Penghancur Peran Pemuda
“Walhamdulillahi rabbil alamin.”
Begitulah kata terakhir yang diucapkan imam ketika mengakhiri doa yang tengah ia pimpin. Setelah melaksanakan salat, seperti biasanya, Khairul duduk menyendiri sambil memainkan hpnya. Namun secara tiba-tiba teman yang bernama Hafidz pun beserta seorang bapak-bapak yang bernama Pak Kadir datang menghampirinya; dan mereka pun berbincang tentang sebuah peristiwa yang baru saja terjadi.
Di tengah perbincangan itu, Hafidz pun bertanya kepada Pak Kadir, “Eh pak, jadi gimana soal pencurian sound system masjid tadi siang, yang mencuri sudah tertangkap belum?”. Dengan nada kesalnya, Pak Kadirpun menjawab, “ya gimana mau tertangkap, toh kita saja nggak tau ciri-ciri dari pelakunya. Maklum sajalah, soalnya di masjid kita nggak ada CCTV, mau meelapor kesiapapun, kita nggak punya bukti.”
Hafidz pun kembali bertanya, ”kira-kira yang mencuri, latar belakangnya gimana ya pak?” Dengan perasaan gundahnya, Pak Kadirpun kembali menjawab, ”ya paling anak muda yang udah kena narkoba. Ya begitulah kondisi anak-anak muda sekarang, udah banyak yang terjerumus ke sana”
Mendengar ungkapan Pak Kadir, Khairul merasa terusik. Dengan maksud menyanggah, ia berkata kepada Pak Kadir, ”lah memangnya semua anak muda kayak gitu pak?” Pak Kadir langsung menjawab, ”ya kalian perhatikan saja saat salat jamaah tadi. Memang berapa anak muda yang hadir? Cuman kamu, Rul. Hafidz, sama si Ozan. Yang lainnya kemana? Kalau nggak sibuk sama kegiatan nggak berfaedah mereka“. Secara spontan Hafidz menjawab, ”mungkin saja mereka kurang dukungan dari orang tua mereka.“ Tanpa mengabaikan perbincangan tersebut perhatian Khairul teralihkan oleh Ozan.
*
Ozan sendiri merupakan seorang lulusan pesantren, juga anak dari salah satu tokoh masyarakat di lingkungan mereka. Dan sekarang, ia juga berprofesi guru mengaji di masjid tersebut.
Keesokan harinya, Khairul melihat Ozan sedang membawa potongan triplek, dengan rasa ingin taunnya, Khairul pun bertanya, “itu apa zan?”. Sambil tersenyum, iapun menunjukkannya, sambil berkata; “ini loh pamfet kaligrafi untuk TPQ kita.“ Khairul kembali bertanya, “buat sendiri, Zan?” Ozan menjawab, “iya rul“.
Beberapa hari kemudian, khairul memperhatikan hasil karya Ozan tampak terbengkalai dengan barang rongsokan lainnya tanpa diperhatikan oleh para pengurus masjid. Khairul memperhatikan raut wajah dari Ozan yang tampak kecewa sambil memperhatikan tidak dihargai begitu saja.
Namun hal tersebut tampaknya tidak berpengaruh bagi Ozan untuk terus melaksanakan kewajibannya sebagai guru mengaji. Ia tetap rutin untuk hadir ke masjid untuk memenuhi tanggungjawabnya.
Hari-hari berlanjut sampai tiba saatnya bulan Ramadan tiba. Para pengurus masjid sudah menyusun beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan pada bulan Ramadan. Sampai tiba saatnya malam pertama di bulan Ramadan; ayah Ozan yang diamanahkan untuk mengimami salat Terawih tampak kurang sehat, dan Khairulpun berpikir, kalau ozan yang akan menggantikan, karena Ozan sendiri merupakan satu-satunya pemuda yang masuk daftar imam terawih di masjid tersebut. Namun tanpa disangka-sangka, yang maju menjadi imam ialah tokoh lain yang standar bacaan serta suaranya masih di bawah Ozan. Setelah Terawih, Khairulpun bertanya kepada Ozan, “Zan kenapa bukan kau yang jadi imam tadi?” Dengan raut wajah kecewanya, Ozanpun menjawab, ”ya terserah orang itu aja lah!.”
*
Hari selanjutnya kejadian serupa kembali terjadi. Para orang tua di masjid tersebut lebih memilih tokoh lain tanpa memperdulikan Ozan yang ada di tengah mereka. Sampai tiba lusanya, Ozanpun nampak tidak hadir kembali di masjid. Bahkan sampai tiba saatnya hari di mana Ozan diamanahi menjadi imam; Ozan juga tampak tidak hadir. Bahkan tanpa sengaja Khairul melihat Ozan yang sedang duduk-duduk santai di warung, di tengah salat terawih sedang berlangsung.
Sampai tiba saat saatnya idulfitri tiba. Sebelum salat id dilaksanakan, Khairul berinisiatif untuk menjumpai Ozan. Kemudian, ia bertanya kepada Ozan, mengenai ketidakhadirannya di masjid selama bulan Ramadan. “Hei Ozan, kemana saja kemarin-kemarin kok nggak kelihatan?“ Sambil tersenyum paksa ia menjawab, “aku sih nggak kemana-mana, cuman belakangan ini lagi banyak urusan“. Begitulah alasan yang Ozan lontarkan, walau pada dasarnya ia tampak kesal dengan apa yang terjadi padanya.
Setelah memperhatikan apa yang terjadi kepada Ozan, Khairul pun berpikir. Kenapa banyak orang tua melimpah segala hal buruk kepada para generasi; namun hal sebaliknya ketika pemuda ingin berkontribusi di masyarakat, mereka tampak membunuh semangat dari generasi muda?
Mahasiswa bahasa dan sastra Arab UIN Malang
