f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
emosi

Cara Menjaga Kesehatan Mental pada Anak

Pada 24 November 2020 lalu adalah jadwal ku untuk berkonsultasi. Konsultasi kali ini lumayan ramai, dan baru kali ini saya melihat pasien seorang anak, kira-kira usianya 9-10 tahun. Konsultasi yang saya lakukan berlokasi di RSUD. Suasananya tentu, berbeda dengan RS Swasta, di mana hanya ada satu pasien dalam satu ruangan. Pasien dengan nomor selanjutnya ya menunggu di luar. 

Namun di RSUD hal itu tidak ditemui. Setelah ditensi, pasien selanjutnya dapat menunggu di ruangan yang sama dengan pasien yang sedang melakukan konsultasi. Serta dapat mendengar pembicaraan yang terjadi. 

Pada saat menunggu giliran, ternyata anak tersebutlah yang sedang melakukan konsultasi. Sebut saja dia Rani, dia tidak sendirian namun datang bersama ayahnya. Singkat kata, yang saya dengar konsultasinya membahas Rani yang kerap kali merasa sesak nafas dan merasa kepalanya sumpek. Setelah dikulik oleh dokter, Rani menceritakan hal itu kerap terjadi pada saat bundanya marah-marah kalau dia telat mengerjakan tugas sekolah online, atau jawaban yang diberikan salah. Sehingga nilai yang diperolehnya menurut bundanya jelek atau kurang maksimal.

Selain itu Rani juga berkata, “Rasanya saya pengen pukul bunda, setiap kali dia marah. Tapi kan gak bisa! Jadinya saya lampiaskan ke adikku dengan cara mencambak-cambak rambutnya, kalau disuruh jaga adiknya. Dengan polos Rani berkata dia merasa “puas dan lega” karena bisa melampiaskan emosinya dengan cara itu. 

Karena rasa sesak dan sumpek intens terjadi, alhasil orang tua Rani mengambil inisiatif meminta izin agar tidak sekolah untuk semester ini, dan membawa Rani ke kampung untuk berobat. Orang tua Rani menganggap hal itu salah satu ikhtiar agar anaknya segera pulih. 

Baca Juga  Tentang Menempatkan Anggota Keluarga Sebagai "Subjek"
****

Tidak dapat dipungkiri, permasalahan kesehatan mental tidak hanya menyerang orang dewasa, namun juga anak-anak. Sekolah dari rumah, tugas sekolah yang menumpuk, kurangnya waktu bermain dan bersosialisasi dengan teman seusianya, menyebabkan anak menjadi jenuh. Situasi inilah yang kemudian memunculkan masalah perilaku atau emosi pada anak. Permasalahan emosi dan perilaku anak merupakan hal penting yang tidak boleh luput dari orang tua. Karena hal ini sangat berkaitan dan berdampak pada perkembangan dan pertumbuhan kognitif anak. Selain itu hal ini juga dapat mempengaruhi tumbuh-kembang anak dalam kehidupan sehari-hari. 

Dan menjadi orang tua di masa pandemi bukanlah hal yang mudah. Terlebih jikalau kedua orang tua bekerja. Harus pintar membagi waktu dan peran dengan pasangan dalam mendampingi anak sekolah atau menyelesaikan tugas-tugas harian.

Berdasarkan data dari Puspensos menyatakan, selama pandemi sebagian anak memiliki resiko untuk mengalami masalah kesehatan mental lebih tinggi. Khususnya anak-anak dari keluarga sosial ekonomi menengah ke bawah. Selain itu, hasil temuan dari Intan Kusuma Wardhani selaku praktisi psikolog klinis menyatakan di masa pandemi anak lebih mudah marah, lebih mudah sedih, dan menangis tanpa sebab.

Kondisi ini persis seperti yang dirasakan oleh di Rani, yang acapkali mendapatkan kekerasan secara verbal dari orang tua merasa penuh dengan amarah. Keluhan tersebut tentunya sangat perlu untuk disikapi secara serius dan tepat oleh orang tua. Hal ini agar tidak berkembang menjadi suatu bentuk gangguan psikologis yang lebih berat. Jika mengingat Rani, saya merasa sedikit cukup lega atas kesadaran serta kesediaaan orang tuanya yang mau mengajaknya konsultasi ke psikiatris. 

Upaya preventif orang tua

Berdasarkan yang dilansir pada laman Puspensos, setidaknya ada upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam lingkup keluarga guna mendampingi anak, di antaranya:

1. Kelola kecemasan diri. Apabila anda sendiri merasa dalam kondisi cemas, sebaiknya luangkan waktu anda untuk mengelola kecemasan atau emosi tersebut. Anda bisa mempraktekan teknik pernafasan 4-7-8 untuk membantu anda merasa rileks sebelum berkomunikasi dengan anak. Karena jika ekspresi kecemasan atau emosi sering teramati oleh anak akan memberikan pengaruh pada kondisi psikologis mereka.

2. Perhatikan apa yang anak-anak lihat dan dengar dari televisi, radio atau berita online. Penting bagi orang tua untuk mengurangi paparan informasi yang fokus pada COVID. Terlalu banyak informasi mengenai hal ini dapat berpotensi meningkatkan kecemasan bagi anak. Terutama karena anak kecil masih belum memiliki kemampuan analisa yang baik. Sehingga bantulah anak anda dalam menyaring informasi dan ajak mereka untuk berdiskusi.

3. Menjaga rutinitas. Pastikan anda membuat rutinitas anak, misalnya makan dan tidur yang teratur. Sehingga anak dapat tetap beraktifitas ceria dan aktif. Luangkan waktu untuk melakukan aktifitas permainan fisik. Hal ini tentu saja bermanfaat bagi tubuh dan juga dapat membantu sekresi hormon-hormon yang dapat memunculkan mood positif. 

4. Upayakan untuk menciptakan suasana yang dapat membuat anak anda merasa nyaman dan tenang. Bantulah anak anda dalam setiap menyelesaikan tugasnya dengan sabar, tanpa intonasi nada yang tinggi, dan hindari untuk membentak. Ingat anak akan merekam setiap kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Sehingga berikanlah contoh yang baik dan jadilah panutan bagi mereka dalam berprilaku.

Baca Juga  Parenting Tujuh Kali Tiga Ali bin Abi Thalib
***

Kesehatan mental anak memang tidak mudah untuk diidentifikasi jika hanya dilihat dari luar. Oleh karena itu, Rahmania (sebagai orang tua) ada baiknya untuk rutin bertanya dan mencoba mendengarkan perasaan anak-anak anda. Sehingga Anda dapat lebih memahami dan dapat memberikan dukungan yang anak butuhkan dengan tepat. Jika Anda merasa kurang membantu atau kewalahan dalam menjalankan peran, jangan ragu untuk mengkonsultasikan kepada pihak profesional. Selain itu perbanyak bacaan mengenai parenting.

Bagikan
Post a Comment