Bukan Islam yang Buat Perempuan Jadi Terkekang
Bicara tentang perempuan memang selalu menjadi topik paling seksi, dan menarik, yang kerap menjadi perdebatan panjang, seolah hampir tak pernah menemukan ujung, dengan kalimat yang pas, untuk mengakhiri sebuah diskusi. Pendapat dari berbagai tokoh pun tak luput, selalu ada celah untuk disoal, dengan cara pandang baru yang dianggap lebih cocok untuk melihat perempuan dengan segala aspeknya, baik secara fisik, psikologis dan perannya dalam konteks sosial.Isu kesetaraan gender juga makin menguat disuarakan oleh kelompok feminis, mereka menggugat patriarkal atau dominasi laki-laki atas perempuan, sekaligus menuntut kesamaan hak dan keterlibatan di ruang publik.
Isu-isu seputar kesetaraan gender, terus berkembang dinamis, mereka tidak saja menuntut hak di ruang public, tetapi juga menyoal sampai pada ruang private seperti; hak untuk tidak menyusui, mengandung hingga pada persoalan seksualitas.Mengandung, melahirkan dan menyusui adalah pengalaman biologis perempuan, yang tidak dialami oleh laki-laki. Ini adalah momentum untuk bersuara dengan lantang, menuntut hak-hak perempuan. Ketika laki-laki sebagai seorang suami tidak hadir memberi hak dan rasa keadilan bagi perempuan.
Maka disitulah sebagian merempuan, tidak tahan menanggung beban sebagai perempuan, belum lagi ngurus si bayi yang baru saja lahir, ngurus pekerjaan rumah tangga, sekaligus ngurus suami, namun ada sebagaian suami yang bersikap masa bodoh, “perempuan memang ya begitu mas, merawat anak juga ngurus suami, kalau ndak mau repot ya siapa suruh bersuami”, hah,, ya ampun,, ya ampun, segitunya sampean mas memperlakukan istrimu.
Kesetaraan Gender
Berawal dari pengalaman semacam itu, tentu menjadi pukulan sangat berat bagi perempuan, bahkan ada juga yang sampai tega memukul istri mereka. Sehingga tidak heran kenapa belakangan ini, makin gencar muncul perlawanan dari kelompok perempuan atau feminis menyuarakan kesetaraan gender. Hal itu sebagai upaya protes atas perlakuan sebagian kaum laki-laki yang semena-mena pada perempuan. Tidak saja memperkosa secara fisik tetapi juga memperkosa hak dan rasa keadilan perempuan.
Bila dilihat perkembangannya sampai hari ini, sepertinya kita sudah biasa dengan kasus-kasus yang sama; melarang istri bekerja di luar dan berkarir, supaya focus merawat anak dan ngurus pekerjaan rumah, sementara suami bebas kadang tak pulang ke rumah, dengan seribu alasan pamungkasnya. Alibi mereka karena lembur menyelesaikan pekerjaan kantor yang menumpuk, juga saat yang sama terjadi perselingkuhan dimana-mana. Beberapa kasus serupa tak jarang menimbulkan pertengkaran hingga berujung Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Gelombang Feminisme dari Barat
Awal mula ide feminisme muncul di Eropa pada abad (16-18 M). Ketika Gereja mendeskreditkan perempuan yang dianggap sebagai ibu dari dosa, yang menjerumuskan laki-laki ke dalam dosa. Pengaruh Gereja yang begitu kuat, tuduhan itu menjadi dogma gereja atas perempuan. Ajaran itu kita temukan dalam kitab perjanjian baru. Maka sejak saat itulah ide dan gagasan feminisme itu muncul, sebagai perlawanan pertama menuntut kesetaraan dan penghapusan diskriminasi atas perempuan.
Hingga kemudian di Amerika muncul gerakan perempuan di abad (19 M), seperti; National Women Suffrage Association (NWSA), yang menuntut keterlibatan perempuan dalam pemilu, yang tak lama kemudian disusul oleh komunitas perempuan yang lain General Federation of Women’s (GFW). Gerakan itu bergerak secara luas, menyuarakan hak-hak perempuan yang pada kesimpulannya adalah menuntut kesetaraan gender.
Gerakan feminisme memperoleh jalan mulus mengisi kekosongan di berbagai sector, yang sebelumnya perempuan diperlakukan diskriminatif, tidak dapat bekerja di tempat-tempat umum, perdagangan, industry dan pekerjaan usaha lainnya. Namun paska terjadinya perang dunia ke-dua kesetaraan gender “equal pay for equal work”, memperoleh tempat dan mulai terlibat untuk bekerja di berbagai sector. Disinlah mulanya gerakan feminism berkembang peasat ke Negara-negara berkembang.
Eh, Itukan Gerakan Feminisme di Barat, lalu Bagaimana di Indonesia?
Feminisme di Indonesia masuk pada gelombang ke tiga dan ke empat seperti sekarang ini, yang awalnya banyak menyoal terkait rutinitas perempuan yang hanya berkelindan dengan aktivitas rumah tangga, memasak, ngurus suami dan semcamnya. Dulu patriarki banget deh, sebab tradisi itu seolah sempat mengekang perempuan, dikit-dikit perempuan tidak boleh ini itu. Perempuan dituntut untuk selalu menunjukkan sikap dan laku yang super halus, tertawa dikit saja tidak boleh kecuali sambil menutup mulut, bayangkan coba.
Belum lagi mengenai cerita sejarah yang kita baca di beberapa artikel, bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Selain itu perempuan juga dianggap hanya sebagai pelengkap bagi kaum laki-laki, atau apa yang disebut oleh kelompok feminis, bahwa islam telah memposisikan perempuan sebagai the second human being. Anggapan semacam itu membuat perempuan menjadi terasingkan dari ruang public, dan hanya terbatas pada ngurus dapur, sumur dan kasur.
Bukan Islam yang Buat perempuan Jadi Terkekang
Sampai kemudian kondisi semacam itu melahirkan gerakan apa yang disebut emansipasi wanita, yang lagi-lagi menuntut kesetaraan gender. Perempuan bukan objek bagi kaum laki-laki, sebab perempuan juga memiliki berhak pergi keluar rumah, memperoleh pendidikan yang layak, bisa berdiskusi, bekerja dan terlibat di ruang public. Tentu saat itu bukan perkara mudah dengan serta merta mendapat dukungan dari masyarakat, justru beberapa kali harus melalui jalan sangat sulit menuju keberhasilan.
Sebut sajalah satu tokoh RA. Kartini yang memainkan peran, seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Keberhasilan Raden Ajeng Kartini memperjuangkan emanispasi wanita di Indonesia, barulah kemudian perempuan mendapat kedudukan sebagai manusia seutuhnya. Bukan lagi dianggap sebagai objek bagi laki-laki. Namun saya heran kenapa tidak banyak orang bertanya, kenapa RA. Kartini saja yang seolah tampil disebut sebagai ibu emansipasi wanita di Indonesia?. Bukankah ada Ny. Walidah yang usianya 4 tahun lebih dulu lahir ketimbang RA. Kartini ? yang kemudian memimpin Organisasi Sopo Tresno.
Tapi entahlah, mungkin tak banyak orang mengenal dan mengetahui kiprah Ny. Walidah, atau mungkin yang menulis sejarah begitu faham dengan Ny. Walidah sebagai tokoh perempuan. Padahal Ny. Walidah adalah tokoh perempuan yang sangat dekat dengan Islam. Lalu dengan begitu dianggap tidak cocok, untuk mewakili diangkat dalam sejarah ketokohan perempuan, dan kemudian dikarangnya cerita-cerita sejarah, yang dibuat kesan bahwa seakan ajaran Islam-lah yang membuat perempuan menjadi terkekang. (s)
Perawat, alumni FIK Universitas Muhammadiyah Surabaya
