Sayap-Sayap Malaikat (2)
Oleh : Nur Fitriana*
Sayap Malaikat
Aku bergegas mematikan telepon dan membuka amplop itu, aku sangat terkejut ternyata amplop itu berisi uang yang jumlahnya sangat banyak. Aku langsung bergegas menelpon kembali suamiku.
“Yah, amplopnya berisi uang,”ujarku
“Loh, uang?” jawab suamiku dengan rasa kaget.
“Ayah, pernah dititipin Pak Joni untuk membelikan sesuatu gak?, mungkin ayah lupa,” kataku menegaskan suamiku yang suka lupa.
“Gak pernah, coba nanti tak tanyakan Pak Joni,” sahut suamiku.
Keesokan harinya suamiku menemui Pak Joni di kampus sekalian mengantarkanku ke kantor, dan akhirnya suamiku bertemu dengan Pak Joni.
“Pak, kemarin itu uang apa ya pak?” tanya suamiku ke pak Joni.
“Uang itu untuk mas Doni dan keluarga,” ujar pak Joni.
“Loh pak, dalam rangka apa ini pak?” jawab suamiku.
“ Tidak dalam rangka apa-apa ingin saja ngasih uang,” sahut pak Joni
“ Ya Allah…Terima kasih banyak pak,” kata suamiku sambil berkaca-kaca matanya.
Ya Allah…Engkau kirimkan sayap malaikat kepada kami, kami tidak menyangka ada orang sebaik beliau, Alhamdulillah uang itu bisa kami buat beli beras untuk makan anak-anak kami. Baru kali ini ada orang sebaik beliau, semoga beliau dirahmati dan ditambah rizkinya. Amin.
Berusaha bangkit
Beberapa hari kemudian, aku sudah memulai menikmati hidup seperti sekarang, yang penting kami selalu berusaha dan berdo’a agar kami diberi rizki yang lapang. Sudah lama aku menginginkan sebuah tas, tasku sudah mulai agak robek, tapi nantilah beli kalau suamiku sudah mendapatkan pekerjaan baru, yang penting masih bisa dipakai meskipun robek-robek sedikit tidak apa-apa.
Aktifitas kerja seperti biasa, tiba-tiba di meja kantorku ada sebuah paketan kotak besar, itu membuatku sangat kaget, aku merasa tidak belanja online, buat makan saja susah apalagi belanja online.
“Kak ada paketan?” kata Lia teman partime.
“Dari mana? Aku gak belanja online,” jawabku dengan agak kebingungan.
Aku mendekati paketan itu, tertulis nama, alamat, nomer HP dengan lengkap dan benar, kebingungan semakin menjadi-jadi, rasa takut juga menghantui, pengiriman misterius itu membutku resah, baru aku alami sekarang seumur hidupku.
Aku sudah menanyakan ke suamiku perihal paketan tersebut, namun suamiku juga tidak memesan secara online, aku tidak punya keberanian membuka paketan itu. Aku menuruti saran teman-teman partime agar membukannya di rumah saja. Dan akhirnya paketan itu kubawa pulang dan membukanya pelan-pelan dengan suamiku.
Dengan rasa dag,dig,dug kubuka perlahan-lahan dengan menggunakan kayu karena takut itu bom, dan isinya sangat mengejutkan, lagi-lagi rizki itu sudah diatur oleh Allah, Syukur Alhamdulillah isi paketan itu salah satunya ada tas dan jajan kesukaanku. Sayap malaikat itu hadir kembali membawakan tas untukku, ternyata paketan itu pemberian dari teman-teman partime.
Sayap malaikat yang selalu datang
Hampir setiap bulan sayap malaikat itu selalu ada menghampiriku, pak Kukuh merupakan partner kerja se-unit denganku, beliau merupakan malikat penyelamat bagiku, hampir tiap bulan beliau memberikan aku uang meskipun itu tidak banyak, namun uang itu sangat bermanfaat buatku.
“Dik, ini buat beli susu si kecil,” kata pak Kukuh sambil menyodorkan tangannya.
“ Terima kasih banyak pak,” sahutku sambil mengambil uang dari tangan pak Kukuh.
Semoga pak Kukuh, diberikan kesehatan dan rizki yang banyak, pemberian dari beliau sangat berarti bagiku, aku bisa menyambung hidup dan bisa membelikan kebutuhan si kecil.
Bangkit dan Meraih Kesempatan
Saya-sayap malaikat itu selalu datang padaku, dan beberapa bulan berlalu kami memutuskan untuk mendirikan usaha kecil-kecilan, modal dari pemberian pak Joni sebagian kami buat merintis usaha. Kami berjualan brownis, suamiku setiap pagi mengantarkan brownis keliling ke tokoh-tokoh sekitar tempat tinggal kami.
Udara sejuk, musim bunga tabebuya bermekaran di sepanjang jalan, di desa tempat tinggal kami banyak bunga tabebuya yang bermekaran tiap tahun, dan tahun ini Kepala Desa mengajak warga setempat mengadakan festival bunga tabebuya, festival tersebut bisa diikuti semua orang dan bisa dinikmati warga lain, tak disangka-sangka kami mendapat orderan brownis banyak, tiba-tiba pak RT datang ke rumah hanya unruk pesan brownis kami.
“ Pak, bisa pesan brownis untuk acara festival besok?” Kata pak RT.
“ Oh, bisa pak, nanti saya siapkan dan saya antarkan sekalian ke tempat acaranya.” Jawab suamiku dengan raut wajah yang sumringah.
“Oke pak, aku percayakan ya sama pak Doni ya,” Ujar pak RT.
“ Iya pak, terimakasih sudah percaya sama kami.”Jawab Suamiku.
Setelah acara selesai, suamiku mulai melamar pekerjaan kembali sambil menjual brownis, setiap hari fokus mencari lowongan pekerjaan, persiapan tes dan hampir tiap malam belajar, pagi sampai siang keliling tokoh-tokoh dan malam mulai mengerjakan persiapan tes. Dan akhirnya perjuangannya tidak sia-sia meskipun dengan tumpahan air mata, akhirnya suamiku diterima dengan posisi yang diinginkan.
*Nur Fitriana, S.Sy, M.H* adalah Alumni Prodi Hukum Keluarga Islam FAI-UMM dan Staff Administrasi Prodi PAI FAI-UMM
