f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hamka

Mengarungi Samudra Kepenyairan Buya Hamka

Oleh: Ahmad Soleh*

Buya Hamka adalah sosok yang kita kenal sebagai seorang multitalenta. Ia seorang ulama, tapi ia juga merupakan seorang jurnalis. Ia berdakwah lewat ceramah-ceramahnya, tapi ia juga menulis dan berdakwah lewat buku dan karya sastra. Tak cukup di situ saja, ia juga merupakan aktivis organisasi Muhammadiyah yang spektrum pemikirannya melampaui sekat organisasi. Ia ulama tersohor yang pemikirannya dibaca dan diburu di berbagai belahan dunia dan diteliti para peneliti dari Barat dan Timur. Bisa dikatakan Hamka adalah sosok ulama yang komplet.

Bila berbicara masalah agama, saya yakin semua sudah tahu bagaimana pemikiran Hamka, karena bisa dibaca dari buku dan disimak rekaman ceramah-ceramahnya yang tegas dan menyentuh. Bila bicara sastra pun mungkin kita sudah tidak asing dengan novel roman seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah yang sudah diangkat ke layar lebar tersebut. Meski sebenarnya masih bejibun novel roman yang ia tulis dan telah diterbitkan.

Di balik kiprahnya sebagai ulama, pendakwah, jurnalis, dan sastrawan, Buya Hamka juga merupakan sosok yang puitis. Meski memang tak banyak yang mengenal Hamka sebagai seorang penyair. Bahkan, sampai saat ini, saya sendiri belum menemukan buku puisinya yang pernah diterbitkan. Kendati begitu, Buya Hamka tak bisa disangkal merupakan penyair yang piawai meramu kata-kata. Beberapa puisinya pernah dipublikasikan di Majalah Panji Masyarakat yang ia pimpin. Beberapa puisi lain berceceran, misalnya di dalam buku Kenang-kenangan Hidup dan mungkin ada juga yang tidak dipublikasikan. Yang jelas, dari beberapa puisi atau sajak yang saya temukan di berbagai sumber, terdapat kekuatan besar di dalamnya yang itu menunjukkan kelasnya Hamka sebagai bukan penyair sembarangan.

Baca Juga  Memahami Ibu dengan Kehamilan yang Tidak Direncanakan
Mari kita simak puisi berjudul “Nikmat Hidup” berikut ini:

Tahan haus tahanlah lapar

Bertemu sulit hendaklah tenang
Memohon-mohon jadikan pantang
Dari mengemis biar terkapar
Hanya dua tempat bertanya
Pertama Tuhan, kedua hati
Dari mulai hidup sampai mati
Timbangan insan tidaklah sama

(Nikmat Hidup, Hamka)

Puisi “Nikmat Hidup” ini sarat akan pesan hidup berupa nasihat dengan spirit religius, yang menjadi ciri karya-karya sastra Hamka lainnya. Pun, bila kita amati bunyi per barisnya, tampak sekali warna syair klasik yang menghadirkan pola bunyi yang sama pada tiap barisnya. Coba kita simak lagi dalam sajak “Biar Mati Badanku Ini” berikut ini:

Payah benar menempuh hidup

Hanya khayal sepanjang hidup
Biar muram pusaraku sunyi
Cucuk kerah pudingnya redup
Lebih nyaman tidur di kubur

Dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka karangan Rusydi Hamka, anak kandung Hamka, dikisahkan bahwa sajak ini tercipta ketika Buya Hamka merasakan getir dan kecewa lantaran fitnah keji yang dilayangkan kepadanya. Hamka difitnah telah melarikan diri, bahkan dicap sebagai penjilat. “Sekiranya tidak ada iman, mungkin Ayah sudah bunuh diri waktu itu,” kata Hamka kepada anak-anaknya (Rusydi: 2016, hlm 2). Ucapan itu menggambarkan betapa batin Hamka tertungkus dalam nadir kegetiran, sementara yang menyelamatkannya hanyalah iman.

Meski sajak bernuansa klasik ini lahir dari kondisi batin Buya Hamka yang tengah diliputi kecewa, bila kita baca lagi rasanya bisa jadi isinya cocok dengan kondisi yang pernah kita alami dalam hidup ini. Tentu saja, siapa yang tak pernah merasa kecewa dan dikecewakan? Seolah lebih baik mati saja, dibanding hidup tiada dianggap berguna.

Berikutnya adalah puisi yang Hamka tulis pada 1948 di Bukittinggi berjudul “Hanya Hati”:

Hanya Hati

Gajiku kecil
Pencaharian lain tak ada
Kicuh buku aku tak tahu
Korupsi aku tak mahir
Berniaga aku tak pandai

Kau minta permadani
Padaku hanya tikar pandan
Tempat berbaring tidur seorang

Kau minta tas atom
Padaku hanya kampir matur
Kau minta rumah indah
Perabot cukup
Lihatlah! Gubukku tiris

Kau minta kereta bagus
Aku hanya orang kecil
Apa dayaku

Kekayaanku hanya satu, dik
Hati
Hati yang luas tak bertepi
Cinta yang dalam tak terajuk

Bukittinggi, 1948

Bila kita baca dengan penuh penghayatan, puisi cinta ini memiliki kekuatan yang amat besar lewat pengulangan pola kalimat pada baitnya. Sajak satu ini berkisah tentang lelaki tak punya, miskin, kere secara harta benda, tetapi Hamka kembali menyentak dengan menyebutkan harta yang paling berharga di dunia ini: Hati. Kekayaan seorang lelaki yang iya katakan “hanya satu” itu adalah “hati yang luas tak bertepi” yang berisi “cinta yang dalam tak terajuk”.

Baca Juga  Mengenal Masyarakat Jahulu (Part 1)

Selain itu, Hamka juga pernah menulis sajak untuk tokoh, seperti M Natsir dan Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Hamka menulis sajaknya untuk M Natsir sebagai bentuk dukungan kepada Natsir yang waktu itu tengah menawarkan Islam sebagai dasar bagi Republik Indonesia di tengah Sidang Konstituante. Selepas mendengar pidato Natsir, Hamka menulis:

Kepada Saudaraku M. Natsir

Di pertengahan 1950-an itu …
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar

Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa

Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi

Suaramu wahai Natsir, suara kaummu
Ke mana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi

Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu…!

Hamka, 13 November 1957

Kemudian, dalam rangka mengenang kepergian Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Buya Hamka juga menuliskan puisi berjudul “Kepada Arwah HOS Tjokroaminoto” yang disiarkan lewat Majalah Pedoman Masyarakat. Berikut saya kutip bagian akhirnya saja:

…
Engkaulah “Umar” dalam gagahmu,
ksatria besar di wathan kami.
Engkaulah “Said” lembang bahagia,
jadi teladan kepada umat.
Engkaulah “Syukur” pembimbing kami,
pembawa suluh, ikatan kami.
Engkaulah “Amin” teguh setia,
sudi berkurban, pegang amanat.

Allah!!!

lindungilah dia dalam kuburnya.

***

Meski tak dikenal sebagai penyair ternama, Buya Hamka adalah sosok serba bisa dan menginspirasi. Dialah ulama yang telah mampu melampaui zamannya, yang bahkan hingga detik ini pun masih menarik untuk digali sejauh mana kipranya, termasuk dalam hal kepenyairan. Beberapa puisi di atas menjadi bukti bahwa Buya Hamka adalah manusia yang penuh gejolak dan kegelisahan, baik di dalam batinnya, alam pikirnya, maupun pada aktivismenya dalam kehidupan umat dan bangsa.

Baca Juga  Ketika Takdir Terus Menguji

*) Penulis adalah Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Bagikan
Post a Comment