f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anjing

Peto si Anjing Jalanan

Dia adalah Peto, seekor anjing jalanan berbulu hitam putih yang akhirnya bertemu Sang Pencipta.

“Tuhan, aku sedih, selama hidup, aku bertemu dengan banyak orang yang suka menyakiti hewan. Aku merasa kasihan pada teman-temanku yang masih di dunia yang hidup di jalanan, mereka lapar, haus, kepanasan, kehujanan, dan sering disiksa tanpa sebab oleh manusia.”

Peto tadinya salah satu dari anjing jalanan itu. Sebenarnya ketika Peto masih kecil, dia mempunyai keluarga, seorang anak perempuan bernama Adelina dengan ayah ibunya. Peto sangat menyayangi mereka walaupun dia sering dimarahi ayahnya karena suka menggigiti sepatu, giginya sangat gatal, dan dia merasa harus menggigit sesuatu.

Ibunya juga sering membentaknya waktu dia menggonggongi orang yang datang ke rumah, padahal dia hanya ingin melindungi keluarga yang dicintainya dari orang asing. Hanya Adelina yang tidak pernah memarahi Peto dan selalu membagi makanan yang sedang dia makan. Namun bagaimanapun Peto tetap menyayangi ketiganya.

Sampai suatu hari Peto dibawa jalan-jalan naik mobil oleh ayahnya, dan tiba di tempat asing, mereka membawa Peto turun. Tempat itu baunya menyengat, ada bau amis, bau sampah, penuh orang asing lalu lalang. Peto tidak menyukai tempat itu, sangat membuat tidak nyaman. Dia ingin segera pulang. Namun ketika melihat ke atas, dia tidak menemukan ayahnya. Dia panik, mencari ke segala arah, namun tetap tidak menemukan dia. Mobilnya pun sudah tidak ada.

***

Dia dibuang…Peto dibuang.

Keluarga yang disayanginya tidak menginginkannya lagi, tanpa tahu apa kesalahannya.

Sejak saat itu, Peto menjadi anjing jalanan, dia berusaha mencari jalan pulang, tapi dia tidak tahu arah, selama 2 tahun hidupnya Peto tidak pernah menempuh perjalanan sejauh ini. Dia lapar, ketika dia melihat wanita yang sedang makan di taman kota, dia langsung duduk menatapnya. Biasanya Adelina akan melemparkan dia sepotong sosis jika dia melakukan hal itu. Namun kali ini yang didapatkannya malah lemparan batu besar, wanita itu berteriak ketakutan seolah-olah Peto akan menyerangnya

Baca Juga  Belenggu

“Tidak, Kak, aku tidak akan menggigitmu, aku hanya ingin sedikit saja makananmu, karena aku lapar”, namun bahasa mereka berbeda, yang keluar dari mulut Peto hanya gonggongan, yang malah membuat wanita itu makin ketakutan. Beberapa saat kemudian banyak orang lain datang untuk mengusir Peto, ada yang membawa kayu panjang, dia memukul Peto tepat pada luka di kepala yang tadi terkena lemparan batu. Peto langsung lari sekencang-kencangnya dari mereka yang hendak menyakitinya.

***

Hari demi hari, berubah menjadi bulan dan tahun. Setelah setahun lebih  menggelandang di jalan, dia banyak bertemu anjing jalanan lain. Ada yang berusaha menyerangnya untuk mempertahankan daerah kekuasaannya, namun banyak juga anjing dan hewan lain yang menjadi temannya, bahkan ada kucing yang menjadi temannya, namanya Leia, kucing berhidung rata berbulu putih lebat dengan kalung di lehernya.

Leia sangat cantik, jelas sekali dia bukan kucing jalanan, walaupun bulunya terlihat kusam terkena debu. Ternyata sudah 2 hari dia tersesat, Leia menangis terus menerus karena dia tidak mempunyai kemampuan seperti kucing lain yang bisa mengingat jalan pulang. Dia sangat merindukan tuannya, seorang anak perempuan bernama Lisa. Peto langsung teringat Adelina, sekian lama tidak bertemu, tidak membuat rasa rindunya berkurang pada Adelina.

Beberapa hari Peto dan Leia berkelana bersama mencari apapun yang bisa menjadi petunjuk ke arah rumah Leia. Mereka beristirahat di dekat pasar tempat Peto dibuang, sambil mengacak tempat sampah mencari sisa-sisa ikan untuk Leia makan.

“Leiaaaa…siniii, aku diberi nasi dus sisa oleh ibu yang jual sosis !”, seru Peto dengan semangat sambil menyeret dus isi nasi yang dicampur sisa-sisa sosis.

Namun dia menemukan Leia sedang digendong oleh seorang anak perempuan yang sedang menangis sambil memeluknya, “Leiaa, aku mencarimu kemana-mana, maafkan aku lalai menjagamu.”

Baca Juga  Sebermula Siksa

Tampaknya anak perempuan itu adalah Lisa. Peto ikut merasa senang karena Leia bisa kembali ke rumahnya, ke tempat orang yang dia sayangi. Namun dia juga sekaligus merasa sedih karena dia akan kembali berkelana sendirian. Sambil menatap Leia yang sedang berbahagia, dia mendengar suara yang sangat dia rindukan berseru dari seberang jalan, “Lisa! Benarkah itu Leia?”

ADELINA

Itu Adelina!

Jantung Peto berdegup sangat kencang, darahnya terasa mengalir semua ke kepala, dia tidak tahu harus melakukan apa saking bahagianya, yang dia perhatikan sekarang adalah sebuah mobil yang melaju cepat tidak terkendali meluncur ke arah Adelina.

Naluri Peto yang menggerakan badannya, naluri setiap anjing yang selalu mengutamakan keselamatan pemiliknya daripada dirinya sendiri. Cintanya pada Adelina tak berbatas tak terhenti dimakan waktu, yang membuat dia langsung berlari menerjang Adelina, mendorongnya, menggantikan Adelina yang akan tertabrak mobil.

Keinginan Peto terjawab. Malang, tapi dia bahagia bisa menyelamatkan pemiliknya, dan mati dalam pelukannya. Hal terakhir yang Peto lihat sebelum menutup mata adalah wajah menangis Adelina, “Jangan menangis Adelina sayang, aku akan meminta Tuhan mengembalikanku di sisimu,melindungimu walau dalam bentuk yang lain, mungkin aku akan meminta dilahirkan menjadi anjing lagi,dan akan mencarimu lagi,” lirihnya dalam hati.

Lalu dia terpejam, dan bangun lagi tanpa rasa sakit yang tadi dirasakannya, dia bangun, melihat Adelina masih menangis tersedu-sedu memanggil namanya sambil memeluk jasadnya, ditemani Lisa dan Leia di sampingnya. Di sisi yang lain, Peto melihat jembatan pelangi dekat dari tempat dia berdiri, pelangi itu bersinar, ada anjing lain disana yang sama bersinarnya dengan pelangi itu, memanggil-manggil Peto supaya mengikutinya.

Ketika menginjakkan kakinya di atas pelangi itu badannya langsung terasa ringan, bulunya bersih dan wangi, dan rasanya bahagia. “Perasaan apa ini, bahagia sekali rasanya,” pikirnya. Dia menoleh ke lagi ke belakang menatap Adelina yang masih memanggil namanya, “Terima kasih untuk semuanya, aku lega dan bahagia karena tahu kau masih menyayangiku selama ini, walaupun hidupku kurang baik, banyak penderitaan di dalamnya, namun aku bersyukur.”

Baca Juga  Pulanglah, Nak

“Sampai bertemu lagi, Adelina.”

Bagikan
Post a Comment