f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
belajar

Sisa Optimisme

-Ada yang memilih menderita dari pada harus hidup manis tanpa cerita-

Berat rasanya menjadi bagian dari bangsa yang tidak memiliki cita-cita. Seperti berada di sebuah perahu yang terombang-ambing di tengah samudera, atau seperti orang yang tersesat di dalam hutan rimba. Apakah Anda juga merasakan hal yang sama? Memikul beban dan perasaan hampa yang entah ditunjukan kepada siapa.

Setiap harinya, di depan layar televisi dan Hp. Kita tak henti membubuhkan sikap optimis, sekalipun berbalut keraguan dan ketidakpercayaan. Beragam berita membanggakan tersaji, seperti maraknya kasus korupsi, pengesahan undang-undang yang bertujuan menyengsarakan rakyat oleh DPR, dan sejenisnya.  

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 Juni, haluan negara yang bernama Pancasila diperingati kelahirannya. Menurut para pakar, Pancasila merupakan mukjizat ideologi abad ke-20. Ia mampu mempersatukan berbagai ideologi, yang semula bertarung untuk saling melumatkan, dan kemudian menjadi pembebas bangsa Indonesia dari penjajahan. Hebatnya saat itu, pembebasan dilSayakan saat berkecamuk Perang Dunia II. Perang terdahsyat dalam sejarah dengan teknologi militer tercanggih pada zamannya, terlengkap, termasif, melibatkan angkatan darat, laut, dan sekaligus udara.

Sejak kelahirannya, Pancasila sudah berkali-kali mempersatukan dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari berbagai krisis politik, sosial, dan ekonomi, internal maupun eksternal, nasional maupun internasional. Namun, kini, Pancasila kembali dihadapkan pada krisis. Pancasila harus kembali mempersatukan dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari perang dunia, tapi agak berbeda.

Wajah Ideologi Yang Berubah

Namun situasinya berbeda, hari ini Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 hanya sekedar semboyan belaka tanpa makna yang setiap waktu menjejali setiap sudut alinea media masa. “Saya Pancasila, Saya Indonesia.” Apakah mereka tidak sadar bahwa rakyat tak lagi percaya.

Baca Juga  Agama, Politik dan Pancasila

Melalui buku-buku sejarah, ku dengar cerita masa lalumu (Indonesia). Kau atau bahkan Saya ingin kembali seperti kondisi dan situasi dahulu saat Pancasila menjadi pasangan yang menguatkan peranmu di seluruh bidang kehidupan. Saya paham rasanya terkekang oleh keadaan yang semakin tak menentu. Sejarah penuh gelora kau banggakan, tak peduli bangsa asing mencibirmu, kau menutup telinga karena satu-satunya yang kau percaya adalah bangsamu sendiri.

Namun perlahan Saya menyadari bahwa kisah kejayaan hanya sementara. Sampai saat ini kau dan kebanggaanmu tumbuh dewasa, mengalami banyak tragedi, menemui banyak duri. Hingga kau melihat kenyataan bahwa bangsa yang telah diperjuangkan dengan lautan darah tidak seperkasa yang duhulu. Pernah menjadi macan diantara kucing menggarong berebut teri. Dihayati dan disegani lawan sampai kawan sendiri.

Keadaan sudah sangat jauh berbeda. Kau temui bangsamu sendiri dalam perpecahan yang kian menjadi. Mengelus dada. Dalam napas panjang menyadari hal-hal tiada kekal. Persatuan kini semu. Ditelan kepentingan ego sendiri. Kebersamaan kita telah punah, hilang, sirna tak membekas lagi.

Namun sebelum kecewamu berlanjut, ingatkah kau saat sang proklamator Ir. Soekarno berwasiat, “lebih baik Indonesia tenggelam ke dasar lautan dari pada menjadi sapi perah bangsa asing”. Ada tugas besar yang harus kau jemput dengan lapang dada. Menerjang badai untuk sampai kepadanya, belum lagi menyelesaikannya. Hingga tak sampai Saya membayangkan betapa sulitnya. Memastikan kembali bahwa Pancasila ada di dalam tubuh para pemuda, orang tau, anak-anak, pria, wanita, pejabat, tukang becak, guru, pengusaha, pegawai dan lain sebagainya.

Terlahir untuk Perubahan

Wahai jiwa kesatria, kau percaya lelah hanya gurauan bagi jiwa-jiwa yang perkasa. Liar bergejolak karena patriotik adalah fitrah manusia merdeka. Menghantam siapapun yang datang menghadang. Ganasnya semangat kau kendalikan, bermacam strategi kau lancarkan, menghunus keberanian, perlawananmu tiada tara!

Baca Juga  Berdosa Demi Gaya Hidup dan Gengsi

Kau pernah begitu hebat. Dan sejarah itu sangat mungkin kau ulang kembali, namun sayangnya kau tidak seperti yang dahulu lagi. Biarkan kenangan manis itu tumbuh subur, menemani hari-hari terakhirmu bersama anak dan cucu.

Kembali menjadi muda bagi mereka yang tak memiliki cerita adalah cita-cita. Penyesalan yang tak berarti apa-apa. Beralih profesi menjadi penghayal tingkat dewa. Menghibur diri seakan semuanya belum terjadi, apa pun yang membuatnya seolah hidup lagi. Dan itu hanya mimpi.

Masa muda adalah masa bersenang-senang. Namun masa bermain bagimu sudah sangat cukup. Goresan tinta yang kau ukir, sudah cukup untuk dibuat beberapa jilid ensiklopedia sejarah dunia. Dan kau adalah salah satu titik kecil yang menguasai jutaan titik serupa. Kau lemparkan tatapan yang tak biasa. Dan berkata lewat sorot mata, sekarang giliranmu anak muda. Jangan sia-siakan waktu yang dianugrahkan Tuhan kepadamu. Waktumu singkat. Waktumu terbatas. Belajarlah dari sejarah sebelum kau membuat sejarah baru dirimu.

Terlahir tanpa kebanggaan adalah kesempatan. Kesempatan untuk mengembalikan keadaan. Karena selamanya hidup akan selalu berjalan seperti roda. Tekanan adalah kekuatan. Dan, penderitaan adalah rasa manis. Jika telah jelas arahmu wahai kesatria muda. Bukankah kau mendambakan sebuah peradaban yang membanggakan semesta dan semudian pulang dengan membawa harta mulia.

Bagikan
Post a Comment