f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
komitmen

Ketika Diajak Komitmen, Perempuan Bisa Apa?

Di bulan Juli ini, selain kita kehilangan sosok sastrawan romantis, ayahanda Sapardi Djoko Damono, kita pun asyik memperbincangkan kisah cinta public figure yang telah melangsungkan pernikahannya dengan proses ta’aruf.

Saya penasaran dengan pandangan beberapa teman perempuan saya yang memiliki pacar/gebetan. Saya bertanya pada mereka, kurang lebih begini, “Jika ada laki-laki lain yang serius mengajakmu ta’aruf dan segera melamarmu, kamu pilih siapa?”. “Pilih dia yang memberikan kepastian lah”, kurang lebih begitu jawaban beberapa dari mereka. Ternyata eh ternyata secara tidak langsung pernikahan Rey-Dinda dan Rizky-Nadya yang sempat booming itu memang menguatkan pandangan publik tentang “Pacaran lama kalah dengan yang berani serius”.

Bukan hanya itu, ada juga netizen yang menyebutnya dengan istilah “tikungan di sepertiga malam”. Duh, ada-ada saja. Ini dikarenakan Dinda dan Nadya sama-sama dikabarkan dekat dengan laki-laki lain namun ending-nya justru malah menikah dengan orang yang berbeda. Betapa tabah laki-laki yang ditinggalkan itu. Eh tapi, antara tabah dan kesel itu beda tipis. Nah, mari kita ambil pelajaran berharga dari kisah mereka.

Perempuan Berhak Menolak

Teruntuk Rahmania yang saat ini sedang pdkt-an dengan laki-laki maupun yang sedang fokus self love. Ingat ya, perempuan tidak bisa semudah itu menerima ajakan ta’aruf/komitmen orang lain hanya karena ia lebih dahulu memberikan kepastian. Kita paham bahwa menikah butuh kesiapan, jadi tidak bisa langsung asal mengiyakan saja ketika ada yang berani serius.

Hanya karena takut dicap negatif, lalu menerima ajakan nikah begitu saja. Hanya karena teman-teman sudah menikah, lalu kita juga ingin menikah. No! Betapa kurang dewasanya kita jika bertindak atas dasar seperti itu.

Sebelum memutuskan untuk menerima ajakan ta’aruf, pastikan benar bahwa Rahmania memang sudah merasa siap lahir batin dan berniat menikah dalam waktu dekat. Apal lagi yang namanya ta’aruf itu prosesnya cepat.

Maka, jika Rahmania ingin mengenal pasangan lewat proses ta’aruf, memang harus benar-benar mantap dari hati dan yakin dengan cara itu. Perlu digarisbawahi, bahwa perempuan dewasa itu memutuskan sesuatu berdasar kesadaran dan keyakinan dari proses pertimbangan yang kritis dan mandiri, bukan sekadar ikut-ikutan atau rasa takut semata.

Ingat juga ya, Rahmania berhak menolak, sekalipun orang itu saleh. Menurut Syaikh Shalih Al Fauzan dalam Al-Muntaqa min Fatawa Fadilatusy (3/226-227) menolak menikah dengan seseorang yang saleh itu boleh. Namun menolak karena kesalihannya itu yang tidak boleh. Sebab menolak karena kesalihannya berarti membencinya sebagai muslim, padahal setiap muslim wajib dicintai. Hal yang wajar apabila perempuan menolak lamaran laki-laki saleh. Alasannya ya manusiawi, karena kita membicarakan kisah cinta manusia bukan malaikat.

Perempuan Berhak Memperjuangkan

Kata siapa “laki-laki menang memilih, perempuan menang menolak”? Perempuan juga berhak memilih dan memperjuangkan orang yang kita suka kok. Bahkan perempuan juga boleh nembung dulu. Meskipun nyatanya ada juga teman saya yang memilih untuk diam, menunggu, dan mendoakan tanpa usaha mendekati laki-laki idamannya itu.

“Takut Dev, takut kalau dia sedang dekat dengan orang lain” begitu kurang lebih alasan teman saya ketika saya beri saran untuk coba sesekali menyapa laki-laki yang ia suka lewat media sosial. Mencintai diam-diam mungkin lebih menenangkan bagi sebagian perempuan daripada terlalu gegabah mendekati. Namun, mencintai diam-diam pun harus siap jika ditolak secara diam-diam. Masih saya temui, beberapa perempuan diam-diam mencintai sementara seseorang yang dicintai tidak menyadari.

Meskipun ada stigma atau seakan terkesan perempuan gampangan, bagi saya, menyampaikan rasa suka dan tidak suka adalah sikap yang asertif. Baik laki-laki maupun perempuan semua berhak menyampaikan perasaan, semuanya berhak memilih dan memperjuangkan seseorang yang menjadi pilihannya. Maka, kita jangan hanya jadi perempuan yang ingin diperjuangkan, namun juga jadi perempuan yang memperjuangkan. Kan seru tuh, saling memperjuangkan. Eheee..

Kalau misalkan sudah menyatakan dan ditolak? It’s no problem. Sedih sewajarnya dan harus bangkit lagi. Ingat ya, perempuan harus selalu menjaga kewarasannya dengan menjaga pikiran bukan mengedepankan perasaan semata.

Salam perempuan berdaya!

Bagikan
Post a Comment