Apa yang Seharusnya Kita Ajarkan kepada Siswa SMP dalam Kelas Menulis?

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Dalam urusan akademik, hal yang paling rumit adalah ketika kita merasa kesulitan untuk memahami suatu disiplin ilmu kemudian mempraktikkannya. Dan jauh lebih rumit lagi, jika para pengajar kebingungan dan tidak memahami bagaimana cara menyampaikan ilmunya dengan sederhana kepada murid-muridnya.

Pada awal bulan Juli 2021, saya mendapat amanah untuk menjadi pelatih ekstrakulikuler jurnalistik di SMP Islam Sabilillah Malang. Tentu ini menjadi tantangan baru bagi saya. Sebab tidak secara langsung saya dituntut untuk memikul dua kerumitan sekaligus. Pertama, mengajar itu sendiri. Kedua, menyederhanakan ilmu kepenulisan kepada siswa SMP. Dan bagi saya, mengajar dan mengkonkretkan ilmu menulis tidak pernah menjadi perkara yang mudah.

Sebelumnya, saya telah melakukan eksperimen ini (merumuskan hal-hal teknis perihal kepenulisan) di Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) UIN Malang selama hampir dua tahun. Dalam kurun waktu dua tahun tersebut, saya mencoba mengkonkretkan hal-hal dasar yang perlu mahasiswa lalui sebelum ia benar-benar ingin menulis. Dari proses eksperimen itu, saya mendapati dua hal penting, baik bagi pengajar atau murid dalam kelas menulis. Dua hal tersebut adalah teknis penulisan dan proses kreatif.

Tentu, teknis penulisan dan proses kreatif adalah dua entitas yang sama sekali berbeda. Namun sayangnya, pada titik tertentu beberapa orang cenderung menyamaratakan dan memberikan penanganan yang sama terhadap dua hal tersebut. Akibatnya, orientasi dan output dalam kelas-kelas menulis tidak tepat sasaran bahkan cenderung serampangan. Misal, ketika kita berbicara perihal teknis penulisan, maka yang akan kita pelajari adalah kaidah-kaidah yang ada di PUEBI dan KBBI. Atau bisa juga menguatkannya dengan memelajari pendapat beberapa pakar Bahasa Indonesia. Itu perihal teknis penulisan.

***

Sementara untuk proses kreatif jauh lebih kompleks lagi. Kita tidak bisa memberikan penanganan atau rujukan yang sama kepada setiap murid atau orang yang belajar menulis seperti ketika mereka memelajari kaidah penulisan. Sebab setiap murid menjalani 24 jam dalam hidupnya dengan cara yang berbeda satu sama lain. Dari proses kreatif inilah kita membicarakan ide dan gagasan. Kematangan mengeksplorasi ide dan ketajaman gagasan adalah akibat dari proses kreatif dari seorang penulis. Semakin kaya proses kreatif dari seorang penulis, maka akan melimpah juga ide dan gagasan yang dia miliki.

Berbicara ide, saya sepakat apa yang telah Beny Arnas tegaskan dalam salah satu esainya yang berjudul “Bagaimana Penulis Menulis?”. Dalam esai tersebut Beny menjelaskan bahwa menulis sejatinya bukan hanya tentang menulis, melainkan upaya mengundang ingatan berkumpul dan menawarkan bantuan. Ini yang disebut bahwa penulis tidak bisa “lepas dari dirinya”. Menulis adalah semburan atau ledakan aktivitas membaca dan pengalaman hidup sang penulis. Semakin kaya keduanya, semakin mahir penulis mengolah kompleksitas dalam teks.

Semula, saya menjadikan ide sebagai ukuran utama yang harus mahasiswa miliki untuk mengikuti kelas menulis di LKP2M. Sebab saya membayangkan bahwa teman-teman mahasiswa telah selesai di kaidah penulisan, atau lebih tepatnya sudah memahami PUEBI dan KBBI dengan cukup baik. Namun sayangnya pemahaman mengenai kaidah penulisan ini hanya dimiliki oleh beberapa mahasiswa saja. Singkatnya, lebih banyak mahasiswa (peserta kelas LKP2M) yang tidak benar-benar memahami kaidah penulisan.

***

Ironi tersebut bagi saya sebuah problem yang perlu kita selesaikan. Sebab, seharusnya permasalahan mengenai pemahaman kaidah penulisan sudah selesai di jenjang SMA atau bahkan di jenjang SMP. Namun sayangnya realita berkata lain. Dari ironi tersebut kita bisa menduga bahwa selama ini pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh para guru tidak tersampaikan dengan baik, atau lebih jauh lagi, para murid tidak tertarik dengan pelajaran yang bersinggungan dengan Bahasa Indonesia sebab sang guru menyampaikan dengan cara yang membosankan.

Kita kembali ke pertanyaan awal; apa yang seharusnya kita ajarkan kepada siswa SMP dalam kelas menulis?

Jika merunut permasalah di atas, ada tiga poin yang perlu kita ajarkan kepada siswa SMP dalam kelas menulis.

Pertama, pemahaman akan cara kerja PUEBI dan KBBI

Ya, pemahaman tentang PUEBI dan KBBI adalah syarat mutlak dan tidak bisa ditawar. Tentu akan sangat mengganggu dan menjadi “polusi” tersendiri ketika kita membaca sebuah tulisan yang mana dalam tulisan tersebut banyak sekali ejaan yang salah dan kaidah penulisan yang amburadul, sekalipun gagasan yang ditawarkan menarik.

Maka dari itu, akan menjadi lebih baik jika hal-hal teknis seperi ini dituntaskan sedini mungkin. Dan bagi saya, jenjang SMP adalah waktu yang tepat untuk mengenalkan PUEBI dan KBBI sebagai alat terpenting dalam kaidah kepenulisan.

Kedua, praktik “membaca”

Bukan, yang saya maksud bukan menuntut atau memberi target kepada siswa agar melahap tiga artikel dalam satu minggu atau menuntaskan satu buku pada setiap bulannya. Tentu hal tersebut terlampau ndakik bagi siswa SMP.

Yang saya maksud dengan praktik “membaca” di sini adalah meninjau atau mengkritisi karya-karya, entah itu artikel, opini atau berita yang ada di media (baik online maupun offline) dari segi kaidah penulisannya.

Poin praktik membaca ini adalah upaya memberikan daya pikat atas pemahaman yang telah siswa pelajari pada poin pertama. Sehingga dari praktik membaca ini siswa tidak hanya sekadar tahu kaidah penulisan, tapi lebih dari itu, mereka juga bisa merasionalisasikan kenapa kata “Jakarta” harus diawali dengan huruf kapital. Misalnya.

Ketiga, merangkai kalimat

Setelah pemahaman mengenai PUEBI-KBBI dan praktik membaca tuntas, maka langkah selanjutnya adalah memberi tugas merangkai kalimat. Tidak perlu rumit-rumit, cukup kita beri tiga soal yang mana setiap soalnya berisi tiga komponen kata.

Dari tiga komponen kata tersebut, kita beri kebebasan kepada para siswa untuk merangkainya menjadi sebuah kalimat utuh. Tentu sesuai imajinasi mereka. Dalam poin ketiga ini kita bisa “membaca” seberapa jauh kerapian alur berpikir para siswa.

Dari ketiga poin di atas adalah tingkatan yang saling bertautan. Kita tidak akan bisa menerapkan poin kedua jika poin pertama belum selesai. Dan seterusnya, dan seterusnya. Alangkah menariknya dunia literasi jika para siswa di berbagai jenjang benar-benar serius mendalami dunia kepenulisan dan para pengajarnya memahami parameter yang akan diajarkan. Sebab jika demikian, para siswa tentu akan sering memberikan pendapatnya tentang kebijakan sekolah atau substansi mata pelajaran dari sudut pandang mereka sebagai objek, bukan dari sudut pandang sang pengajar yang pada titik tertentu cenderung kaku dan membosankan.      

Bagikan:
Penulis 5 Tulisan

M Izzuddin Rifqi

Bocah Angon di Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Leave a Comment