Kontribusi Perempuan terhadap Pertumbuhan Pendididkan
Dalam perspektif Islam, laki-laki dan perempuan memiliki kodrat, tabiat, dan fisik yang berbeda sejak lahir. Namun, Al-Qur’an menjunjung tinggi kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam hal kemanusiaan, taklif, serta pendidikan. Dalam Islam kedudukan perempuan lebih tinggi daripada laki-laki, bahkan dalam sebuah hadis, Nabi bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍِ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya: Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim (laki-laki) dan muslim (perempuan). (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, di Shahiihkan Al-Albani dalam shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)
Hadis di atas menunjukkan betapa wajibnya seorang muslim untuk mencari ilmu. Ilmu pengetahuan dalam Islam dipandang sebagai kebutuhan manusia dalam membantu menjalankan kewajibannya kepada Tuhan serta mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Dan dalam hal ini baik laki-laki maupun perempuan sama-sama berkewajiban menunaikan hal tersebut. Dan untuk itu diperlukan ilmu agar manusia memiliki kepercayaan diri dalam menjalankan kewajiban.
Dalam kodratnya, perempuan diberi keistimewaan menjadi seorang ibu. Sehingga memungkinkan seorang perempuan menjadi jantung pendidikan bagi anak-anaknya dalam membangun karakter anak menjadi generasi yang lebih unggul. Ibu juga merupakan madrasah pertama bagi anak, inilah yang menjadikan perempuan lebih istimewa ketimbang laki-laki. Dalam Islam, perempuan diumpamakan sebagai cagak/tiang suatu negara. Karena pendidikan awal seorang anak ada di tangan ibunya. Maka baik atau buruknya karakter seorang anak di masa depan tergantung bagaimana cara ibu tersebut mendidik anaknya, juga seorang ayah.
Seorang ibu memiliki peran ganda terhadap anak-anaknya. Dia bisa menjadi teman, support system, dan influencer sekaligus. Maka, penting bagi calon ibu untuk menempuh pendidikan yang tinggi agar dia dapat mendidik anak-anaknya dengan maksimal. Peran ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya memiliki kewajiban mendidik dan mengajari anak-anaknya tentang keyakinan beragama, etika dalam bersosialisasi, memberikan pemahaman intelektual, dan menjaga kesehatan fisik dan psikis anak tersebut, bersama-sama sang ayah. Sehingga, membentuk kepribadian anak yang bijak dan bertanggung jawab, bagi diri sendiri, keluarga, agama, bangsa dan negaranya.
Pendidikan perempuan tidak hanya sekadar keperluan semata, tetapi juga sangat penting untuk mendapatkan perhatian. Sayangnya pendidikan di Indonesia masih terbilang rendah dan membutuhkan perhatian yang lebih serius. Pasalnya peringkat pendidikan Indonesia berada di urutan ke-67 dari total 209 negara di dunia. Hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor. Seperti, ekonomi orang tua yang kurang baik, sehingga banyak anak-anak yang memutuskan berhenti melanjutkan sekolah. Bahkan di beberapa wilayah, banyak terjadi pernikahan dini yang menyebabkan kerugian besar bagi perempuan. Anak perempuan yang menikah di usia dini memiliki masalah psikis serta gangguan kesehatan fisik yang buruk. Pemerintah seharusnya melakukan usaha untuk membantu meningkatkan pemberdayaan perempuan.
Pendidikan perempuan di Indonesia dimulai menjelang awal abad ke-20. Saat itu terjadi perubahan-perubahan masyarakat Indonesia, gagasan tentang kemajuan pendidikan mulai bertumbuh, salah satunya mengenai pendidikan perempuan yang di cetuskan oleh R.A Kartini. Ia membuka sekolah kecil yang mengajarkan tentang baca tulis, kerajinan tangan dan memasak. Bukan hanya Kartini, beberapa tokoh wanita lain juga melakukan gagasan yang saman, seperti Dewi Sartika. Lambat laun perkembangan pendidikan perempuan merambah ke dunia politik. Ada beberapa gerakan perempuan yang ikut ambil bagian dalam Sarekat Islam, PKI, PNI, dan Permi. Hasil dari gerakan-gerakan tersebut berhasil mendapat pencapaian yang luar biasa. Bahkan kedudukan sosial perempuan di masyarakat juga mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Di belahan negara lain, yakni Maroko terdapat Universitas tertua didunia bernama Universitas Al-Qawariyyin atau Al-Karaouine yang di bangun oleh seorang wanita muslim yang bernama Fatima binti Muhammad Al-Fihriya al-Qurashiyah atau yang dikenal sebagai Fatima al-Fihri. Ia mendirikan Universitas tersebut pada tahun 856 M. Universitas ini menjadi salah satu pusat spiritual dan pendidikan terkemuka dari dunia muslim. Hal ini menunjukkan betapa hebatnya perempuan dalam perkembangan dunia pendidikan. Masih banyak tokoh-tokoh wanita yang berpengaruh besar terhadap kemajuan pendidikan. Namun tokoh-tokoh tersebut jarang dikenal oleh masyarakat. Kebanyakan dari mereka hanya berfokus pada kelemahan perempuan dan memandang rendah kaum perempuan, sehingga terciptalah budaya patriarki yang merugikan perempuan.
Dalam upaya meningkatkan pemberdayaan kaum perempuan, pemerintah telah melakukan beberapa upaya, di antaranya: meningkatkan jumlah perempuan dalam kegiatan ekonomi, sosial, dalam bidang politik pemerintah menargetkan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan sebanyak 30 persen. Pemerintah juga membuat program-program pemberdayaan perempuan, Salah satunya, Program Daya Srikandi BUMN. Pemberdayaan perempuan ini penting dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kepercayaan diri perempuan, sehingga kualitas diri perempuan sebagai jantung pendidikan menjadi lebih baik lagi. Hal tersebu perlu dilakukan mengingat betapa luar biasanya perempuan karena perempuan memiliki fungsi ganda, sebagai ibu, istri dan pelaku sosial di masyarakat.
Sejauh ini, perempuan sudah bisa membuktikan kehebatannya di dalam proses membangun pendidikan dan mengembangkan dirinya kepada masyarakat. Pemerintah hanya perlu memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya dan memberikan kesempatan dalam lapangan kerja yang seluas-luasnya kepada perempuan dan membenahi ekonomi dan sistem pendidikan Indonesia agar dapat menciptakan perempuan pendidik yang bermoral dan berkualitas.
