Aku dan Bibi Lastri (3)
Dua bulan penuh aku tinggal di kota Tua. Aku berhasil berpuasa satu bulan penuh saat Ramadan ini. Setiap sahur bibi membuatkan susu dan nutrijel kesukaanku. Tanpa terasa berat badanku sudah naik saja.
Sore tadi aku sudah mulai merapikan rumah, sebab besok adalah hari raya Idul Fitri yang ditunggu-tunggu. Aku cukup senang membayangkan akan bertemu banyak orang. Setidaknya aku akan terhibur dengan kedatangan teman-temanku besok. Malam ini saat aku mulai menyapu, suara takbir terdengar. Menghadirkan rasa sesak karena merindukan keluargaku yang entah bagaimana kabarnya. Bibi masih sibuk di belakang menyiapkan jamuan untuk besok.
Kringg.. kringgg..
Itu suara telepon. Aku meletakkan sapu dengan cepat dan masuk ke kamar bibi, mencari-cari sumber suara. Setelah meraih teleponnya, mataku berbinar senang. Ternyata benar dugaanku, ibu yang menelepon. Aku segera mengangkatnya, alih-alih memberitahu bibi Lastri jika ada telepon masuk. Di seberang sana terdengar suara ibu yang begitu aku rindukan.
“Lail…”
“Iya, bu. Ini Lail.” Ucapku hampir tidak terdengar sebab menahan tangis bercampur gembira.
“Kamu sehat kan, nak?” Tanya ibu dengan suara bahagianya. Mungkin keluargaku sedang berkumpul di depan rumah menyalakan kembang api seperti biasa.
“Sehat, bu..” jawabku lirih.
Lalu suara kak Pijar dan adikku, Fajar terdengar. Mereka berebut telepon, ingin mendengar suaraku. Aku tersenyum membayangkannya. Aku yakin, Ayah juga sedang ikut menimbrung mendengarkan.
“Kak Lail, kakak sedang apa?” Itu Fajar.
“Menyapu, dek.” Jawabku senang.
“Lho, kok lagi malam takbiran malah menyapu?” Aku terdiam, bingung menjawab apa. Tidak ingin keluargaku khawatir. Dadaku semakin sesak saja menahan tangis.
“Lail..” itu suara kak Pijar.
“Ya, kak?”
Hening beberapa saat. Kak Pijar akan menanyakan sesuatu yang penting.
“Emm, kamu… betah di sana?” Mendengar pertanyaan itu seketika air mataku tumpah. Sedari tadi aku sudah menahannya. Aku terisak lirih, membuat kak Pijar panik dan memberikan teleponnya ke arah ibu, mengatakan aku tidak baik-baik saja. Belum sempat aku mendengar suara ibu, suara bibi Lastri menggelegar memanggil. Aku kalap, takut bibi marah melihatku di kamar dan bertelepon dengan ibu.
“Laiiil!”
“Iyaa, bi..” Aku mematikan telepon. Takut ibu mendengar suara bibi tadi. Aku hendak menaruh kembali teleponnya di atas meja.
Terlambat. Bibi sudah masuk kamar dan menatapku dengan geram. “Keluar! Kemarikan teleponnya!” Aku berjalan keluar dengan takut mengulurkan telepon. Bibi meraih dengan kasar. Tangan satunya memegang sapu terlihat hendak memukul.
“Kau telepon ibumu lagi, hah?” Ucap bibi semakin marah, setelah melihat mengecek teleponnya. “Ibu yang telepon dulu, bi.” Jawabku takut.
Brakk! Bibi memukul meja di depanku persis. Matanya menyala-nyala marah. “Kau itu, sudah pandai berbohong, tidak bisa diatur juga ya!” Teriak bibi keras. Aku menangis tidak tahan. Bibi masih menatapku dengan wajah yang merah padam. “Bibi bekerja keras selama ini demi kau Lail! Agar kau bisa sekolah! Tidak seperti orang tuamu yang tinggal di hutan itu! Kau mau pulang ke hutan sana, hah?!”
Aku menggeleng tidak terima mendengar ucapan bibi, tetapi aku juga tidak mau melawan. Bibi melanjutkan lagi, “Kalau kau mau teleponan dengan ibumu itu, sekarang pilih! Hadap kemari, heh!”
Aku mendongak menatap bibi masih dengan menangis. “Kau pilih bibi sekolahkan atau telepon ini?”
“Jawab!”
Otakku masih bekerja dengan cepat memaknai kalimat bibi. “Sekolah, bi..” Ucapku lirih, membiarkan air mataku bercucuran. “Awas saja kau, ya! Dasar pembohong!” Setelah mengucapkan itu, bibi Lastri pergi begitu saja, membiarkan aku menangis sejadi-jadinya. Aku mengusap dadaku pelan, berharap tangisku reda. “A-k-ku b-bu-kan pem-b-bohong, bi.” Ucapku lirih.
***
Satu minggu kemudian, ibuku datang menjemput tanpa sepengetahuanku, bahkan bibi Lastri. Aku tahu, tidak mudah menjemputku di kota Tua. Ibu dan ayah pasti bekerja keras atau mungkin mengutang untuk biaya perjalanannya. Membayangkannya saja membuatku sedih. Seharusnya aku tidak menangis di telepon tempo hari.
“Aku ibunya, aku yang melahirkannya. Aku berhak membawa Lail pulang.”
Bibi Lastri yang mendengarnya kalap dan melempar semua barang-barang milikku di depan ibu.
“Ambil saja! Aku tidak membutuhkannya!”
Aku kembali menangis. Sanak saudara yang ikut melihat segera mengajakku keluar rumah, tidak baik katanya melihat pertengkaran orang tua. Sayup-sayup aku mendengar teriakan ibu dan bibi bersaut-sautan. Setelah beberapa saat ibu kelar sambil menangis dan merengkuhku ke dalam pelukannya. “Ayo kita pulang, nak.”
Sejak saat itu, aku tidak lagi melihat bibi Lastri.
***
“Lail..”
Aku mengerjap kaget melihat bibi Lastri. Ternyata sedari tadi aku melamun. Aku berdiri, menunggu dengan was-was kalimat bibi Lastri selanjutnya.
Tiba-tiba bibi memelukku erat, mengucapkan maaf dengan tulus atas kenangan pahit delapan tahun yang lalu. Aku tidak kuat menahan tangis membalas memeluk bibi erat.
“Kau mau melihat adikmu?” Tanya bibi Lastri lembut.
“Dede!” Bibi Lastri memanggil anak kecil laki-laki tadi yang ternyata giginya tanggal satu. Anak kecil bernama Dede itu berlari menghambur ke pelukan bibi Lastri.
“Dede, perkenalkan ini kakakmu, Lail.”
Aku begitu senang mendengarnya. Aku punya adik lagi sekarang.
Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta. Hobi: Menulis, membaca, menyanyi. Instagram: laelirhmniasf_ Twitter: laelirahmania Facebook: Laeli Rahmania Safitri.
