulai dari bangun tidur hingga manusia tidur kembali, termasuk dalam memilih pasangan hidup manusia diberikan kisi-kisi atau kriteria.
Memilih pasangan cenderung disandarkan pada laki-laki yang akan memilih wanita sebagai belahan jiwa. Sabda Nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda; “Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR.Bukhari)
Harta dijadikan kriteria karena tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan di dunia ini membutuhkan hal tersebut guna menyambung dan keberlangsungan hidup. Bahkan ada sekian banyak pasangan di masyarakat berpisah atau tidak dapat mempertahankan rumah tangganya karena faktor ekonomi. Namun demikian sisi positif dari memlih harta yakni digunakan untuk bekal beribadah, berdakwah dan fisabilillah lainnya.
Keturunan atau nasab merupakan kriteria kedua yang disebutkan, nasab dijadikan tolak ukur karena memberi sedikit gambaran atau pertimbangan. Calon pasangan tersebut lahir dari keluarga yang seperti apa, besar dan tumbuh dalam lingkungan keluarga serta diberikan pendidikan oleh orang tua yang bagaimana. Apabila dalam lingkaran keluarga baik maka besar kemungkinan wanita tersebut baik pula. Ibarat pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Kecantikan dimasukkan pada kriteria ketiga agar dapat memperbaiki keturunan, diharapkan paras dari keterunan yang dihasilkan mengikuti kecantikan dari pasangannya. Sedangkan yang terakhir adalah karena agamanya, kriteria tersebut dijadikan poin tertinggi karena tingkat ketaatan seseorang kepada Tuhan memberikan pengaruh besar pada kehidupannya yakni berperan dalam pembetukan sikap atau perilaku yang sering disebut dengan karakter.
***
Lantas adakah seseorang dengan keempat kriteria tersebut? Perlu diketahui bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tidak pernah luput dari salah dan dosa. Melihat demikian maka tidak akan pernah mungkin kita jumpai seseorang dengan kesempurnaan; sehingga mustahil mencari pasangan yang tanpa ada kekurangan dalam dirinya.
Sebagai tolak ukur paling penting apabila kriteria pertama, kedua dan ketiga tidak didapati maka agama menjadi penentu akhir karena sebab yaitu: jika kita tidak menjumpai calon pasangan dengan hartanya maka kita dapat berusaha mencari harta tersebut dengan pasangan. Seperti janji Allah bahwa dengan menikah akan membukakan banyak pintu rizki.
Kemudian jika tidak didapati garis keturunan atau nasab yang baik maka kita dapat memulai dengan membuat garis keturunan yang baik diawali dari pasangan masing-masing. Karena sejatinya semua manusia punya fitrah atau potensi untuk menjadi hamba yang baik dan taat.
Selanjutnya karena kecantikannya, paras cantik tidak semua manusia memilikinya oleh sebab itu kriteria ini juga bukan sebagai tolak ukur utama untuk memilih pasangan hidup, karena cantik dapat dibuat atau diusahakan misalnya dengan perawatan atau semisalnya.
Sedangkan agama adalah karakter yang membentuk kepribadian manusia dan membimbing jalan hidup. Maka sebab itu Islam menitik beratkan pada poin keempat tersebut. Agama adalah nasihat oleh karenanya manusia dengan agama yang baik menjadikan hati penganutnya mudah dalam menerima nasehat dari berbagai pihak dan menekan egoisme personal.
Pasangan yang memiliki pemahaman agama yang baik mememiliki potensi lebih besar untuk menjaga diri dari segala larangan dari Allah, agama juga memberikannya pelajaran bagaimana memperlakukan keluarga dan pasangan ke jalan yang diridhai-Nya dan juga karena ada kata “beruntung” dalam hadis Nabi yang telah disebutkan apabila kita memlilh pasangan berdasar pada agamanya.

Fino
Luar biasa..
Penulis mampu mendeskripsikan secara menarik dan detail dengan bahasa yang ringan …
Goodjob
Lala
Masya Allah pembahasan serta penjelasan jelas dan detail.
Bahkan penulis memberikan jabaran yg mudah di tangkap dan dipahami.
👍👍 Terimakasih ilmu nya
Kanza
Mantul om uyo 👍🏻
Kanza
Mantul om uyo
Sahabat Sahara
MasyaAllah ustadz… Mencerahkan
Lutfi
Kerennn
RUDAL
Belajar dari ahlinya yg paling bener mantap 🥇
Luthfi
“Pasangan yang memiliki pemahaman agama yang baik mememiliki potensi lebih besar untuk menjaga diri dari segala larangan dari Allah, agama juga memberikannya pelajaran bagaimana memperlakukan keluarga dan pasangan ke jalan yang diridhai-Nya dan juga karena ada kata “beruntung” dalam hadis Nabi yang telah disebutkan apabila kita memlilh pasangan berdasar pada agamanya” … فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
Vika amalia
Masyaallah bermaanfaat sekali, semoga kelak dipertemukan dengan yang bisa membimbing ke jalan yang benar 🙂
Chichi
Berharap dapat pasangan yang ideal nih 🙂
Wafi
Kompor gas
Dans
Masyaallah,.. keren bisa menambah manfaat dan pencerahan..