Pejuang Perempuan itu bernama Johana Sunarti Nasution
Johana Sunarti Nasution binti Raden Panji Gondokusumo lahir di Surabaya, 1 November 1923. Wafat pada usia 87 tahun, tepatnya 20 Maret 2010. Jasadnya dimakamkan di Taman Makan Pahlwan Kalibata. Makamnya terletak di sebelah makan suaminya yaitu Jenderal Besar Dr Abdul Haris Nasution.
Namanya cukup diingat publik di antaranya karena peristiwa penyerbuan pasukan Cakrabirawa yang hendak menculik Jenderal Besar Abdul Haris Nasution pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30SPKI) yang mengakibatkan tertembaknya anak keduanya yaitu Ade Irma Suryani.
Selain itu Johana tentunya memiliki peran besar sebagai pasangan atau istri dari Jenderal Besar A.H Nasution. Abdul Haris Nasution merupakan pahlawan nasional, disebut-sebut sebagai bapak Angkatan Darat dan penulis buku Pokok-Pokok Gerilya dan menulis konsep perang territorial yang semenjak tahun 1960 resmi digunakan oleh TNI Angkatan Darat sebagai doktrin pertahanan nasional.
Pejuang Sosial dan Pendiri Banyak Yayasan
Johana Sunarti Nasution tentu tidak hanya pendamping seorang jenderal, namun sosok ibu atau perempuan yang peduli dengan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Dia aktif mendirikan banyak yayasan di Indonesia. Tentu pendirian yayasan tersebut demi kepentingan sosial. Yohana tercatat di antaranya mendirikan Yayasan Bina Wicara “Vacana Mandira”, Yayasan Jambangan Kasih, Yayasan “Pembinaan dan Asuhan Bunda”, Yayasan “Panti Usada Mulia”, dan Yayasan Santi Rama.
Mengutip laman Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), nama Johana tercatat memiliki peran besar dan penting terbentuknya DNIKS. Sejarah dimulai Johana didaulat menjadi pimpinan Badan Kerja sama Panti Asuhan (BKSPA).
BKSPA ketika itu tumbuh, dan berkembang pesat. Berbagai kegiatan sosial BKSPA didanai oleh sejumlah donator dari Eropa, Australia, Kanada bahkan Jepang. Organisasi nirlaba yang telah menjadi wadah bagi ekspatriat wanita Amerika Serikat dari berbagai negara yaitu American Women’s Association turut mendukung,
Deklarasi pembentukan DNIKS digelar sederhana namun penuh makna di kediaman Johana Sunarti Nasution di Jalan Teuku Umar No. 40, Menteng, Jakarta Pusat , pada tanggal 15 Juli 1967.
Ada tujuh tokoh yang mendeklarasikan DNIKS ketika itu dan mereka merupakan mantan delegasi Indonesia pada konferensi The 13th International Conference of ICSW (International Council on Social Welfare) yang diselenggarakan 1 September 1966.
Nama-nama tokoh tersebut adalah Mr. Soemantri Praptokosomo, A.M. Pasila S.Th., Djajat Drajat, Mr. Alwi Sutan Oesman, Dr. Salekan, Mr. Ijas Suhanda, dan Narasaruddin Latif berkumpul pada tanggal 8 Juli 1967 untuk meresmikan pembentukan Komite Nasional untuk Kesejahteraan Sosial. (KNKS), lalu penandatanganan Piagam Pendirian KNKS dilakukan pada tanggal 17 Juli 1967, yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal kelahiran DNIKS
Sejumlah penghargaan baik dari dalam bahkan luar negeri menjadi bukti keberpihakan dia kepada kemanusiaan. Dari pemerintah Indonesia, ia mendapat Satya Lantjana Kebaktian Sosial, Lencana Satya Bhakti Utama Persit Kartika Chandra Kirana, Bintang Perjuangan Angkatan 45, dan Bintang Maha Putra Utama.
Dari luar negeri, dia tercatat menerima penghargaan Culturale Italiano Premio Adelaide Ristori Anno VIII, lalu Ramon Magsaysay Award for Public Service, serta penghargaan Paul Harris Fellow Award Rotary Foundation of Rotary International Amerika.
Tentu perjalan perjuangan Johana Sunarti Nasution di bidang sosial dan kemanusiaan tidak hanya menginspirasi, namun memantik semangat siapapun, khususnya para perempuan untuk senantiasa berjuang dan mengambil peran dalam berbagai bidang, tidak hanya sebagai istri, ibu bahkan pejuang kemanusiaan.

Iqbal Suliansyah
(Koordinator Maarif Network)
Maarif Network lahir sebagai wadah anak ideologis Buya Ahmad Syafii Maarif yang pernah mengikuti berbagai program Maarif Institute (Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK), Jambore Pelajar Teladan Bangsa (JPTB), Maarif Fellowship dan Maarif Award)
