f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
rindu ayah

Hadiah Kecil dari Ayah

Kususuri kembali jalan setapak yang telah dipenuhi rumput ilalang. Di Penghujung jalan Terlihat sebuah gubuk tua seperti rumah hantu. Rumah yang terbuat dari kayu dan beralaskan tanah. Terdapat halaman yang begitu luas dan memiliki banyak pohon. Disana, tempat dimana aku bertumbuh dan besar. Sudah belasan tahun lamanya aku tidak pernah lagi pulang ke kampung semenjak merantau 10 tahun lalu.

Ayahku adalah seorang petani terkadang juga menjadi buruh pabrik. Kehidupanku sangat sederhana. Saat aku kecil aku tak memiliki teman karena teman-teman tak suka padaku. Alasannya, karena bajuku lusuh, karena sepatuku bolong, dan karena aku tak mampu. Hampir setiap pulang sekolah aku menangis mengingat semua perkataan buruk mereka kepadaku. Tapi aku tetap kuat karena ada ayah yang selalu menguatkanku, mencurahkan semua kasih sayang dan kehangatannya padaku.

Kuceritakan setiap kejadian di sekolah pada ayah. Ayah sempat menawarkanku untuk pindah sekolah saja, namun sekolah tersebut sangatlah jauh dari rumah. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap bersekolah di sana dan mengabaikan semua omongan mereka. Ayah berpesan jadikan setiap hinaan mereka sebagai batu loncatan untuk jauh lebih dari mereka. Ayah juga berpesan “terkadang hinaan itu yang membuat kita terus semangat bangkit untuk membuktikan bahwa kita bisa dan tidak layak untuk direndahkan, namun sebaliknya terkadang pujian malah akan membuat kita lalai dan besar kepala”.

Tepat sebelum merantau untuk melanjutkan sekolah di SMA 1 Negeri. Hari itu bertepatan dengan ulang tahun yang ke-16, ayah kembali membelikanku sebuah buku kosong yang bertuliskan, “Catatan Petualanganmu”. Ayah berkata, “Isilah buku ini dengan kisah-kisahmu, impianmu, dan pencapaianmu. Ayah akan selalu bangga padamu.” Saat itu segala hal yang aku rasakan dan impikan, akan aku tuang di dalam buku. Ayah tau aku akan pergi meninggalkannya, dan pertanda bahwa aku tak bisa sering bercerita lagi seperti dulu. Ayah memberikan buku ini sebagai gantinya. Buku bersampul biru itu kini menjadi saksi bisu perjuanganku hingga dititik sekarang.

Baca Juga  Kebun di Kota Lamaku

Jauh dari ayah membuatku sangat merasa sendirian dan kesepian. Di sini aku tinggal bersama bibi, paman, beserta anak-anaknya. Tetapi terkadang perlakuan bibi dan paman sedikit membuatku sakit hati, namun mau bagaimana lagi aku masih belum mampu membayar uang kost jika ingin tinggal sendirian.

Tiga tahun berlalu. Tiba saatnya aku pulang ke kampung menemui ayah yang sangat aku cintai. Rinduku kepadanya hampir tak terbendung lagi, seperti akan gila jika tak segera bertemu. Perjalanan panjang dan melelahkan hilang seketika ketika melihat ayah sudah berdiri tegak didepan pintu rumah. Ku berlari sekencang-kencangnya dan memeluk erat tubuh yang kini terlihat lebih kurus dari yang biasanya. 

Malam itu aku tidur bersama ayah, walaupun hanya berdua saja aku merasa ibu juga ikut tidur bersama kami. Pagi hari kulihat ayah masih tertidur lelap segera aku bergegas memasak masakan kesukaan ayah. Seperti sudah menunggu kepulanganku. Di pagi hari itu ayah menyusul ibu kembali pada-Nya. Hati yang tadinya merasa paling beruntung dalam sekejap langsung hancur lebur. “Kenapa semua hal buruk ini menimpaku Tuhan? apa engkau tak suka padaku? Apa aku harus menderita sehebat ini? Apakah aku tak berhak mendapatkan sedikit saja kebahagiaan?” rintihku kepada-Nya. Aku merasa tidak ada lagi yang ingin aku kejar di dunia ini setelah kepergian ayah.

Hari teruslah berlalu tak terasa ternyata sudah dua bulan lamanya aku terus berlarut dalam kesedihan. Setiap aku rindu ayah, aku terus menangis meringkuk di atas kasurnya. Kubuka lemari ayahku, kuambil bajunya, baju yang masih meninggalkan bau khas ayah. Namun seketika buku bersampul kuning bertuliskan “Catatan Petualanganmu” terlihat di dalam lemari ayah. Itu buku pertama yang ayah berikan ketika aku SMP. Buku itu dahulu aku tinggalkan di rumah karena ayah telah memberikanku buku baru dengan sampul berwarna biru. Aku baca kembali buku itu. Agaknya buku ini bisa memberiku sedikit hiburan. Lembar demi lembar kuhabiskan, namun baru saja aku menemukan selembar kertas berisikan tulisan ayah, dan benar saja itu dari ayah untukku.

Baca Juga  Dalam Urusan Anak, Ayah dan Ibu sebaiknya Bekerja Sama

“Hai Raka anakku,

Ayah tau selama ini kamu merasakan banyak penderitaan, ayah sudah membaca bukumu. Ayah bangga padamu, kamu menghadapi semua masalah dengan cara yang cukup dewasa.  Dan Ayah jadi tau begitu banyak cita-cita yang kamu inginkan. Raka tau tidak? Ayah terus berdoa sambil memegang buku ini agar anak ayah bisa mewujudkan semua cita-citanya. Ayah juga sudah puluh kali membaca buku ini, karena ayah rindu padamu.

Selain itu, Ayah selalu berharap kamu di sana baik-baik saja. Jika kamu menemukan kesulitan teruslah berdoa, dan ingat masalah itu akan berlalu, kesedihan akan berlalu, tidak akan selamanya dan kebahagiaan akan datang menggantikan. Terus berjuang ya nak. Kalau lelah tidak apa-apa, istirahat sebentar. Terkadang kita butuh waktu untuk menata ulang semuanya.

Raka, ayah ingin kamu tahu betapa besar cinta ayah padamu. Ayah akan selalu ada disampingmu, mendukungmu dalam perjuanganmu, dan merayakan setiap kesuksesanmu. Teruslah berjuang dengan keberanian dan tekad yang tak pernah tergoyahkan. Dunia ini menantimu dengan pelukan yang luas, dan ayah percaya bahwa kamu akan mencapai hal-hal hebat.”

Salam hangat
Ayah.

Pesan singkat dari ayah yang membuatku bangkit kembali dari keterpurukan. Aku tau sangat  sulit rasanya tapi akan kucoba. Aku tahu jika aku terus berlarut dalam kesedihan tidak hanya ayah yang akan kecewa namun ibu juga. Bukankah aku menulis cita-citaku ingin membahagiakan kedua orang tuaku? walaupun sekarang sudah tidak bersama di dunia tapi aku yakin ketika aku sukses mereka tetap akan bahagia.

Hari ini aku memutuskan untuk meninggalkan kampung kembali, karena jika terus di rumah akan sulit untuk bangkit. Aku ingin mencari suasana baru di luar sana. Syukurnya ayah dan ibu meninggalkan sedikit simpanan untukku. Aku pun kembali mengadu nasib di perantauan, dan kembali memulai hal baru.

Baca Juga  Surat Kabar Untuk Umi

Jatuh bangun sudah biasa aku hadapi. Mentalku sudah kuat, dari kecil pengalaman dibully oleh teman-teman membuat mentalku yang sekarang terasa seperti menelan baja. Tak ku hiraukan perkataan mereka yang ingin menjatuhkanku. Aku terus bangkit. Sudah cukup rasanya selalu terpojokkan kini saatnya aku bersungguh-sungguh.

Setelah kurang lebih selama 10 tahun lamanya. Kini satu persatu cita-cita di buku itu telah terwujud. Memiliki rumah dua lantai dengan ubin putih, memiliki mobil Pajero, memiliki tabungan 100 juta, berbelanja tanpa melihat harga. Rasanya dulu itu semua seperti mimpi yang tak pernah tercapai, tapi nyatanya sekarang Tuhan telah menitipkannya padaku. Aku sangat bersyukur sudah sampai di titik ini tentu adalah berkat dari doa orang tuaku dan Tuhan membantuku.

Bagikan
Comments
  • AnggunMf

    Tulisan yang bagus, jadi hanyut dalam kisah raka yang punya mental pejuang. Semoga kitapun sama untuk apa2 yg sedang diperjuangkan, meski lelah selalu ada ruang untuk beristirahat lalu kemudian melanjutkan.

    Januari 28, 2024
Post a Comment