f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
emak

Emak Vs Emak : Ke mana Larinya Empati?

Oleh : Afiefa Kesumawati*

Aku duduk terdiam di ujung dipan. Bulir-bulir bening dari sudut mata sepertinya tidak lagi bisa tertahan. Sekuat tenaga kurapatkan bibir, aku kembali menangis dalam diam. Bukan sekali dua kali aku harus menahan perih, ketika satu persatu tamu yang mengunjungiku sesaat setelah aku melahirkan mempertanyakan keputusanku memberikan susu formula kepada bayiku. Sekuat hati tetap kusunggingkan senyuman sampai mereka beranjak pulang.

“Asi itu makanan terbaik untuk bayi lo.”

“Masak sudah menyerah begitu aja, kamu gak mau memberikan yang terbaik untuk anakmu?”

“Menyusui itu proses alamiah lo, setiap ibu pasti bisa.”

“Masa tega seh, anaknya dikasih susu sapi, anak sapi dong.”

“Ibu yang sempurna itu ibu yang memberikan asi untuk bayinya”

Hanya Karena….

Walaupun dituturkan dengan nada bercanda, sederet komentar itu rasa-rasanya seperti luka yang disiram air garam. Aku sebenarnya sepakat bahwa asi itu memang makanan terbaik untuk bayi, ‘cairan emas’ yang komposisinya tidak tergantikan dengan susu formula semahal apapun. Bukan karena aku tidak mau bangun tengah malam untuk menyusui, bukan juga karena aku tidak mau kerepotan harus lama-lama berdiam di rumah karena memang bayi akan menempel terus dengan emaknya, bukan juga karena aku tidak mau memperjuangkan yang terbaik untuk bayiku, tapi aku sendiri punya alasan medis sampai akhirnya menyerah pada susu formula.

Terkadang kalau mengingat momen itu masih sering terasa sisa-sisa luka. Sesama emak mestinya sama-sama bisa merasakan beratnya perjalanan dari hamil-melahirkan-menyusui. Akan tetapi justru dari sesama emak penghakiman ‘bukan ibu yang sempurna’ terlahir.

Bukan hanya masalah asi-sufor saja, persoalan melahirkan normal dan operasi caesar juga rame jadi bahan perseteruan. Emak-emak yang dapat melahirkan secara normal mengklaim dirinya adalah ibu yang sempurna.  Operasi caesar kadang dianggap sebagai kekurangan pada seorang ibu. Ada anggapan bahwa ibu yang melahirkan secara caesar telah gagal menjadi ibu karena tidak merasakan proses alamiah melahirkan.

Baca Juga  Hak Pekerja Perempuan dalam Bayang-Bayang RUU Cipta Kerja

Perbedaan Pendapat Apa Yang Terbaik?

Tidak selesai sampai disitu, perseteruan emak vs emak ternyata masih ada episode barunya. Terkait pemberian makanan pertama untuk bayi, mpasi bahasa nge-trendnya. Makanan terbaik sebagai pendamping asi itu makanan yang dibuat sendiri, jelas bahan dasarnya, pasti  terjaga kebersihannya, dan yang pasti terjamin nilai gizinya. Makanan instan itu ada pengawetnya, ada kandungan gula dan garamnya, bayi tidak bisa merasakan rasa asli dari bahan makanan. Begitu kira-kira klaim emak-emak yang tidak pro pada makanan instan untuk bayi. 

Ironisnya, komentar emak-emak di dunia maya tentang normal vs caesar, asi vs sufor, ataupun homemade vs instan jauh lebih sadis. Alih-alih kita ingin support ketika menuliskan cerita melahirkan secara caesar, kegagalan memberikan asi eksklusif, ataupun ketika memilih mpasi instan, justru yang kita dapat seringkali hujatan. Walaupun tidak semua emak seperti itu, tapi satu komen saja yang menghujat, rasanya sudah ambyar. Tidak ada lagi rasa empati.

Upaya Memberi yang Terbaik

Setiap ibu pasti ingin melahiran secara normal. Segala upaya dilakukan demi menghindari persalinan secara caesar. Berusaha menjaga pola makan, menjaga kondisi fisik mulai dari senam hamil, rutin jalan pagi setiap hari, ngepel lantai rumah, tujuannya hanya agar sang jabang bayi keluar dengan lancar. Rutin berkomunikasi sejak dalam kandungan juga dilakukan. Segala wejangan dari orang tua juga berusaha dikerjakan. Dan tak lupa berdoa agar diberi proses kelahiran yang lancar.

Dengan segala usaha, pasti membayangkan proses persalinan akan berjalan indah dan menyenangkan layaknya proses persalinan para artis di instagram. Akan tetapi ada banyak kondisi yang mengharuskan seorang ibu harus melahirkan secara caesar. Plasenta previa, posisi sungsang, persalinan normal yang berjalan sangat lambat, panggul ibu terlalu sempit, dan masalah kesehatan pada ibu adalah sedikit alasan ibu harus melahirkan caesar.

Baca Juga  Menangkal Pemikiran Ekstrimis Lewat Taman Pendidikan Al-Qur'an

Begitupun dengan proses menyusui. Pada kasus saya misalnya. Kegagalan menyusui secara eksklusif pada anak pertama ternyata menyisakan baby blues syndrome yang cukup menyiksa. Karena itu saya bertekad harus lulus asi eksklusif untuk anak kedua. Beberapa kelas menyusui saya ikuti, buku-buku tentang menyusui juga saya borong, aktif di beberapa group tentang asi di media sosial, semua semata-mata agar sukses menyusui untuk anak kedua.

Nyatanya, saya kembali harus berbesar hati memberikan susu formula sebagai pendamping asi untuk anak kedua. Saya bukanlah ibu dengan produksi asi yang melimpah. Padahal semua makanan yang diyakini bisa meningkatkan produksi asi sudah saya konsumsi. Tak ketinggalan juga minuman dan suplemen pelancar asi. Saya tentu tidak ingin kecolongan lagi, anak pertama hampir divonis gagal tumbuh karena kekurangan asi pada awal-awal kelahirannya.

Kondisi Keluarga yang Berbeda-beda

MPASI instan ataupun membuat sendiri sebenarnya juga sah-sah saja. Karena setiap keluarga tentu punya kondisi yang berbeda. Ibu bekerja misalnya, tentu akan kerepotan sekali ketika setiap kali waktu makan harus memasak sendiri makanan untuk bayinya. Maka jatuhlah pilihan pada MPASI instan. Buat ibu yang memang lebih banyak beraktivitas di rumah tentu akan lebih memilih membuat sendiri makanan untuk anak-anaknya. MPASI instan atau membuat sendiri masing-masing memilik kelebihan dan kekurangan.

Sudah sepatutnya sesama ibu kita harus saling berempati. Tidak perlu lagi saling menghujat dan mengklaim dirinya ibu yang sempurna. Melahirkan secara caesar, memberikan susu formula, atau memberikan MPASIinstan pasti adalah pilihan sulit. Setiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Hargai setiap pilihan ibu. Rasa empati memang tidak dilahirkan begitu saja. Perlu diasah dan dilatih. Sebagai orang tua tentu kita sama-sama perlu belajar agar kelak anak-anak kitapun memiliki rasa empati. Karena anak-anak perlu contoh konkret, tentunya dari orang tua mereka.

Baca Juga  Insecure Kepada Orang yang Good Looking

*) Penulis adalah entrepeneur yang memiliki hobi bercocok tanam, membaca, menulis

Bagikan
Post a Comment