f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
akal

Pemerintahan dalam Perspektif Abu Hasan al-Amiri

Berbicara tentang salah satu filosof minor, atau filosof kecil yaitu Abu hasan al-Amiri. Mungkin bagi mereka yang tidak terlalu tertarik mendalami filsafat Islam akan terasa sedikit asing ketika mendengarkan nama tersebut.  

Karena biasanya, yang kita ketahui ketika mempelajari dasar-dasar filsafat Islam hanya sebatas filosof-filosof besar saja seperti Ibn Sina, Ibn Rusyd, Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Khawarizmi, Al-Ghazali, dan Ibnu Khaldun yang biasanya kita kenal sebagai filosof-filosof mayor.

Namun perlu kita ketahui bahwa didalam Islam terdapat banyak filosof-filosof Islam yang namanya tercatat dalam sejarah peradaban Islam termasuk Abu Hasan al-Amiri. Meskipun nama beliau beserta filosof minor lainnya jarang disebut, namun mereka memiliki karya dan pemikiran yang tak kalah hebat.

Abu Hasan al-Amiri

Filosof ini bernama lengkap Abu al-Hasan Muhammad bin Abu Dzar Yusuf al-Amiri an-Naisaburi (w.381 H/ 992M). Beliau seorang filsuf Muslim pada abad IV H/ M. Namanya masih jarang terdengar di telinga umat Islam kebanyakan. Padahal, beliau dikenal sebagai bintang pada masanya.

Bahkan salah satu filsuf terkenal seperti syahrastani dalam bukunya yang berjudul al-Milal wa al-Nihal menyejajarkan al-Amiri dengan al-Kindi, al-Farabi dan bahkan Ibnu Sina. Di samping banyaknya literatur yang mengutip pemikiran beliau.

Amiri menunjukkan bahwa ia merupakan pemikir yang cukup capable dan berpengaruh. Beliau tidak hanya mendalami olah pikir melalui filsafat. Namun, ia juga mengimbanginya dengan olah jiwa melalui sufisme.

Pandangan al-Amiri tentang Pemerintahan

Amiri menyatakan bahwa pemerintahan selalu mengalami pasang surut dalam menjaga stabilitas ekonomi dan politik (bab 4 hal 128). Ia membagi pemerintahan kepada istilah kuat dan lemah. Pemerintahan kuat terlihat dari kelebihan intelektual, etika yang tinggi, dan tidak terlihat bentuk yang menyebabkan kelemahan.

Baca Juga  Mengenal Lebih Dekat Ali Syariati, Menumbuhkan Rausyanfikr

Pemerintahan yang kuat bagi Amiri mampu membebaskan rakyat dalam mengoptimalkan kerja pola pikir rakyatnya, tanpa hambatan apapun dalam mencapai kemajuan bangsa. Sedangkan pemerintahan yang lemah menurut Amiri ialah pemerintahan yang lemah birkorasinya, kurang dari segala segi kemampuan baik itu intelektual maupun etika.

Ketika suatu birokrasi pemerintahan yang lemah dengan minim etika dan intelektual maka cepat atau lambat masyarakat akan hidup dalam kobaran api kesengsaraan; yang bahkan bisa melahirkan berbagai permusuhan akibat dari gagapnya birokrat dalam menjalankan roda kepemimpinan.

Sedangkan Islam menyeru pemerintah untuk menciptakan masyarakat yang saling bekerjasama dalam ikatan persaudaraan dam persahabatan. Islam tidak menghendaki situasi yang sebaliknya, di mana rakyat hidup dalam perpecahan yang menimbulkan percikan permusuhan, kecuali permusuhan kepada para penentang umat beragama.

Di samping itu, menurut al-Amiri berpolitik itu memiliki porsi tersendiri, tujuan dan kepastian pada dua hal yaitu; pertama bagian utama politik adalah kepemimpinan, tujuannya tidak lain atau tidak bukan ya untuk memperoleh kebahagian abadi. Kedua politik adalah untuk menenangkan, tujuannya untuk memutuskan kesengsaraan atau bahkan permusuhan ketika adanya perbedaan pendapat.

Agama dan Politik

Politik yang baik, menurut al-Amiri, ialah politik berasaskan kebajikan. Karena itu para penguasa atau pemimpin bangsa ialah manusia pilihan dengan moralitas, etika yang tinggi dan teladan bagi rakyatnya. Karna agama yang paripurna ialah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas.

Peran agama dalam pemerintahan bisa dikatakan cukup besar. Apabila penguasa mines akhlak, maka agamalah bertindak sebagai pembimbingnya. Lebih lanjut, menurut amiri ada dua faktor penentu bagi kemajuan suatu bangsa, yaitu perpaduan yang solid antara kekuatan ruhani dan politik.

Di sini, Islam juga mengajarkan pentingnya mengejar materi dunia di samping mengejar pahala untuk bekal akhirat. Ini merupakan suatu anjuran yang sering diabaikan oleh agama-agama yang lain. Contohnya seperti agama yahudi yang mengutamakan kehidupan materialis secara berlebihan, dan kristen berlebihan dalam masalah keruhanian.

Baca Juga  Kartini Dan Pemberdayaan Politik Perempuan

Sementara Islam memegang prinsip keseimbangan antara dua sisi ektrim tersebut yang dikenal dengan Islam Wasathiyah. Islam juga sangat menghargai hak manusia secara individu dan sosial dan menuntut kemerdekaan yang penuh baik itu potensi, etika, dan perbuatan manusia untuk kemaslahatan bersama.

Bahkan tidak berlebihan jikalau Islam terlihat lebih toleran dari Majusi, Zoroaster, dan Persia. Dalam pemerintahan persia saja contohnya, mereka menetapkan kasta-kasta di tengah masyarakat berdasarkan keturunan bukan kemampuan ataupun keahlian yang dimiliki.

Kenyataan inilah menurut Amiri perpaduan Islam dengan pemerintahan itu sangat relevan, karna Islam merupakan agama ideal bagi terbentuknya pemerintahan yang kuat seperti yang telah Nabu Muhammad Saw terapkan; yang menggabungkan kekuatan ruhani (kenabian) dengan kekuasaan politik (pemerintahan). Penulis harap pemikiran dari amiri ini menjadi pertimbangan bagi ahli-ahli politik sebagai salah satu alternatif kita juga dalam mencapai kemajuan bangsa.

Bagikan
Post a Comment