PENA KAYANA
Oleh: Holy I. Wahyuni*
Kayana menutup malam dengan perasaan bersalah, resah serupa yang selalu hadir saat ia usai mengutarakan kalimat aku belum bisa, aku minta maaf, menandai bahwa ia baru saja menolak pemuda ke sekian yang datang untuk melamarnya.
Kayana bukanlah gadis pemilih yang menyukai pemuda berkendaraan mewah, ataupun yang bereglimang harta, Kayana bukan juga gadis dengan arogansi tingkat dewa. Kayana hanya belum ingin, belum menemukan lebih tepatnya, hakikat dari pemilik cinta dengan setiap rupa-rupa yang disuguhkan di awal. Baginya, masih tampak penuh oleh kepalsuan.
Kayana, pemilik paras elok nan manis, hidungnya mancung, senyum simetris dengan barisan gigi yang rapi dan putih, pipi cempluknya yang meninggalkan kesan imut pada wajah riangnya, dia adalah seorang gadis Jawa yang santun, patuh kepada kedua orang tua, ramah kepada setiap orang, pantas jika banyak yang menyayanginya. Tak berlebihan jika Kayana disebut-sebut sebagai bidadari yang tertinggal di bumi. Dia nyaris sempurna, tak salah seumpama esok atau lusa ada pertikaian berdarah untuk merebutkan hatinya.
Namun Kayana pasti sangat membenci itu terjadi. Bagi Kayana hati bukanlah piala yang dimenangkan oleh seorang pelari maraton ketika ia sampai terlebih dulu di garis finish, hati Kayana justru rela untuk ia yang masih berada di garis start namun dengan ketulusan dan kebaikan-kebaikan yang agung. Dialah Kayana, bunga kampus di sebuah perguruan tinggi kota X.
Kayana, gadis berparas teduh itu, semakin resah tatkala rayuan datang silih berganti tiada henti, sebagai perempuan, dia tidak menyukai itu, ada yang rayuannya berlebihan, bagi Kayana adalah pelecehan, Kayana lelah.
Kayana hanya ingin berlari, tapi tidak untuk dikejar, ia hanya ingin mendaki tak untuk diraih. Entah untuk siapa hatinya kan berlabuh, Kayana memang selalu pandai mengunci segala teka-teki. Senyumnya yang merekah dari bibir merahnya, menambah paras ayu nya. Namun begitulah hati, meski tampak seolah tak sunyi oleh puja nan puji, seolah tak hampa dari cinta dan kasih, sesungguhnya masih menyimpan sekelumit sembilu, sembilu letihnya yang bersembunyi dari segala godaan.
Ia diperebutkan, menjadi penyebab pertikaian kaum adam, bahkan ada saja pemuda kurang ajar yang menjadikan ia bahan taruhan. jika ia tak takut durhaka kepada Sang Penciptanya, sebenarnya ia ingin dilahirkan sebagai Kayana yang biasa saja, jauh dari pelabelan perempuan cantik, namun takdir semesta terlanjur melukiskannya sebagai dewi ayu yang tak bosan tuk dipandang, tak jenuh tuk dikenang.
Barangkali hanya bersama secarik kertas dan pena, Kayana tak pernah berbasa-basi. Kepiawaiannya menulis selalu menyiratkan bahwa di balik paras ayunya ada kecerdasan seorang perempuan yang menjadikannya nyaris tanpa celah. Kecerdasan membuatnya menjadi perempuan yang sangat memegang prinsip.
Meskipun begitu berbagai cibiran tentangnya terkadang datang juga menghampiri, ada saja sekumpulan orang yang menganggap Kayana perempuan yang acap menebar pesona dan harapan kosong kepada setiap lelaki hanya karena keramahannya.
“Sungguh, aku ingin mereka mampu membedakan antara arti berbuat baik dengan arti sundal yang sering mereka cibirkan, aku tak membalas setiap rasa bukan berarti aku tak boleh berbuat baik kepada siapapun kan? aku benar-benar letih,” risaunya pada suatu ketika kepada kedua sahabatnya, Dita dan Sinta.
Sahabatnya pun tak tega, mereka ingin agar Kayana melawan.
“Kay, kalau ada yang berbicara bukan-bukan tentangmu, lawan saja, dih, ingin rasanya ku jambak itu mulut,” sahut Dita.
“Mereka sebenarnya iri Kay dengan mu, tidak apa, semakin tinggi pohon, semakin banyak pula angin yang menerpa,” ujar Sinta menenangkan.
Ringan saja Kayana hanya berbalas
“Tapi biarkan sajalah, namanya juga hidup, tak berhak kita memaksa orang lain suka kepada kita, yang paling penting kita tak pernah mengajari hati untuk membenci.”
Kalimat bijak yang sering terulang diiringi ulas senyumnya yang menyejukkan.
Malam yang bisu, langit hanya menunjukkan hamparan hitam kelam, tak tampak satupun bintang, hiasan malam itu seperti sepenuhnya berada di balik tirai jendela, pada sosok gadis ayu yang jemarinya sedang menari, sebab dengan pena, ia tak pernah berbasa-basi.
10 Januari 2016
Adakah kalimat yang lebih bijak untuk mewakili kata menyakiti
Sebab aku tak ingin menyakiti siapapun
Adakah cara terbaik yang bisa tertempuh selain bersembunyi dan berlari
Sebab aku bukan pecundang, hanya tak ingin memilih
Salahkah jika mawar berduri dan tetap disenangi
Lalu benarkah ilalang yang lambaiannya teduh tapi ia terabai
Jika ada yang lebih diplomatis dari kata benar dan salah
Aku ingin menuliskannya
***
Dante Arrayah, pemuda jalanan dengan kebersahajaan, barangkali hanya pemuda itu yang terlihat paling dekat dengan Kayana, paling memahami Kayana, aneh memang, namun pernyataan klise tentang cinta yang tak beralasan seperti tak lagi menjadi bualan. Ketika banyak yang bertanya cintakah Kayana kepada Dante, Kayana hanya tersenyum, bagi Kayana, daripada merayu, Kayana lebih menyukai sikap Dante yang menghargai dan menghormatinya. Lagi-lagi ia berteka-teki, namun kepada pena tak sekali-kali ia berbasa-basi.
15 Januari 2016
Aku tak ingin tergesa-gesa menutup epilog cerita dengan kata cinta.
Aku hanya ingin bercerita bahwa dengannya aku menjadi diriku dan jiwaku,
bukan sebagai parasku yang serupa lukisan maestro dipuja dan dipuji sana sini.
Aku hanya ingin mengatakan bahwa dengannya aku tak harus anggun,
aku tak harus menjadi putri keraton yang berjinjit tatkala melangkah,
dengan dagu yang terangkat berwibawa,
aku mampu bergelak tawa lepas sebagai diriku,
aku mampu melompat seperti katak atau berjingkrak, bahkan bersorak.
Bahkan ketika sebuah kenyamanan memeluk sanubarinya yang tak pernah sunyi oleh mimpi, ia tetap tak ingin melabuhkan cerita cintanya. Ia masih ingin mengabdikan dirinya untuk petualangan pencarian ilmu, bagi gadis secerdas Kayana, pengembaraan ilmu adalah taman bermain yang mengasyikkan. Dan ia dapat menemukan ilmu hampir pada setiap sudut di bumi ini.
Dia berpetualang dari satu kota ke kota lainnya, dari satu pulau ke pulau lainnya, seabrek kegiatan dan program ekstra untuk mahasiswa dia geluti. Di setiap tanah yang ia tapaki, ia selalu disukai, dijadikan sahabat, bahkan tak jarang kaum adam mengharapkan hatinya meski belum genap satu purnama mereka mengenal Kayana, begitu mudah cinta dibentuk oleh rupa yang tak abadi. Kayana hanya bisa menunduk santun, tersenyum dalam canda, sesekali tertawa renyah, ya, Kayana memang ramah, dia teramat ramah.
September 2016
Hari ini, Kayana kembali mengemasi koper-kopernya, dengan semangat membara dia berpamitan kepada dua sahabatnya bahwa ada kegiatan menarik yang hendak diikutinya.
Pagi sekali Kayana ragu menapak tanah basah hari ini setelah tersiram hujan semalam, langkahnya terasa berat tatkala berjalan melewati peron, sepuluh menit lagi keretanya akan berjalan, namun ia tetap dengan langkah gontai. Tak seperti Kayana yang biasanya lincah nan energik, entah, mungkin sebab ia berat meninggalkan kota dengan sejuta kenangan dalam waktu cukup lama, tampak ia menoleh sejenak, melambai kepada dua sahabatnya yang mengantar kepergiannya ke kota Hujan, disana ia berharap menemukan warna baru pada lukisan pelangi, ia akan pergi untuk mengenyam pendidikan singkat selama enam bulan mewakili kampusnya, langkahnya semakin berat ketika menaiki kereta api, ia duduk dan membuang muka ke jendela, itu adalah kebiasaanya ketika menikmati perjalanan.
Saat ini ia sedang menikmati hijaunya sawah. Lalu ia keluarkan pena bersama bukunya, sekali lagi ia sedang tak ingin berbasa basi dengan pena nya.
Aku merasakan tanah basah pagi ini seakan-akan ingin bermain teka-teki denganku,
ia menyembunyikan sebuah rahasia yang ingin kusibak.
Apa yang berada dalam di balik basahnya tanah?
apakah kubangan tempat pelangi bersembunyi saat tak tampak?
Aku ingin menujunya, dapatkah aku meraih tangga untuk ke bawah sana?
Ke tanah basah itu,
lalu aku pikir,
aku akan menemukan pohon ajaib menjulang langit dari sebiji kacang yang ditanam seperti di negeri dongeng masa kecil,
kemudian aku akan memanjatnya dan berjumpa mega yang menari,
aku akan sampai pada kahyangan,
aku merasa sangat dekat, aku bahagia
sebab akhirnya aku temukan taman bermain yang tak pernah sunyi, tempatku beristirahat setelah banyak penat.
Dan pada akhirnya Kayana memang hanya untuk semesta, Kayana hanya bidadari yang tersesat sesaat di bumi, yang ketika ia menemukan jalan pulangnya ke kahyangan, ia akan kembali dan meninggalkan sejuta kata pujangga bagi pengagumnya, ia juga meninggalkan Dante Araya, pemuda jalanan yang selalu mengajaknya menari dengan gelak tawa yang memecah senja. Yang mengajaknya berjingkrak kala hujan, namun ia tetap tak pernah dimiliki, sebab ia tak ingin berjanji kepada siapapun di bumi, ia telah berjanji dengan janji yang lebih abadi.
Peristiwa naas, kecelakaan maut yang disebabkan kereta api berguling pada hari itu telah merenggut nyawa Kayana, dia sempat kritis beberapa hari, hingga hari dimana dia benar-benar harus pergi. Malam itu, Kayana diiringi semua orang yang menyayanginya, mengantarkannya menemukan taman bermain yang selama ini dimimpikannya, di kandung bumi. Peristiwa kecelakaan itu menjadi drama tragis yang banyak tak dipercayai orang, Kayana dan senyuman manisnya masih menyisakan isak yang menyesakkan dada, ratusan bela sungkawa datang, tangis kehilangan masih terus basah, terlalu cepat semesta meminta bidadari sepertinya untuk berpulang.
Seolah mengisyaratkan kepada bumi, bahwa satu mutiara berharganya tak boleh dipersunting oleh sembarang penghuni, pantas ia tak pernah memilih untuk berjanji, satu-satunya janji yang pernah ia ucap adalah, ia tak kan pernah dendam dan membenci. Ia ada untuk tersenyum lalu menjadikan sekitarnya teduh, Sebab Kayana selalu membalut kenangan pada setiap sudut di bumi bagi siapa saja yang pernah mengenalnya, meski sesaat.
Kini bidadari jelita itu telah menemukan jalan pulangnya, di pangkuan pemilik semesta. Jika ada pelangi yang melengkung membelah mega, atau burung yang mengepak terlalu tinggi di angkasa, sampaikan kerinduan bumi kepada si cantik Kayana, bumi teramat menyayanginya.
