f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak

Apakah Aku Harus Memiliki Anak?

Setelah lulus SD kita masuk SMP.
Lulus SMP kita masuk SMA.
Setelah SMA masuk kuliah.
Lulus kuliah kita bekerja, kemudian menikah dan punya anak.

Jadi, apakah memiliki anak itu merupakan jalan hidup setiap manusia? Apakah setelah mendapat pekerjaan dan menikah otomatis kita siap memiliki anak? Apakah setiap pasangan harus memiliki anak? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di benak saya dulu sebelum memiliki anak.

Memiliki buah hati sering kali menjadi sebuah patokan kebahagiaan seseorang. Saya cukup sering mendengar komentar, “Enak lho punya anak bisa didandanin dan bisa diajak main” atau “Rumah jadi rame deh kalo udah punya anak”. Sehingga seakan-akan tujuan memiliki anak hanya untuk seru-seruan. Bahkan tidak jarang saya menemui pasangan yang motivasi memiliki anak hanya karena tuntutan masyarakat dan keluarga.


Saya pribadi dulu sempat memutuskan tidak ingin punya anak. Alasannya bukan karena saya ingin mengejar karir atau karena saya tidak suka anak-anak, tapi karena saya merasa memiliki anak merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Banyak sekali faktor yang harus menjadi pertimbangan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.

***

Pertama adalah faktor keuangan. Membesarkan seorang anak membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari biaya melahirkan, biaya kebutuhan bayi, biaya kesehatan dan lain-lain. Sebuah riset di Amerika Serikat menyebutkan bahwa biaya membesarkan satu anak sampai usia 18 tahun bisa mencapai 3 miliar rupiah[1]. Situs Tirto.id[2] memperhitungkan biaya tersebut setara dengan 25 juta rupiah pertahun bagi keluarga ekonomi menengah di Indonesia. Belum lagi bila kita harus mempertimbangkan rumah yang layak, kendaraan dan biaya pendidikan yang terus meningkat setiap tahunnya. 

Baca Juga  Kurikulum Tega Mendidik Anak

Faktor keuangan adalah faktor riil yang bisa diperhitungkan dan bisa diatasi dengan memiliki pendapatan yang mencukupi. Faktor lain yang menurut saya lebih sulit untuk diukur adalah faktor kesiapan mental orang tua. Menjadi orang tua artinya kita harus siap membesarkan anak sampai dewasa, mendidiknya dan mempersiapkannya untuk hidup mandiri. Selain itu orang tua juga harus siap mental menghadapi tantangan-tantangan yang datang dari dalam maupun dari luar rumah seperti masalah kesehatan yang akhir-akhir ini semakin kompleks, masalah pergaulan yang tidak baik dan isu-isu sosial yang semakin mengkhawatirkan.  

Cukup banyak fenomena sosial yang saya temui di sekitar saya berakar dari trauma masa kecil maupun didikan orang tua yang kurang tepat. Anak-anak yang terlalu dimanja saat kecil, tumbuh menjadi orang yang tidak mandiri dan menyusahkan orang lain. Sedangkan anak-anak dari keluarga yang tidak harmonis dipaksa untuk dewasa sebelum usianya sehingga menimbulkan trauma psikologis saat dewasa. Belum lagi cerita anak-anak yang durhaka pada orang tuanya, anak-anak yang mengalami kekerasan dan pelecehan seksual dari lingkungan sekitarnya dan lain sebagainya. Sehingga membuat saya semakin takut untuk memiliki anak. 

***

Namun semakin saya mempelajari syariat Islam semakin saya menyadari bahwa kekhawatiran-kekhawatiran saya tersebut sangat duniawi. Seperti halnya takdir, jodoh dan rizki, memiliki buah hati sebenarnya adalah urusan Allah. Allah yang mengatur anak-anak yang akan lahir pada pasangan setiap keluarga seperti sebagaimana dalam Al-Quran surat Asy-Syura ayat 49-50 :

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang Dia kehendaki, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Asy-Syuura: 49-50) 

Baca Juga  Sebatang Coklat dan Martir Perjuangan

Seorang anak memiliki peran yang sangat penting dalam agama Islam. Anak yang lahir dalam keluarga muslimin akan memperoleh pendidikan berdasarkan dengan ajaran Al Quran dan Sunnah. Sehingga akan menambah jumlah ahli ibadah di muka bumi. Seorang anak yang sholeh akan membawa ajaran islam ke dalam kehidupannya di masa depan sehingga sapat meneruskan ajaran agama Allah ke generasi berikutnya. 

Selain itu, seorang anak yang sholeh akan menjadi perhiasan dan penghibur bagi orang tuanya. Amal ibadah dari anak sholeh akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi orang tuanya bahkan setelah orang tuanya wafat. Begitu pula doa anak sholeh akan meringankan dan memberi penerangan dalam kubur saat orang tuanya sudah meninggal. 

***

Kesiapan kita dalam memiliki anak bukan berdasarkan besaran gaji yang kita miliki, atau seberapa banyak ilmu parenting yang kita miliki. Bukan juga dari usia kita atau latar belakang keluarga kita. Kesiapan memiliki anak dalam sebuah keluarga muslim berdasarkan pada tingkat tawakkal kepada Allah subhanahu wata’ala. 

Seberapa besar kita bisa menyerahkan urusan anak kepada Allah dan seberapa besar komitmen kita untuk mengikuti ajaran Islam dalam mendidik dan membesarkan putra-putri kita. Karena sesungguhnya Allah sudah menyiapkan rizki bagi setiap manusia yang lahir ke dunia seperti dalam Quran surat Ar-Rum ayat 40. Maka bagi orang tua, yang harus kita lakukan adalah mengimaninya dan percaya bahwa Allah akan memberi rizki bagi anak-anak kita. Maka dengan ikhtiar yang cukup dan pasarah kepada Allah maka insyaAllah kita akan merasa cukup dan terhindar dari keresahan yang tidak perlu. 

Tidak hanya sisi keuangan yang sudah mendapat jaminan oleh Allah, dari sisi parenting pun Islam memberikan panduan yang menyeluruh. Dalam Al Quran surat Luqman memuat teladan mendidik anak di jalan Allah, anjuran berbakti kepada orang tua bahkan nasihat-nasihat dalam bersikap di kehidupan sehari-hari. Begitu pula dalam kisah hidup Rasulullah dan para nabi pun banyak hikmah yang bermanfaat bagi para orang tua untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Baca Juga  Kaderisasi Politik dalam Keluarga

Panduan mendidik anak dalam Islam berperan sebagai pedoman dan kerangka bagi orang tua dalam membesarkan buah hatinya. Parenting yang berlandaskan syariat dapat menjadi acuan yang kuat bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan di masa depan. InsyaAllah anak-anak sholeh akan turut menjaga ajaran Islam dan menjaga bumi ini dari kerusakan. Amin ya robbal alamin.


[1] https://graphics.wsj.com/childcost/  dikunjungi tanggal 1 April 2021

[2] https://tirto.id/mahalnya-biaya-membesarkan-anak-bofH dikunjungi tanggal 1 April 2020

Bagikan
Comments
  • Kamilia

    yaps aku setuju bahwa kesiapan untuk memiliki anak tidak hrs dilihat dari seberapa banya gaji, tapi yg perlu kita garis bawahi bagaimana orng tua yg menjalani rumah tangga trsebut jika orng tua blm siap secara mental, emosional, spiritual, ekonomi dn aku yakin mereka jg tidak bisa mendidik anak. Banya di sekitar ku orng menikah punya anak krna tekanan budaya masyarakat takut dibilang mandul, pdhl mereka blm siap dn apa yg terjadi rumah tangga mereka sering cekcok ujung”nya anak jadi korban. Tapi disisi lain aku mikir tapi orang tua ku masih dibilang ekonominya blm stabil tapi mereka bisa mendidik aku sejauh ini dn aku merasa tercukupi nahhh disitu aku mulai mikir ibu ku rajin beribadah slalu berusaha percaya kepadah allah kalau rezeki buat anak psti ada aja, perlu digaris bawahi juga harus berusaha yaa bukan hanya ber doa
    Dan ya satu lagi dukungan moral buat anak itu juga pentig. Kuncinya di orang tua intinya krna orng tua yg stres mereka tida bisa ngobrol sm anak. jdii kita semua harus bersyukur masalah dunia dn akhirat harus berjalan bersamaan

    Agustus 8, 2026
Post a Comment