f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dua doa

Dua Doa pada Satu Malam

Rembulan terlihat menawan di hamparan langit malam ini. Bintang-bintang yang mengelilinginya bagai pernak-pernik penghias yang menambah keindahan angkasa. Angin tidak bergerak, tapi tetap aku rasakan sejuk menyelimuti tubuhku. Betapa alam semesta ini begitu indah untuk dinikmati. Bagaimana pula keindahan yang menciptakannya?

Pertemuan dengan Mbak Aisyah sore tadi betul-betul melegakan perasaanku. Nasihat-nasihatnya mengalir deras menghilangkan perasaan sedih dan ragu yang beberapa hari ini hinggap dalam batinku.

“Bahkan apabila masalahmu sebesar kapal,” dengan wajah yang teduh Mbak Aisyah menuturkan, “yakinlah bahwa nikmat dan pertolongan Allah sebesar lautan.”

Sore tadi aku memang mengeluarkan semua perasaan keruhku kepada Mbak Aisyah. Sudah lama aku mengenal beliau dan memercayai benar bahwa dirinya adalah sosok terbaik untuk berbagi perihal masalah-masalah yang sedang aku hadapi. Beliau memiliki banyak kunci untuk membuka kotak-kotak persoalan hidup yang tadinya seakan tidak mampu terbuka. Tutur katanya yang lembut, penuh pesan cinta dan kebaikan, akan menumbuhkan semangat dalam jiwa siapa pun yang mendengarnya.

***

Mbak Aisyah juga sangat pantas menjadi teladan dalam berbagai hal. Beliau begitu sopan dan ramah terhadap semua orang. Beliau begitu pandai menjaga hati temannya, amat takzim kepada orang yang lebih tua, bahkan terhadap orang yang tidak dikenal pun beliau tidak pernah ragu untuk berbuat baik. Bagaimana caranya untuk menjadi orang sebaik itu?

Pertanyaan itu sering aku tanyakan langsung saat bertemu dengan Mbak Aisyah. Lalu, Mbak Aisyah akan selalu memberikan jawabannya dengan tersenyum terlebih dahulu.

“Sesungguhnya, kebaikan yang kita lakukan, kebaikan yang kita berikan kepada orang lain itu, tidak lain adalah untuk kebaikan diri kita sendiri.” sambil menatapku, Mbak Aisyah melanjutkan, “Hal jazaa ul ihsaani illal ihsaan. Allah mengatakan seperti itu. Kalau kita berbuat kebaikan, balasannya adalah kebaikan pula. Orang lain yang kita tolong hari ini misalnya, suatu saat nanti bisa jadi mereka yang akan menolong kita.”

Baca Juga  Retak yang Utuh

“Tetapi, terkadang rasanya sulit dan berat sekali untuk berbuat baik itu, Mbak.” kukira, keluhan ini adalah inti dari semua masalah dalam hidupku. Seringkali aku dihadapkan pada kondisi yang mana memilih kebaikan teramat sukar dilakukan. Nafsu dalam diri kerap berkobar, mendorong untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Hati pun berulang kali terjangkiti perasaan iri terhadap kelebihan-kelebihan orang lain, padahal kelebihan-kelebihan itu hanyalah bersifat duniawi. Pergolakan batin manusia benar-benar tantangan besar, pikirku.

“Syarat utama supaya kita mudah berbuat baik dan mampu untuk terus-menerus berbuat baik itu satu saja.”

“Apa itu, Mbak?” suaraku terdengar serius dan menampakkan rasa penasaran yang besar.                                                                                                                                                                                                   

“Ikhlas. Munculkan rasa ikhlas dan kemudian rawatlah rasa ikhlas itu agar tidak pergi atau hilang dari hati.” saat Mbak Aisyah mengucapkan itu, aku menatap matanya dalam-dalam. Mata itu menujukan ketulusan.

***

Tiba-tiba aku teringat ucapan guru mengajiku di desa. Beliau pernah bilang, “Kata adalah sepotong hati. Sehingga kalau kata itu tidak keluar dari hati, maka tidak akan sampai pula ke hati. Berkatalah sesuai dengan isi hatimu. Benar katakan benar, salah katakan salah. Jangan pernah biarkan lisanmu mencoba membohongi hati.”

Kini, kalimat guru mengajiku tersebut aku rasakan betul pada kata-kata Mbak Aisyah. Kata-kata yang berasal dari hati!

“Apabila semua perbuatan kita sungguh-sungguh hanya ditujukan untuk mendapat rida Allah, kita tak akan sedikit pun pernah merasa kecewa.” sambil terus menatap matanya, aku mendengarkan baik-baik ucapan Mbak Aisyah.

“Nah, cara untuk menjaga hati selalu bersih agar segala perbuatan kita semata-mata hanya untuk meraih rida Allah, dekatkan diri dengan Al-Quran. Perbanyak membaca dan mempelajari isinya sehingga amalan kita akan sesuai dengan apa yang disukai Allah.”

Baca Juga  Keberkahan Ramadan

Perjumpaan singkat dengan Mbak Aisyah tadi sore memberi banyak hikmah padaku. Malam ini, setelah membaca Al-Quran dan salat tahajud, aku ingin berdoa kepada Allah.

“Engkau Maha Baik ya Allah. Betapa banyak nikmat yang Engkau berikan padaku. Maka, jadikan aku hamba-Mu yang pandai bersyukur, ya Allah. Salah satu nikmat terbesar yang Engkau hadirkan padaku ada pada sosok Mbak Aisyah. Engkau menghadirkan sosok sebaik dirinya untuk membantuku menempuh jalan panjang perbaikan diri. Aku memohon pada-Mu, ya Allah, limpahkan lah kebaikan pada Mbak Aisyah sebagaimana Engkau telah limpahkan kebaikan kepadaku.”

Malam masih panjang, kuharap doaku tak berhenti sampai pagi menjelang.

***

Fatimah adalah sosok adik yang baik. Selama beinteraksi dengannya, aku melihat semangatnya dalam belajar tak pernah surut. Mungkin memang sesekali ia pernah merasa gelisah, tetapi ia tak sedikit pun menyerah, apalagi berbalik arah.

“Jika Engkau izinkan, aku ingin senantiasa mendampinginya, ya Allah. Mendampinginya dalam belajar agama-Mu, membantunya menyelesaikan persoalan hidup yang ada, menjadi teman yang selalu ada di sisinya, sehingga aku dan ia bisa bersama-sama menjadi hamba-Mu yang lebih baik.”

Aku terkadang menjadi malu apabila bertemu dengan Fatimah. Walau mungkin aku berposisi sebagai kakak dan mentor yang selalu dimintai nasihat, tetapi aku turut belajar banyak darinya. Ia membuka cakrawala hikmah yang sering pula tidak kusadari. Pernah juga aku bertanya padanya tentang amalan dan ibadah hariannya.

“Saya sering masih merasa berat untuk salat tahajud, Mbak. Makanya kadang salatnya hanya dua rakaat setelah itu kembali tidur. Hehehe.” tawa kecilnya begitu lucu. “Baca Al-Quran juga rata-rata hanya mampu menyelesaikan satu juz perhari, Mbak.”

Mencapai kesempurnaan memang tidak mungkin, tapi setidaknya pastikan langkah kaki senantiasa menuju ke sana. Menjadi manusia yang terus-menerus mengejar kesempurnaan tersebut. Kesadaran-kesadaran semacam itu aku temukan dalam diri Fatimah.

Baca Juga  Pilkada Serentak dan Bayang-bayang Kelam Demokrasi

“Iya, Mbak. Kita memang tidak sempurna, tetapi kita adalah manusia yang tak henti berusaha. Begitu kan prinsipnya, Mbak?”

“Betul sekali, Mah.” hatiku selalu tersenyum ketika berada bersamanya.

Malam ini, aku ingin perbanyak berdoa kepada Allah, untukku dan untuk Fatimah.

“Berikanlah kesabaran pada kami, ya Allah. Senantiasa jaga hati kami selalu bersih dari kotoran-kotoran hati. Tidaklah ada yang kami inginkan kecuali rida-Mu, ya Allah.”

Tidak terasa pipiku basah oleh tetesan air yang mengalir dari mata.

“Aku ingin bersama-sama dengan Fatimah menapaki jalan menuju surga-Mu, ya Allah.”

Yogyakarta, 15 Desember 2020

Bagikan
Post a Comment