f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kita memilih

Misi Sang Pemimpi (2) : Agen Perubahan

Misi Sang Pemimpi (1): Pelopor Perubahan

Oleh : Fathan Faris Saputro *

Kitalah sang pemimpi, kitalah sang pelaksana. Namun, tampaklah tujuan kita terlalu abstrak, kawan. Kita tak bisa mengartikan “kejayaan Islam” seperti apa di benak kita. Kita juga di pusingkan memaknai Indonesia sebagai “guru perdaban”. Tujuan kita belum terfokus, belum teratur. Belum seperti Nuruddin Zanki yang mengkristalkan mimpinya dengan membuat mimbar yang ia letakkan di tengah kota agar semua jiwa terinspirasi untuk melaksanakan misi raksasa membuka gerbang Baitul Maqdis.

Bayangkan, ketika melihat mimbar Nuruddin itu, seorang ibu akan menyemangati anaknya untuk membebaskan Al-Aqsa: seorang pelajar akan makin giat berlatih untuk mencapai tanah Al-Aqsha: seorang bapak akan giat bekerja mengumpulkan bekal guna membentangkan jalan besar menuju Al-Aqsha kita? Bagaimana dengan mimpi kita untuk mengembalikan kejayaan Islam di percaturan dunia, mengantar Indonesia  menjadi guru perdaban yang bijaksana?

Mari bermimpi tentang masa depan yang cerah. Sekarang, mari kita bayangkan apa yang ingin kita buat dan kita kerjakan di masa depan. Mari bayangkan di otak kita tentang perubahan-perubahan besar di masa depan atas seizin-Nya oleh tangan-tangan genius kitalah semua itu mewujud nyata.

Bayangkan, sekarang. Sudah?

Apa yang kau impikan, sang pemimpi? Jika saya boleh memperlihatkan gambaran yang saya bayangkan, saya akan menggambar masa depan dengan perubahan besar. Suatu hari menuju senja, kita berjalan-jalan di kota Jakarta, kemacetan sudah tiada, jalan-jalan laying menambah kemegahan kota ini. Menara-menara tinggi perusahaan Muslimin begitu gagah. Di salah satu gedung tertinggi , terpampang jam raksasa yang berdenting nyaring ketika dating waktu shalat. Para muazin telah mengumandangkan azan yang saling bersahut, mengagumkan.

Di taman-taman kota yang indah, para remaja membentuk lingkaran mengaji, mereka menghafal Al-Qur’an sembari menunggu waktu berbuka. Pakaian mereka sopan, wajah mereka cerah. Mereka tampak bangga memba dan melantunkan Ayat Allah di pusat kota. Masya Allah.

Baca Juga  Dari Bumi Menuju Langit: Membangun Teologi Pembebasan dengan Wajah Moderasi

Terbayang?

Waktu shalat Maghrib tiba.  Dalam sekejap, pedagang-pedagang dan pejalan kaki merehatkan diri mereka ke masjid-masjid sekitar, sambil membawa Al-Qur’an di dada. Para pekerja berdasi tadi siang telah rapi dengan baju koko, sarung dan peci. Azan berkumandang, dan semua orang tanpa terkecuali meningalkan pekerjaanya, dating menuju masjid, tanpa khawatir kehilangan barang dagangannya. Mobil dan motor berparkir di halaman masjid, lalu dengan segera para pengemudi mengambil air wudhu, berlomba memenuhi shaf pertama.

Di Istana Merdeka, presiden yang baru  saja rapat dengan para menterinya berbuka puasa. Mereka baru saja menjalani puasa Daud. Setelah berbuka, presiden mengimami shalat Maghrib membaca surat ar-Rahman, sembari menangis. Para menteri  di belakangnya terbawa kebeningan suasana dan tak bisa menahan air mata mendengar lantunan bacaan sang presiden yang hafal 30 juz Al-Qur’an. Istana merdeka begitu bercahaya dengan kebeningan jiwa dan keluhuran budi pemerintahannya.

Setelah Maghrib, kita berjalan-jalan menyusuri rumah-rumah di sekitar. Tidak ada lagi riak-riak suara televisi. Tidak ada juga musik radio yang mendengarkan lagu dangdut. Semua keluarga memaksimalkan waktu antara Maghrib dan Isya untuk mentadaburi Al-Qur’an dan berkumpul bersama, tanpa penganggu bernama televisi, handphone, dan kawan-kawanya.

Nyaman, tenang, dan mendamaikan jiwa siapa saja yang melihatnya. Sudahkah terbayang? Sudahkah kawan membayangkan imajinasi yang lain?

Imajinasi adalah Visi

Nah, imajinasi itulah yang akan jadi visi kita. Siapkan tangan dan kaki. Siapkan tenaga dan jiwa. Segarkan pikiran dan perbanyak ibadah. Kita akan memulainya saat ini juga. Imajinasi kita yang membayangkan Suasana kedamaian seperti itu akan kita laksanakan selangkah demi selangkah, sedetik demi sedetik, dengan keyakinan yang seyakin-yakinya. Sungguh, Allah Swt pasti akan mewujudkannya, asal kita mau berusaha memperjuangkannya.

Baca Juga  Misi Sang Pemimpi (1) : Pelopor Perubahan

Kitalah sang pemimpi, kitalah yang menunaikannya. Jangan pernah berharap perubahan akan terjadi begitu cepat, secepat membalik telapak tangan. Semua orang telah tahu bahwa untuk menuju tanggal 31 Desember, di butuhkan 364 hari dari tanggal 1 Januari. Tak bisa, sampai kapan pun, kita tak akan bisa melompat dari 1 januari menuju 31 Desember dalam beberapa saat. Mustahil!

Maka dari itulah seorang Muslim yang akan menjadi agen perubahan dituntut untuk menguasai keadaan, mengerti dunia dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekilingnya. Bukan bertindak instan, bermimpi Islam Berjaya, lalu merintis langkah. Belum lelah bergerak, jiwa ini sudah terlalu ingin Islam menuju puncak. Visi yang bening, mimpi yang besar, dari situlah kita punya energy yang terus  berpacu. Dan akhirnya, kita tularkan pada kawan, keluarga, bahkan nanti anak keturunan kita.

*) Penulis adalah pegiat literasi dan juga mahasiswa Semester IV Program Studi Ilmu pendidikan Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Paciran, Lamongan

Bagikan
Post a Comment