f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
khadijah

Khadijah: Istri dan Pahlawan bagi Rasulullah Saw serta Teladan Umat

Selasa, 17 Agustus 2021 menjadi momen spesial dan bersejarah bagi bangsa Indonesia yang kali ini mengusung tema “Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh”. Tema tersebut saya pikir sangat tepat dan relate mengingat kemerdekaan yang diperoleh bangsa Indonesia tidaklah gratis. Dengan ketangguhan yang terpatri kuat di seluruh jiwa raga bangsa Indonesia sajalah maka tumbuh semangat berkobar dan berjuang merebut kemerdekaan negeri. Merekalah yang selama ini kita kenal dengan sebutan Pahlawan Nasional.

Saudara, bicara Pahlawan, saya kutip makna Pahlawan menurut KBBI. Pahlawan adalah “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran”. Sedangkan Pahlawan Nasional menurut Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan  adalah  gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Sosok Perempuan Pahlawan bagi Rasulullah Saw

Saya yakin setiap bangsa mempunyai sosok pahlawan tak hanya Indonesia, karena pahlawan adalah entitas yang menjadi bagian integral kesadaran akan sejarah suatu bangsa yang beradab. Sosok pahlawan adalah manifestasi orang pilihan yang rela berjuang, berkorban demi orang banyak di atas kepentingan diri sendiri.

Begitu pula zaman Rasulullah Saw, jika kita membaca kembali sejarah nabawiyah, tak hanya sosok kaum lelaki yang menjadi pahlawan bagi Nabi Muhammad Saw. Di awal-awal Rasulullah Saw. mendapat wahyu, selain pamannya Abi Thalib terdapat sosok perempuan pahlawan bagi beliau bernama Khadijah binti Khuwailid; istri yang beliau cintai dan saya pikir tetap relevan menjadi teladan tak hanya bagi kehidupan wanita muslimah namun teladan bagi kita semua.

Baca Juga  Rahmah El Yunusiyah : Syaikhah dan Ulama Perempuan dengan Lelaku Paripurna

Beberapa alasan lainnya bagi saya menjadikan Khadijah sebagai Pahlawan bagi Rasulullah SAW dan teladan bagi kita semua adalah:

Pertama, Kisah Khadijah sebagai seorang pengusaha dan saudagar besar di masanya dapat menginspirasi  muslimah dan mematahkan stigma bahwa perempuan-perempuan di masa awal kenabian senantiasa terbatas di wilayah rumah saja. Relasi Khadijah dengan Nabi Muhammad Saw pun dapat jadi panutan dalam relasi majikan dan pekerja yang menguntungkan; dan tetap menjaga etika sebuah kerja sama dan kolaborasi yang baik. Kita ingat saat Khadijah mempercayakan usahanya kepada Nabi Muhammad SAW yang akhirnya berkembang pesat dan mendapat citra baik dari mitra-mitra dagang dan konsumen Khadijah.

Akhirnya karena sifat-sifat ketauladan Nabi Muhammad Saw, yakni siddik (jujur), amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyiarkan) dan fathonah (cerdas); maka Khadijah pun melamar Rasulullah SAW melalui Nafisah binti Ummayyah yang masih kerabat Rasul juga. Saya pikir dari peristiwa ini dapat jadi ibrah atau pelajaran bahwa tak ada salahnya lamaran datang dari inisiatif pihak perempuan; jika memang si lelaki memang mempunyai sifat-sifat baik yang diyakini akan jadi imam yang dapat membimbing kehidupan pernikahan kelak. Yang penting tetap dalam kerangka dan aturan sesuai syariat Islam.

Kedua, Khadijah adalah orang pertama dan wanita pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW ketika yang lain menolak ajarannya. Itulah makanya, Khadijah masuk dalam kategori Assabiqunal Awwalun atau orang-orang yang pertama kali memeluk agama Islam.

Tak heran Rasulullah Saw. pun mengabadikan Khadijah menjadi satu dari empat wanita yang menjadi teladan dalam kehidupan kaum muslimah. Keempatnya dijanjikan surga sesuai hadis dari Ad-Dzahabi; “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam bintu Imran, Fatimah bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah bintu Khuwailid, dan Asiyah.”. (HR Muslim)

Baca Juga  Sultanah Safiatuddin! Bukti Bahwa Wanita Tidak Hanya Soal Kasur, Sumur, dan Dapur

Ketiga, Khadijah memiliki jiwa pengorbanan yang luar biasa, tak hanya kaya harta tapi juga kaya hatinya alias sangat dermawan, rela menginfaqkan semua hartanya untuk membiayai kebutuhan kaum Muslimin dan dakwah suami tercintanya Nabi Muhammad SAW saat kaum Quraisy melakukan pemboikotan. Konsistensi Khadijah mendukung perjuangan sang suami tetap bertahan hingga di akhir hayatnya.

Khadijah tetap berpesan kepada Nabi Muhammad Saw untuk tetap melanjutkan dakwahnya; “Wahai Rasulullah seandainya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai, namun engkau tidak memperoleh rakit atau jembatan, maka galilah lubang kuburku jadikanlah sebagai jembatan untuk kau menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa melanjutkan dakwahmu.”

Sifat-sifat kepahlawanan seorang Khadijah dapat menjadi menjadi suri tauladan, uswah dan qudwah bagi muslimah masa kini dan teladan kita semua. Tokoh-tokoh terkemuka seperti Asad Zaman, seorang imam dari kota Manchester (Inggris) pernah berkata bahwa Khadijah benar-benar menembus batas. “Bahkan perempuan modern pun ingin mencapai apa yang dia capai 1.400 tahun yang lalu,” ungkapnya.

Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha, istri tercinta Rasulullah Saw wafat usia 65 tahun; tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah—pada hari ke-11 bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian—kira-kira tahun 619 M. Kematian Khadijah adalah tahun duka cita atau tahun kesedihan (‘Aamul Huzni)‎, seiring wafatnya pamannya Abu Thalib yang juga berperan sebagai pengasuh dan pelindungnya.

Kesedihan yang dirasakan Rasulullah Saw. kala itu  begitu dalam karena kehilangan istri sekaligus pahlawan dalam kehidupannya. Beliau memuji sosok Khadijah melebihi istri-istri lainnya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah ra..

“Demi Allah, Allah tidak memberiku wanita pengganti yang lebih baik daripadanya: Dia (Khadijah) beriman kepadaku tatkala orang-orang mengingkariku. Dia (Khadijah) memercayaiku ketika orang-orang mendustakanku. Dia (Khadijah) membantuku dengan hartanya saat orang-orang tidak mau membantuku. Dialah (Khadijah) ibu dari anak-anak yang Allah anugerahkan kepadaku, tidak dari istri-istri yang lain”.  (HR. Ahmad No. 117)

Baca Juga  Nur Rofiah Pemikir Feminis Muslim

Shollu ‘ala Nabiyyuna Muhammad !

***

Bagikan
Comments
  • Winarni

    Mantap

    Agustus 19, 2021
Post a Comment