Nyi Ageng Serang, Perempuan yang Melintasi Zaman
Saya lahir dan besar di Kulon Progo, salah satu kabupaten di Yogyakarta. Jadi, saya ini Kulon Progo totok. Kalau bicara tentang kabupaten yang terkenal dengan gebleg rentengnya ini tentu akan dekat dengan ikon ‘Patung Kuda’ di tengah kota Wates itu.
Bagi beberapa orang yang sering bepergian ke seputaran Jawa bagian Timur menuju ke arah Barat atau sebaliknya tentu tak asing dengan landmark ini. Pasalnya patung tersebut ada di jalan lintas provinsi yang pasti kendaraan umum. lewati
Ketika beberapa waktu lalu saya membaca feed Rahma yang berkenaan dengan pahlawan perempuan favorit. Langsung terlintas dalam benak saya sosok Nyi Ageng Serang ini. Seorang perempuan gagah berani yang menaiki kuda perkasa dengan tombak di tangannya.
Akhirnya, tentu saya mencari referensi yang pas untuk mendukung tulisan tentang Nyi Ageng Serang. Kalau melihat kegagahannya dalam berperang, saya jadi ingat Mulan. Seorang perempuan yang cantik menawan tetapi jago beladiri dan ikut serta dalam peperangan.
***
Nyi Ageng Serang bernama Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Beliau merupakan putri bupati Serang yang pandai berperang. Perlu diingat, nama Serang ini disematkan sesuai kota kelahirannya, Serang. Tetapi bukan Serang yang ada di Banten itu, lho! Wilayah Serang-nya Nyi Ageng Serang sekarang ada di perbatasan Purwodadi-Sragen (Jawa Tengah).
Jika Mulan belajar teknik perang secara sembunyi-sembunyi, berbeda dengan Nyi Ageng Serang. Secara sengaja beliau belajar berbagai macam teknik dan siasat perang bersama prajurit laki-laki. Tentu saja dalam wujud perempuan tanpa penyamaran.
Bahkan dalam perang Diponegoro, pasukan perang Nyi Ageng Serang ditakuti Belanda. Beliau menjalankan taktik siasat Daun Lumbu. Sebuah penyamaran perang menggunakan daun lumbu. Mirip cara penyamaran perang yang sering kita lihat di film-film itu, ya!
Sungguh sikapnya tersebut melampaui zaman menurut saya. Di saat perempuan lain masih terbelenggu dengan berbagai kekangan karena terlahir sebagai ‘perempuan’. Nyi Ageng Serang sudah belajar tata cara perang. Tentu privilege ini tak luput dari campur tangan sang ayah, Panembahan Natapraja. Dan sudah barang tentu pemikiran ayah beliau juga sudah sangat terbuka terhadap kemerdekaan seorang perempuan.
Boleh jadi Nyi Ageng Serang kalah pamor daripada R.A Kartini atau Cut Nyak Dien. Tetapi, siapa sangka kalau keturunan beliau menjadi tokoh penting bangsa ini. Menurut pernyataan yang saya baca pada laman Balai TekKomDik, Ki Hajar Dewantara merupakan keturunan beliau. Dan Nyi Ageng Serang sendiri adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga.
***
Sebuah pertanyaan yang akhirnya muncul di benak saya. Mengapa patung Nyi Ageng Serang menjadi landmark kabupaten Kulon Progo? Setelah saya telusuri ternyata ia dimakamkan di Kalibawang (salah satu kecamatan di Kulon Progo).
Satu hal yang unik dari kehidupan Nyi Ageng Serang adalah kemampuannya yang selalu mendapat dukungan penuh oleh lelaki dalam kehidupannya. Pertama, tentu saja oleh ayahnya. Lelaki pertama, cinta pertamanya yang menanamkan keluhuran budi perkerti dan memerdekakan haknya untuk belajar. Jika saja ayah beliau layaknya laki-laki jaman dulu yang menempatkan wanita di belakang layar, sekedar pemanis rumah, mana ada patung beliau di kota Wates itu.
Kedua, Pangeran Kusumawijaya suami Nyi Ageng Serang. Mereka berdua merupakan sejoli yang memiliki jiwa patriot yang tinggi. Kehadiran suami justru makin mengguatkan keteguhan beliau untuk melawan Belanda. Seperti kita ketahui, satu dari kisah dramatis seorang perempuan adalah kehidupan rumah tangga. Di mana seorang perempuan menjadi istri, partner seumur hidup lelaki pilihannya yang disebut suami.
Saya masih sangat meyakini bahwa seorang istri tetap bisa menjadi individu dan punya mimpi karena dukungan suami. Dan hal itu Nyi Ageng Serang peroleh dalam bahtera rumah tangganya. Tentu saja panutan untuk banyak pasangan lain. Dukungan yang kuat tersebut membuatnya semakin tangguh dan gigih melawan penjajah.
***
Namun, pada beberapa peperangan melawan penjajah, lelaki terdekat beliau harus gugur. Ya, beliau kehilangan ayah, saudara lelaki, suami adan anak laki-lakinya dalam perjuangan melawan penjajah. Tapi semangat kebangsaannya tak luntur karena kesedihan kehilangan orang-orang tersayang. Terbukti, setelah kehilangan banyak orang terkasih, beliau masih tetap melanjutkan perjuangan bersama cucunya.
Ketika Pangeran Diponegoro melancarkan aksinya, Nyi Ageng Serang yang kala itu sudah berusia 73 tahun turut bergabung. Tak hanya sebagai penasehat, beliau juga ikut berada di garis depan. Sampai di titik ini, rasanya sangat tidak pantas jika tadi saya menyejajarkan beliau dengan tokoh besutan Disney itu.
Bagaimana tidak, kemampuan dan keberaniannya tak hanya berakhir pada kisah cinta-cintaan. Jiwa patriotismenya nyata. Dan patut menjadi panutan setiap perempuan bangsa ini.
Satu pelajaran saya petik dari kisah Nyi Ageng Serang adalah ketangguhannya sebagai seorang perempuan. Dengan segala carut-marut permasalahan perempuan yang hadir di kala itu. Belum lagi kekalutan hati akan kehilangan banyak orang tercinta, beliau tetap menegangkan kepala. Tetap menyongsong cita-cita di kandung badan hingga akhir hayatnya.
IRT yang suka menulis, mantan Orthopedagog
