f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mencegah bullying

Mencegah Bullying: Peran Penting Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

Akhir-akhir ini, kita dibuat geram dengan beberapa fenomena yang viral di media sosial mengenai aksi perundungan yang dilakukan oleh beberapa oknum. Bahkan oknum dan korban diketahui masih di bawah umur. Beberapa di antaranya; pertama, kasus di Banjarmasin, seorang siswa menikam temannya karena sering di-bully. Kedua, seorang siswa SMP di Temanggung membakar sekolahnya karena sering menjadi korban rundung oleh teman-temannya. Ketiga, lebih parah lagi, ada siswi yang kehilangan penglihatannya karena ditusuk benda tajam oleh kakak kelasnya. Bahkan, yang terbaru kasus perundungan yang terjadi di Cilacap. Ini hanya beberapa saja dari banyaknya kasus bullying yang ada di Indonesia. Dari kasus-kasus tersebut, sangat perlu melakukan suatu tindakan untuk mencegah bullying agar tidak lagi terjadi kasus seperti ini.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat, ada 16 kasus perundungan di sekolah dalam kurun Januari-Juli 2023. Selanjutnya FSGI menyebutkan kasus perundungan mayoritas terjadi di tingkat SD dan SMP, selanjutnya di jenjang SMA dan SMK dan terakhir, Pondok Pesantren. Kita bisa melihat, ternyata di mana saja tempatnya, terdapat peluang terjadinya perudungan, di pondok pesantren sekalipun, meski dalam pengawasan 24 jam.

Maka muncul pertanyaan, sebenarnya apa yang menyebabkan bullying atau perundungan ini terjadi? Lalu sejauh apa sebenarnya peran keluarga, sekolah dan masyarakat dalam menangani persoalan bullying ini? Mengingat tindakan ini akan berisiko mengakibatkan berbagai masalah kesehatan baik fisik maupun mental bagi korbannya. Kemungkinan terbesarnya adalah, muncul masalah mental seperti depresi, kegelisahan hingga keluhan kesehatan fisik yang bisa saja terbawa hingga dewasa.

Empat Pihak yang Terlibat

Dalam kasus ini terdapat empat pihak yang terlibat di dalamnya. Pertama, adalah bullies, yaitu pelaku perundungan. Mereka yang secara fisik atau emosional melukai murid lain secara berulang-ulang. Para pakar menarik kesimpulan bahwa karakteristik bullies biasanya adalah agresif, mempunyai konsep positif tentang kekerasan, impulsif dan kurang dalam berempati.  

Baca Juga  Pentinganya Komunikasi Efektif dalam Keluarga

Kedua, adalah victim atau korban bully. Mereka adalah murid yang sering menjadi target dari tindakan agresif dan hanya memberikan sedikit pertahanan melawan serangan. Victim cenderung menarik diri, depresi, cemas, dan takut dengan situasi baru. Korban dari perilaku ini biasanya adalah anak baru pada suatu lingkungan, anak termuda di sekolah, biasanya yang lebih kecil, anak penurut, anak yang merasa cemas, minder, mudah dipimpin dan anak yang melakukan hal-hal hanya untuk menyenangkan atau meredam amarah orang lain.

Ketiga, adalah bully-victim. Pihak ini merupakan pihak yang terlibat dalam perilaku agresif, tapi juga menjadi korban perilaku agresif. Bully-victim menunjukkan level agresivitas verbal dan fisik yang lebih tinggi daripada dengan anak lain. Seseorang dengan kategori ini adalah mereka yang dulunya pernah menjadi korban bullying yang kemudian melampiaskan kepada korban selanjutnya setelah dia merasa memiliki power. Ini sering terjadi pada kasus senioritas yang mengatasnamakan tradisi. Keempat adalah netral, yaitu pihak yang tidak terlibat dalam perilaku agresif atau bullying.

Faktor Penyebab Bullying

Terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya bullying. Dalam jurnal mengenai faktor yang memengaruhi remaja dalam melakukan tindakan negatif tersebut, ada lima faktor yang menjadi alasan remaja melakukan aksi bullying. Pertama adalah keluarga, seperti orang tua yang sering menghukum anaknya berlebihan atau situasi rumah yang tidak nyaman.

Faktor kedua adalah sekolah, yaitu ketika pihak sekolah yang tidak peduli mengakibatkan pelaku merasa tindakan tervalidasi dan melanjutkan tindakannya. Faktor ketiga, adalah kelompok sebaya. Beberapa anak melakukan aksi tersebut hanya karena ingin membuktikan bahwa mereka bisa bergabung dalam kelompok tertentu, walaupun dalam hati sebenarnya mereka merasa tidak nyaman. Tapi, itulah pengaruh teman sebaya.

Faktor keempat adalah lingkungan sosial, salah satu yang menjadi penyebab tindakan bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup serba kekurangan akan dengan berani berbuat apa saja demi memenuhi kehidupannya. Maka sering kita jumpai kasus bullying berupa pemalakan antar siswa di sekolah.

Baca Juga  Membangun Keluarga Harmonis dan Demokratis di Tengah Pandemi

Faktor selanjutnya adalah media sosial, media sosial membentuk pola perilaku bullying dari tayangan yang mereka tampilkan. Survey oleh kompas mencatat bahwa hampir 60% anak meniru adegan film yang menjadi bahan tontonan, umumnya mereka meniru gerakan dan kata-katanya. Sehingga, jelas bahwa perlu peran keluarga, sekolah dan masyarakat dalam mencegah bullying dan mengontrol pergaulan dan aktivitas media sosial anak-anak. Mereka perlu untuk diarahkan, mana saja yang boleh untuk ditiru dan tidak boleh untuk dicontoh. Maka di sinilah peran sesungguhnya dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Peran Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

Keluarga sebagai rumah bagi seorang anak sudah semestinya memberikan tempat ternyaman bagi mereka. Sebagaimana sebelumnya, bahwa keluarga merupakan salah satu faktor yang memengaruhi tindakan bullying. Solusinya adalah komunikasi yang positif dalam keluarga. Perlu mengupayakan komunikasi keluarga yang efektif yang di dalamnya juga meliputi respek, empati, audible. Selain itu, orang tua juga berperan dalam melakukan pola pengasuhan yang tepat kepada anaknya, sehingga upaya mencegah bullying dapat berjalan lancar.

Dalam jurnal JCA of Psychology, memberikan data ketika remaja korban mencoba menceritakan permasalahannya tidak ada timbal balik komunikasi dari keluarga karena komunikasi kurang terjalin dengan intens. Sehingga yang perlu menjadi perhatian selain para remaja agar lebih terbuka dengan keluarga, orang tua seharusnya memberikan timbal balik dan memberikan waktu perhatian lebih kepada anak-anaknya, menjadi teman sekaligus pendengar yang baik. Selain itu juga perlunya mengajarkan cara menyelesaikan permasalahan dengan baik dan menanggapi permasalahan dengan bijak.

Adapun sekolah, memiliki tiga fungsi utama dalam mengatasi bullying. Sekolah sebagai pencegah, sekolah sebagai analis perkembangan anak, dan sekolah sebagai pembentuk karakter. Hasil penelitian yang oleh Hengki Yandri menyebutkan bahwa guru BK di sekolah berperan sebagai penyedia layanan yang baik dan optimal kepada seluruh siswa sesuai dengan tanggung jawabnya.

Baca Juga  Yang Penting dari Budaya Antre

Guru perlu menumbuhkan rasa empati dan respek pada siswa, dengan mengajak pelaku untuk merasakan perasaan korban saat menerima perlakuan bullying. Mengangkat kelebihan dan bakat sang pelaku pada bidang yang positif, upaya ini akan mengalihkan energinya pada tindakan yang positif.

Semua harus berpartisipasi dan memberikan peran dalam mencegah bullying. Dalam pelaksaan suatu program pencegahan terhadap tindakan bullying membutuhkan beberapa stakeholder yang dapat mendukung program pencegahan. Misalnya, pihak kepolisian menjadi pembina upacara, polisi akan menyampaikan laporan dan melakukan pembinaan bersama sekolah pada anak-anak pelaku atau bahkan yang terindikasi geng.

Selanjutnya masyarakat juga turut berpartisipasi dalam pencegahan terhadap perilaku negatif tersebut. Wujud partisipasinya tentu menyesuaikan dengan kompetensinya dan melalui carannya masing-masing. Masyarakat tidak hanya ikut serta dalam pelaporan, tapi juga turut serta dalam penanggulangan dan antisipasi. Dengan begitu semua pihak berperan dalam pencegahan tindakan bullying.

Langkah Awal Pencegahan

Tindakan untuk mencegah bullying adalah langkah krusial dalam menciptakan masyarakat yang adil, ramah, dan empati. Dengan berfokus pada pendidikan yang memperkenalkan kesetaraan, penghormatan, dan saling pengertian, kita dapat membentuk lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan positif bagi setiap individu dan merupakan awal dari bentuk pencegahan kasus perundungan. Bersama-sama, kita memiliki kekuatan untuk membangun lingkungan yakni kebaikan dan penghormatan menjadi norma, dan setiap orang merasa aman, berharga, dan diakui. Dengan upaya bersama, kita dapat mewujudkan masyarakat bebas bullying di mana setiap orang dapat berkembang secara penuh tanpa rasa takut dan tekanan.

Editor: Muhafizah el-Feyza

Bagikan
Post a Comment