f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
responsif gender

Membangun Jalur Komunikasi Responsif Gender di Antara Orang Tua dan Sekolah

Oleh : Nur Indah Fitri*
“Bu, kok saya disuruh ngepel? Kan ini tugasnya anak perempuan, saya gak mau ah Bu kan gengsi, masak laki-laki pegang kain pel.” Saya melongo mendengarnya, murid lelaki di depan saya benar-benar menolak disuruh ngepel, padahal kelas itu sangat kotor.

Dan saya lebih terkejut lagi ketika ternyata teman perempuannya tidak menyalahkan temen laki-lakinya tadi. Justru malah menawarkan bantuannya, “Biar saya Bu, saya kan perempuan, saya aja yang mengepel lantainya.” Lantas saya tambah tertegun, ternyata beginilah pola pendidikan di rumah masing-masing.

Hari itu adalah hari kedua saya mengajar di Madrasah Aliyah sebagai guru magang. Saya mendapati kelas kotor dan meminta mereka untuk membersihkannya. Tapi sebagaimana yang sudah saya gambarkan di atas, respon mereka malah seperti itu.

Tidak hanya itu, di sekolah lain tempat adik saya menimba ilmu hampir setiap kelas memiliki ketua kelas seorang murid laki-laki. Dan murid perempuan menjadi wakil, sekretaris ataupun bendahara karena dinilai lebih ulet, rapi dan primpen.

Flash back Zaman Putih Abu-abu

Kejadian itu membuat saya flash back ke zaman putih abu-abu, oh iya-iya ternyata dulu saya juga hanya bertugas sebagai pengibar bendera saat upacara berlangsung. Tidak pernah guru pembina paskibraka menunjuk saya ataupun temen-temen perempuan yang lain untuk bertugas jadi pemimpin upacara.

Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa sebenarnya problem ini belum hilang, karena memang orang tua belum menyadari akan hal itu. Sehingga, bisa jadi ketimpangan peran anak didik sudah tertanam sistem patriarki sejak dini.

Menghilangkan Sistem Patriarki

Pada kenyataannya memang sistem patriarki sukar untuk dihilangkan, karena kalau kata Mbak Kalis “kita itu anak kandung patriarki” jadi yang mau ke luar dari sana susahnya minta ampun.

Baca Juga  Mengapa Perempuan Harus Menuntut Ilmu?

Maka saya mengibaratkannya seperti pohon, stigma tersebut sudah tumbuh subur menjadi pohon yang rindang. Dan untuk menghilangkannya tidak bisa hanya dengan menebang batang pohon saja. Akan tetapi, perlahan juga harus merawat akar-akarnya agar tidak tumbuh seperti semula yang berujung ketimpangan.

Artinya, untuk mengkonstruksi keadilan gender pada masyarakat luas tidak cukup selesai dengan melakukan diskusi atau kampanye di ruang publik. Namun, juga perlu melibatkan pihak sekolah sebagai lembaga transformasi pengetahuan. Dan orang tua sebagai madrasatul ula, untuk menanamkan sikap responsif gender sejak dini kepada anak didiknya.

Jalur Komunikasi Responsif Soal Gender

Mengapa sih orang tua dan pihak sekolah perlu membangun jalur komunikasi yang responsif gender? Karena mereka memiliki peranan yang vital dalam memberikan pola pendidikan kepada anaknya, baik di rumah ataupun di sekolah. Dan saya rasa akan sangat sulit memberikan pola pendidikan yang responsif gender terhadap mereka saat sudah dewasa. Sebab, sejak kecil sudah meyakini dan menjalani ketimpangan peran tersebut dan sudah menjadi lumrah.

Maka sekolah dan orang tua bisa saling bersinergi melakukan pendekatan kepada anak didiknya. Pendekatan yang dilakukan tidak cukup hanya dengan penyampaian teori. Dan sepertinya saya rasa mereka akan kesulitan memahami, jika saat masih usia sekolah harus dicekoki materi kesetaraan dan keadilan gender.

Tiga Hal yang Perlu Dilakukan

Sehingga, baik orang tua maupun guru di sekolah bisa dengan melakukan cara seperti ini; Pertama, memberikan teladan kesalingan dalam bekerja sama karena anak merupakan peniru yang ulung. Jadi bapak dan ibu di rumah bisa saling bekerja sama dalam mengurus pekerjaan domestik. Atau ibu turut andil dalam keputusan yang diambil bapak. Bapak juga ikut legowo kalo si ibu berperan di ruang publik.

Baca Juga  Sejuta Prestasi di Balik Kesunyian

Kedua, orang tua bisa membiasakan untuk meminta tolong anaknya membantu mereka bekerja dan tidak membedakan perlakuan ataupun pilih kasih kepada anak laki-laki maupun perempuan.

Ketiga, bapak ibu guru di sekolah bisa memulai bersikap responsif gender dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua muridnya, baik laki-laki ataupun perempuan untuk menjadi ketua kelas ataupun pemimpin upacara.

Keempat, sekolah bisa membuat semacam jurnal kegiatan untuk para muridnya saat di rumah. Dan diperiksa oleh gurunya, entah tiap hari atau tiap minggu. Jadi di akhir bulan bisa dikomunikasikan dengan orang tua. Seperti di SMA adik saya, wali kelasnya mewajibkan muridnya mengisi buku karakter, yang isinya menuliskan kegiatan selama di rumah. Sehingga si gurunya tahu perkembangan karakter anak didiknya.

Kesempatan yang Sama bagi Anak Perempuan dan Laki-laki

Dengan begitu, anak laki-laki maupun perempuan berhak mendapatkan kesempatan yang sama, baik dari segi perhatian kasih sayangnya, pendidikannya bahkan perannya dalam keluarga dan masyarakat. Seperti halnya anak laki-laki yang juga perlu diajari untuk membantu melakukan pekerjaan domestik dan anak perempuan juga perlu dibekali tentang kepemimpinan serta melibatkannya dalam pengambilan keputusan.

Maka, antara laki-laki dan perempuan bisa menjadi mitra yang saling bekerja sama dalam mengoptimalkan potensi personal untuk mutu kehidupan sosial yang lebih maksimal. Sehingga akan tumbuh generasi-generasi berkeadilan gender.

*) Penulis berasal dari Lumajang yang tertarik dengan isu kesetaraan dan keadilan gender.

Bagikan
Post a Comment