f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
wulan

Wulan: Aku Tak Dapat Diam

Perang masih terus berkobar meski mentari telah berada di ufuk barat. Darah membanjiri jalan-jalan desa kami. Kesedihan menghinggapi hati masing-masing orang setiap hari. Korban terus berjatuhan dari kedua belah pihak. Rasa kasih sayang seolah sirna dari semesta.

“Cepat sembunyi! Kalian harus tetap selamat!” teriak Dafi.

“Enggak! Aku nggak bisa terus-terusan sembunyi,” sanggah Wulan.

Dafi menempelkan dahinya di dahi Wulan, lalu berpesan, “Sayang! Kamu harus tetap hidup untuk nanti memberikan pendidikan yang terbaik pada Arini dan Irfan. Tolong! Dengarkan dan turuti kata-kataku. Kamu nggak mau kan bila mereka berdua nanti hidup tanpa orang tua?”

Air mata Wulan satu per satu jatuh membasahi bumi. Dalam lubuk hatinya ia tak mau lagi terus-terusan bersembunyi. Ia ingin ikut terjun ke gelanggan peperangan. Namun, di sisi lain ia menyadari bahwa perkataan suaminya tadi adalah sebuah kebenaran. Wulan tentu tak tega menelantarkan anak-anaknya.

Wulan memegang pipi Dafi dengan rasa tak tega, “Hati-hati! Aku selalu mendoakanmu supaya selalu diberi perlindungan dan keselamatan.”

Dafi tersenyum, mengusap air mata yang menetes membasahi pipi Wulan, “Iya! Terima kasih banyak. Sudah! Sekarang cepat bergabung dengan yang lain dan cari tempat yang aman!”

Wulan mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan Dafi yang hendak kembali ke medan tempur. Belum jauh Wulan melangkah, ia menoleh ke belakang. Mata Wulan dan Dafi saling bertemu. Keduanya sama-sama menyiratkan harapan yang tak bisa diungkapkan dalam sebuah kalimat.

Wulan terdiam, Dafi kemudian melambaikan kecil tangannya. Wulan yang menyaksikan hal tersebut tak dapat lagi membendung derasnya air mata. Ia lantas melanjutkan berjalan, mematuhi apa yang dikatakan Dafi. Bersamaan dengan itu, mentari tak lagi menampakkan dirinya.

***

“Lan! Kok kamu diam terus dari tadi. Ada apa sih? Coba cerita!” tanya Ulfi.

“Nggak ada apa-apa kok. Cuma kepikiran besok kita mau masak apa enaknya,” Wulan tersenyum.

“Halah! Bisa-bisanya kamu bohong sama aku. Raut mukamu kelihatan banget kalau kamu mengkhawatirkan sesuatu. Udah! Cepet cerita, ayo!” sergah Ulfi. Senyum Wulan kini tampak begitu tulus setelah mendengar kalimat Ulfi barusan. “Eh….malah senyum-senyum aja. Buruan cerita!” Ulfi memaksa Wulan.

“Haduh! Mulai dari mana ya, Ul! Aku bingung.”

“Halah! Tinggal cerita aja kok pake bingung segala.”

Wulan tersenyum, kemudian mulai berucap. “Aku sebenarnya udah jenuh dengan rutinitas kita selama ini. Kita terus saja lari dan bersembunyi. Sementara itu, suami-suami kita di sana berjuang mati-matian.”

Baca Juga  Perempuan dan Gerakan Minimalis Wujud Menjaga Lingkungan

“Kamu ini ngomong apa sih, Lan!? Fitrah kita memang udah seperti ini. Kita berada di belakang laki-laki. Berlindung di balik punggung mereka. Apalagi dalam kondisi peperangan seperti ini, kita nggak mungkin ikut bergabung dengan mereka.”

“Nggak bisa begitu, Ul! Kita, para perempuan, juga harus bisa menjaga diri. Kita nggak boleh terus-terusan berada di belakang laki-laki. Jika tidak, menurutmu siapa nanti yang akan menolong kita saat kita dalam bahaya, sementara para suami kita masih berada di medan juang? Kita semua yang ada di sini harus bisa menjaga diri, Ul! Cuma itu yang sebenarnya yang membuatku gelisah selama ini.”

Ulfi yang mendengar kalimat Wulan barusan hanya terdiam. Ia tak bisa membantah, Wulan benar. Suasana siang itu tiba-tiba berubah jadi begitu canggung. Tak ada kata terucap dari Wulan maupun Ulfi. Mereka berdua menunduk. Ulfi mencerna kalimat Wulan, sementara Wulan tak tahu harus apa setelah melontarkan kalimat tadi di depan Ulfi.

***

Enam hari telah berlalu, belum terdengar kabar apa pun dari Dafi dan teman-temannya. Wulan mulai khawatir jika terjadi hal yang tak diinginkan pada mereka. Guna mengusir rasa khawatirnya tersebut, Wulan menyibukkan diri dengan mencari kayu bakar untuk keperluan masak sore hari. Sebenarnya Wulan ingin mengajak Ulfi, tapi entah kenapa hatinya masih merasa tak enak untuk melakukannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi seorang diri.

Hari itu entah mengapa Wulan merasa kesulitan mencari ranting. Ia hanya bertemu dengan kayu-kayu yang berukuran cukup besar. Satu jam lebih Wulan mencari, tapi tetap saja tak ada ranting yang ia lihat. Wulan pun memutuskan membawa apa yang ia lihat, ia tak mau pulang dengan tangan kosong.

Wulan merasa agak kelelahan, ia memutuskan untuk duduk sejenak di bawah pohon sebelum membawa pulang kayu-kayu yang ia dapat. Belum lama ia mengistirahatkan diri, pikirannya tiba-tiba kembali teringat dengan Dafi. “Kapan ya kira-kira dia pulang?” Wulan menarik napas panjang. Ia lantas memandang langit, hendak melantukan doa pada-Nya.

Namun, belum juga ia merapal doa dalam hati, tiba-tiba terlihat sesuatu yang janggal. Burung-burung beterbangan seperti ada sesuatu yang menakuti mereka. Bila diperhatikan, asal mula burung-burung tersebut berasal dari arah tempat pengungsian para perempuan dan anak-anak. Tidak mungkin mereka mengusir burung-burung itu. “Sepertinya ada sesuatu yang janggal. Aku harus segera kembali,” ucap Wulan.

Baca Juga  Perempuan Berdaya
***

“Semua diam di tempat! Jika ada yang bergerak sedikit saja, aku tak segan menembaknya,” teriak seorang pria yang menutup wajahnya dengan balutan kain. Ia kemudian menekan pelatuk pistol, mengarahkannya ke atas. Terdengar jelas bunyi peluru menembus atap rumah. Burung-burung yang ada di sana serentak terbang pergi ketakutan.

Para perempuan yang ada di sana terdiam ketakutan, tapi mereka tetap mencoba melindungi anak-anak mereka dari pria tak dikenal itu. Sepertinya pria itu adalah orang pribumi, bukan penjajah. Pria tersebut lantas berjalan pelan mendekati para perempuan yang ada di sana. Satu per satu ia cermati dengan tatapan yang penuh nafsu. “Kau punya paras yang ayu,” goda pria bertopeng itu kepada Ulfi, “Ayo cepat berdiri dan ikuti aku!”

Ulfi mencoba melawan tarikan pria tersebut, tapi tenaganya tak sebanding. Sementara itu, para wanita yang ada di sana hanya melihat kejadian tersebut dengan perasaan takut. Mereka merasa tak bisa melakukan apa-apa. “Tenang! Aku tak akan membunuhmu, asalkan kau menuruti kemauanku. Bagaimana? Mudah sekali bukan menerima tawaranku?” kata pria tersebut pada Ulfi yang tengah menangis ketakutan.

Pria tersebut lantas perlahan membawa Ulfi berjalan mundur menuju keluar tempat pengungsian tersebut. “Jangan ada yang berani melawan. Sudah kubilang aku tidak akan segan membunuh siapa saja yang melawan kehendakku,” ancam pria tersebut pada seluruh orang di sana sambil menodongkan pistol pada mereka. Pria tersebut merasa sangat puas bisa leluasa melakukan apa yang inginkan. Tak ada rasa takut sama sekali, karena ia tahu bahwa seluruh laki-laki―yang bisa melindungi para perempuan dan anak-anak di sini―terjun ke medan tempur.

Satu langka lagi Ulfi dan pria tersebut keluar dari tempat pengungsian itu. Namun, karena sejak tadi ia hanya mengarahkan pandangannya ke depan, ia tak mengantisipasi sama sekali ketika tiba-tiba kayu besar menimpa kepala belakangnya dengan sangat keras. Hal tersebut berhasil membuat pegangannya pada Ulfi terlepas. Ulfi pun dengan segera berlari menjauh dari pria itu.

***

Pria tersebut sangat geram terhadap apa yang menimpanya barusan. Ia menoleh ke belakang, tapi sekali lagi pukulan kayu menimpanya. Kini tepat berada di samping matanya. Ternyata, yang melakukan hal tersebut adalah Wulan. “Kurang ajar! Ternyata kau yang melakukannya padaku. Beraninya dirimu.” Aneh! Pria tersebut mengenali Wulan, berarti ia sepertinya bukan orang yang asing bagi Wulan.

Baca Juga  Barang Titipan (Part 1)

“Kau tahu! Dafi sudah mati saat perang, dan siapa lagi yang melakukannya jika bukan aku!” ucap pria tersebut disusul nada tawa yang arogan. Kalimat itu berhasil membuat Wulan lengah, ia menurunkan kayu yang tadinya hendak ia pukulkan pada pria tersebut. Pria tersebut kemudian menodongkan pistol pada Wulan, “Kini, giliranmu yang mati di tanganku!”

Wulan tak tahu harus berbuat apa lagi, ia sudah sangat lemas mendengar kabar kematian Dafi. Wulan pasrah melihat pistol yang mengarah tepat di depan wajahnya. Tiba-tiba dari belakang Ulfi mengusap cabai ke mata pria bertopeng tersebut. Kebetulan bagian wajahnya yang tak tertutup hanya mata. Apa yang dilakukan Ulfi tadi sontak membuat pria bertopeng itu otomatis melepaskan pistolnya. Pria itu meronta-ronta karena matanya begitu perih.

“Ayo, Lan! Cepat pukul dia, tunggu apa lagi!?” Mendengar kalimat Ulfi tersebut, Wulan langsung melayangkan pukulan ke kepala pria itu. Tiga kali pukulan berhasil diberikan, membuat pria itu ambruk. “Siapa pun, bantu kami memukuli pria bajingan ini dengan apa saja. Cepat!” teriak Ulfi pada orang-orang yang ada di sana.

***

Wulan melemparkan kayu-kayu yang telah ia dapat tadi kepada mereka. Semua perempuan yang ada di sana kompak memukuli pria itu hingga membuatnya diam dan tak bergerak sama sekali. Entahlah! Apakah ia hanya tak sadarkan diri atau sudah mati, mereka tak bisa mengetahuinya dengan pasti.

“Berhenti semua!” Wulan mencoba menghentikan kemarahan para perempuan itu, “Mari kita lihat siapa dia sebenarnya!” Wulan membuka balutan kain yang ada di wajah pria itu. Ketika telah terbuka sepenuhnya, Wulan begitu terkejut selepas melihat wajah pria tersebut. Dia ternyata adalah Galang, teman dekat Dafi. Wulan masih tak percaya bahwa dialah yang melakukan semua ini, bahkan dengan teganya ia membunuh teman dekatnya sendiri. Air mata Wulan pun tak terbendung.

Bagikan
Post a Comment