f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
angkutan

Supir Angkutan Kota

Mesin mobil angkutan kota yang telah lama menjadi alat untuk mencari nafkah sudah hidup. Tetapi Aris tetap saja tak mau menjalankannya. Beberapa hari ini penghasilannya jelas sangat turun. Untuk setoran pun ia harus jungkir balik. Belum bensin dan yang membuatnya sedih kadang tak kuasa untuk pulang ke rumah. Terkadang tak sepeser pun uang ia bawanya ke rumah.

Kalau tiba di rumah Aris tak kuasa memandang istrinya. Hanya uang dua puluh ribu rupiah yang bisa ia berikan kepada istrinya. Senyum istrinya begitu mengembang di bibirnya dan itulah yang membuatnya mesti berjuang sekuat tenaga mencari nafkah dan harus selalu yakin jika esok hari pasti ada rezeki yang menanti.

Kemudian Aris tersadarkan atas lamunannya itu. Perlahan angkutan kota itu maju. Selang tidak begitu lama naiklah seorang anak seusia anaknya yang mau masuk SMK. Hampir dua puluh menit angkutan kota itu berjalan, anak perempuan itu minta turun di sebuah lokasi yang menjadi tujuannya. Aris pun menghentikan mobil seperti yang perempuan itu minta.

“Maaf Pak uang ketinggalan. Saya punya sebungkus nasi kuning buat sarapan. Ini buat bapak saja sebagai pengganti ongkos,” kata anak perempuan seraya menyerahkan sebungkus nasi.

“Sudah tidak usah bayar Neng. Nasi kuning itu makan saja. Kasihan Neng belum sarapan. Tidak apa-apa, bapak ikhlas kok,” jawab Aris.

“Terima kasih, Pak. Bapak baik sekali. Semoga Allah mengabulkan segala hajat Bapak selamanya,” Aris tersenyum tapi terasa bahagia ketika doa dipanjatkan oleh anak perempuan itu. Ya, doa yang meminta segala hajat dirinya dikabulkan.

Aris tersenyum senang melihat anak perempuan itu terus berjalan memasuki sebuah gang. Benar saja, penghasilan hari itu di luar perkiraannya. Tiba-tiba ada yang men-charter angkutan kotanya dan penghasilan di luar itu cukup besar. Setelah Aris menghitung, hari itu Aris bisa membawa uang seratus dua puluh lima ribu rupiah dan itu bersih.

Baca Juga  Ika Mendebat Salat
***

Aris teringat istrinya yang berapapunuangnya hasil narik angkutan itu selalu mengucap syukur Alhamdulillah. Ya, berapapun uang dari suami membuat senyumnya selalu mengembang dan tak pernah mengeluh.

“Pak apa yang mesti aku tuntut dari bapak. Angkutan kota trayek yang bapak jalani tidak satu angkot. Banyak, kan? Tapi biar begitu Allah pasti takkan salah memberi rezeki. Berapapun yang bapak terima harus selalu bersyukur dan kalau bisa saat bapak menarik angkutan kota itu jangan lupa shalat lima waktu serta kalau bisa melakukan kebaikan sekecil apapun lakukanlah. Bapak wajib ikhtiar saja dan biar Allah yang menentukan segalanya.”

Jika ingat kata-kata istrinya itu Aris menjadi semangat saat menjalani profesi sebagai supir angkutan kota. Istrinya bernama Suryati. Sudah menikah enam belas tahun lamanya. Selama waktu itu Aris sadar belum bisa memberinya lebih. Rumah pun masih menyewa bulanan tetapi Suryati selalu membuat rumah itu selalu tenang dan menyenangkan. Dan selalu saja Suryati selalu menyadarkannya jika keinginan itu milik setiap orang tetapi kuasa atas keinginan itu hanya Allah yang menggenggamnya.

***

Hari itu, saat Aris sedang membawa angkutan kotanya tiba-tiba dicegat oleh orang-orang yang menolong korban kecelakaan dan meminta Aris untuk membawa ke rumah sakit. Rasa kepedulian Aris terketuk dan meminta orang-orang tersebut menaikkannya ke dalam mobil itu. Aris pun membawa korban tabrak lari it uke rumah sakit. Namun ternyata tak seorang pun ada yang naik ke angkutan kotanya. Aris pun jadi serba bingung dan perasaan was-was kemudian muncul di hatinya.

Sedang memikirkan hal itu Aris mencoba mencari kantong yang berisi uang hasil narik angkutan kotanya setengah hari. Sambal mengendarai angkutan kotanya ia mencari-cari barang itu. Rupanya tak ada. Aris berpikir bisa jadi saat ia membantu seorang ibu yang tertabrak itu bisa dipastikan di antara orang-orang itu ada yang mengambil kantong itu. Tetapi Aris melupakan itu semua karena ia harus menyelamatkan nyawa ibu tersebut.

Baca Juga  Barang Titipan (Part 3)

Aris gelagapan karena harus menjadi orang yang bertanggung jawab untuk pembiayaan operasi dan perawatan ibu tersebut. Aris pun tak memiliki pilihan lain harus melakukan itu. Yang terbayang di benaknya, kalau tak ada seorang pun keluarganya maka ia yang akan menanggung semua biaya itu. Tiba-tiba ada bisikan yang melintas di hatinya, jangan takut kalau berbuat kebaikan amaka kebaikan itu akan selalu menolongmu.

“Boleh saya minta dulu KTP milik Bapak?” pinta petugas administrasi rumah sakit itu.

“Boleh…” jawab Aris seraya memberikan KTP miliknya kepada petugas itu.

“Seluruhnya hampir lima belas juta saja. Bapak tenang saja, pembayarannya bisa dicicil kok. Kami akan melakukan tindakan terlebih dahulu untuk menyelamatkan nyawa korban. Silakan Bapak bisa mencari uang untuk menutupi biaya. Kami menunggu Bapak dalam waktu 3 X 24 jam,” kata petugas itu kemudian.

***

Aris tentu saja bingung apalagi tak ada identitas dari wanita itu. Ketika pikiran itu sedang melayang tiba-tiba datang seorang pria menemuinya.

“Bapak yang membawa Bu Aisyah ke rumah sakit itu. Tadi saya melihat ketika dibawa pakai blankar tetapi karena saya berobat dulu tak bisa untuk segera melihatnya,” terang pria itu di hadapan Aris.

“Betul Pak, saya yang membawanya. Saya supir angkutan kota. Tadi orang-orang yang melihatnya terjadi ibu itu tertabrak lalu meminta saya membawanya ke rumah sakit. Lalu saya bawa ke sini untuk menyelamatkannya,” balas Aris.

“Begini saja bapak sekarang narik angkot saja. Biar di sini yang saya mengurusnya. Saya tetangga Bu Aisyah. Biar nanti saya kontak anak-anaknya,”

“Terima kasih Pak. Ya permisi untuk narik angkot dulu.” Aris pun meninggalkan pria itu,

Tanpa diduga saat Aris membawa angkutan kotanya itu tiba-tiba saja jalanan macet yang harus menguji kesabarannya saat itu. Hampir tiga puluh menit angkot yang dibawanya tak bisa maju. Selepas kemacetan angkutan kota itu bisa berjalan tetapi di perjalanan ia kena tilang dan tiba di rumah Aris merasakan capek.

Baca Juga  Warteg dan Merencanakan Kematian

“Jangan mengeluh Pak. Saya tahu bapak lagi banyak masalah. Sudah lupakan dulu itu. Ini ada pisang goreng pemberian dari tetangga dan segelas kopi buat bapak,” kata istrinya. Aris pun mengambil pisang goreng itu dan menikmatinya dan juga mereguk kopi yang masih hangat buatan istrinya itu. Hati Aris merasa tenang setelah itu.

***

Aris terpaku dengan seseorang yang mendatangi rumah kontrakannya. Pria muda itu dengan senyum ramah menemuinya.

“Nama Saya Hamzah. Saya anak Bu Aisyah dan ingin menyampaikan terimakasih atas bantuan bapak yang telah menolong ibu saya membawa ke rumah sakit. Ini ada sedikit rezeki untuk bapak yang tak mungkin bisa membalas segala kebaikan Bapak. Mohon tidak ditolak,” ucapnya seraya memberikan sebuah amplop kepada Aris.

“Sebenarnya saya….” Aris tak bisa melanjutkan perkataannya karena terpotong.

“Setiap kebaikan berbalas dengan kebaikan yang dilakukan. Saya tak bisa lama karena harus ada yang saya kerjakan. Assalaamu’alaikum,” ucap Hamzah dan pergi meninggalkan Aris yang tak percaya dengan kejadian itu sambil memegang amplop pemberian Hamzah.

Aris sadar Allah tahu akan kebutuhan hamba-Nya. Aris sadar angkutan kota bukan jaminan ia mendapatkan rezeki tetapi itu hanya karena dirinya berikhtiar dan ternyata Allah penjamin rezeki bagi manusia yang ada di atas dunia ini. Akhirnya Aris pun melakukan sujud syukur di atas lantai rumah sewaannya itu.**

Bagikan
Comments
  • Atiek

    Bagus sekali

    Juli 29, 2021
Post a Comment