f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ketenangan

Barang Titipan (Part 1)

“De, Abang besok dinas luar kota lagi,” kata suamiku di tengah sarapan.

“Perasaan sekarang jadi sering ke luar kota ya?” sahutku sekaligus tanya.

“Maklum lah De, kantor Abang lagi buka cabang, semuanya harus dipersiapkan, apalagi deadline pembukaan tinggal dua pekan lagi.” Suamiku mengelap mulutnya dengan tisu dan meraih gelas berisi teh manis kesukaannya.

Keletihan masih terlihat di wajahnya. Dipercaya menjadi penanggung jawab pembukaan kantor cabang cukup menguras pikirannya; ditambah keletihan fisik yang harus bolak-balik ke lokasi kantor cabang baru yang berjarak dua ratus kilo meter. Walaupun hanya dua tiga hari. Semuanya dilakukan atas rasa tanggung jawabnya. Dan aku merasa bangga melihat semangat kerja suamiku. Itu pula yang membuatku lima tahun lalu, menerima ajakannya untuk membina rumah tangga. Selain ketaatannya dalam beribadah. Aku mengenalnya sejak sama-sama kuliah dan menjadi aktivis rohis.

“Humaira ditinggal lagi dong,” kataku saat menyerahkan tas kerjanya. Suamiku hanya tersenyum.

Humaira adalah panggilan putri kami, yang Allah amanahkan sejak tiga bulan yang lalu. Seorang putri yang membuat nuansa rumah kami ceria kembali, setelah mulai sedikit membosankan tanpa kehadiran seorang anak. Kami yang mulai dilanda saring curiga, siapa di antara kami yang mandul. Hadirnya Humaira seolah cinta kami terbarukan. Apalagi suamiku, dia selalu menceritakan kecantikan putrinya kepada teman-temannya. Dengan siapa pun dia bicara, langsung maupun lewat telepon, selalu menyisipkan cerita tentang putri kami.

…

Kami sangat bahagia dengan kehadiran Humaira. Seorang putri yang cantik yang terlahir normal. Bahkan sejak bulan pertama kehamilanku tidak merasakan sesuatu yang aneh, semua normal, bisa terbilang lancar untuk ukuran kelahiran pertama. Sehingga, kami sangat kaget ketika dokter mengatakan bahwa putri kami ini punya kelainan di jantungnya.

Baca Juga  Ayam Transformer Sampai Egg-Fish, Semua Orang Tua itu Kreatif!

Entah apa istilah kedokterannya, yang jelas di usianya yang tiga bulan ini, separuh waktunya harus bolak-balik menginap di rumah sakit. Rupanya Allah memberikan amanah yang lain, amanah kesabaran yang harus Kami jaga.

“Tahu ga De?” Suamiku mengagetkanku dari lamunan, “Sejak putri Kita yang cantik ini lahir, rasanya semangat Abang bertambah.”

“Ya iyalah, amanahnya kan bertambah, yang harus dijaga sekarang dua orang.”

“Tapi sayang ya De ….”

Aku segera menempelkan tanganku dimulutnya sambil menggelengkan kepala pelan. Aku tahu suamiku akan bicara apa, dan aku hanya mengingatkan komitmen bersama untuk tidak membicarakan masalah penyakit putri kami.

“Ayooo… sudah jam delapan, nanti terlambat lho!” Aku meraih tangan kanannya dan menciumnya.

***

Sehari ditinggal ayahnya, panas Humaira meninggi. Sebenarnya ini sudah biasa, setiap malam, panas anakku ini selalu tinggi. Tapi, malam ini sepertinya lebih panas dari biasanya. Tak mau ambil resiko, ku telepon adikku.

“Wan, antar kakak ke rumah sakit. Humaira panasnya tidak normal.”

“Emang Abang kemana?” adikku menjawab pendek.

“Dari kemarin dinas ke luar kota lagi.”

Lima belas menit kemudian, adikku tiba. Segera kubawa Humaira ke rumah sakit dengan terpaksa naik sepeda motor. Berangin-angin di malam yang menjelang tengah malam.

“Putrimu harus tidur di sini. Selain karena sudah malam, juga ada yang sesuatu yang mengkhawatirkan di jantungnya.” Dokter Mira menjelaskan dengan pelan.

“Apa yang terjadi dengan jantungnya Mir?” tanyaku kaget. Mira adalah teman kuliahku, sehingga aku selalu memanggil namanya langsung. Kebetulan juga malam mini sedang piket.

“Ya itulah, kami harus memeriksanya terlebih dahulu. Kau pulang saja, istirahat dan berdoa. Aku akan mengabarkan secepatnya begitu hasil pemeriksaannya ada”. Dokter Mira memegang pundakku, berusaha menenangkanku.

Baca Juga  Aku dan Bibi Lastri (2)

“Baiklah! Tolong ya Mir, Humairaku.” Isakku tak bisa kubendung, dan dibalas dokter Mira hanya dengan anggukan.

Aku pun pulang. Sampai di rumah sudah sepertiga malam, waktu yang tepat untuk memohon pada Yang Kuasa. Segera Aku shalat tahajud, setelah beberapa rakaat dan ditutup witir, Aku tumpahkan kesedihanku kepada-Nya. Aku sampaikan keinginanku. Mencurahkan semua perasaanku. Aku tutup dengan istighfar dan, “Ya Allah, janganlah Engkau beri hamba beban dengan beban yang di luar batas kemampuan hamba dan sekiranya hamba tidak akan sanggup memikulnya.”

Ada perasaan tenang setelah shalat tahajud berdoa. Aku pun tertidur di sajadah.

***

Pukul 08:24 gawaiku berdering, Aku yang sedang baca Al-Qur’an setelah Shalat dhuha empat rakaat, segera setengah berlari ke ruang tengah, berharap itu kabar dari dokter Mira. Aku tidak sabar mengetahui kabar putriku. Ternyata suamiku yang menelepon. Aku pun segera menarik napas panjang sebelum ku jawab, berusaha menenangkan diri.

“Assalamu’alaikum De, lagi apa nih?” sapa suamiku.

“Wa’alaikum salam, baru beres dhuha, Bang”. Jawabku dengan suara dibuat setenang mungkin.

“MasyaAllah, istri yang sholeh. Aku hanya mau ngasih kabar, Alhamdulillah … persiapan pembukaan kantor cabang sudah selesai. Jadi Abang sore nanti juga sudah bisa pulang.”

“Alhamdulillah … kalau begitu Bang. Mau dimasakin apa nih buat makan malam?”

“Apa pun menunya, kalau makan ditemani dua bidadari cantik pasti nikmat. Oh ya. Mana Humaira ku?”

Aku sebisa mungkin menahan gejolak jantungku, dan berusaha setenang mungkin saat bicara, “Humaira sedang istirahat Bang.” Aku tidak menjawab yang sebenarnya, khawatir mengganggu konsentrasi pekerjaan suamiku.

“Kenapa, panas lagi badannya?”

“Begitulah Bang! Abang nggak usah khawatir, Humaira baik-baik saja kok.”

Baca Juga  Kisah Para Pria Bersarung (1)

“Ya sudah kalau begitu, Abang kerja lagi ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Entah mengapa perasaanku kali ini berbeda. Sudah beberapa kali Humaira mengalami seperti semalam dan berakhir harus menginap di rumah sakit. Tapi, kali ini di hatiku seperti ada sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment