f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bullying perceraian

Bullying Perceraian

Pernikahan adalah sesuatu yang dijalani satu kali untuk seumur hidup dan selamanya. Itulah sebuah harapan yang selalu diinginkan oleh setiap orang yang menjalani pernikahan. Tidak adanya perceraian. Statement yang melekat di benak masyarakat. Siapa sih yang menginginkan perceraian? Bahkan mereka yang berstatus janda atau duda saja… jika ditanya tentang perceraian, mungkin akan menjawab perceraian itu adalah suatu kegagalan.

“Lah terus kenapa cerai?”

“Korban dalam perceraian terutama adalah anak.”

“Pasangan suami istri tidak seharusnya mementingkan ego-nya masing-masing dan mencari jalan terbaik agar perceraian tidak terjadi.”

Itulah kalimat-kalimat yang sering dilontarkan bagi sebuah pola pikir yang tidak bisa terbuka.  Untuk mencegah sebuah pola pikir tersebut, tidak seharusnya kita menutup cara berpikir kita, dan mencoba menilai segala sesuatu kondisi dari dua sisi.

***

Tidak semua kisah orang lain harus sama dengan kisah kita. Banyak alasan yang membuat sebuah perceraian bisa terjadi. Pola pikir yang berbeda antar pasangan. Bisa disebabkan oleh karakter, didikan keluarga, lingkungan maupun prinsip masing-masing pasangan. Jika dari keseluruhannya tidak dapat diperbaiki dan tidak memiliki titik temu, mungkin putusan perceraian adalah jalan yang terbaik.

Mempertahankan pernikahan belum tentu jalan yang terbaik untuk masa depan anak. Bukan perceraian yang membuat anak itu rusak, tapi… broken family. Banyak anak-anak yang sukses dari seorang single parent yang pernah mengalami cerai. Bisa saja… dari sebuah perceraian, akan timbul rasa kasih sayang yang lebih besar dari sebelumnya karena merasa anaknya adalah korban sebuah hubungan yang gagal, sehingga seorang single parent akan melakukan kualitas yang lebih baik lagi dengan anaknya. Atau dengan adanya kasus perceraian, mungkin justru menjadikan perubahan pola pikir untuk mendidik seorang anak agar lebih berhati-hati dalam memilih pasangan mereka kelak, agar tidak mengulang kegagalan yang sama seperti orang tuanya. Karena seorang anak adalah masa depan orang tuanya.

Baca Juga  Esensial Korespondensi dalam Komunikasi

Banyak juga anak-anak yang gagal dan hancur dari keluarga yang utuh. Perceraian memang sesuatu pilihan yang tidak baik untuk anak, namun akan lebih tidak baik lagi jika di dalam rumah tangga, ayah dan ibu terus menerus melakukan pertengkaran yang menimbulkan traumatis tersendiri untuk anak.

So, kita tidak bisa menghakimi apa yang terbaik untuk rumah tangga masing-masing orang, karena kita tidak berada di posisi mereka.

Kita tidak bisa menentukan masa depan seseorang dari sebuah kesalahan yang mereka lewati. Perceraian memang sebuah kegagalan, tapi bukan berarti orang yang mengalami perceraian akan bernasib buruk seumur hidup.

***

Perceraian mungkin bisa menjadi sebuah titik balik dari karakter seseorang. Dari berbagai macam contoh, bukan hanya sebuah perceraian saja, banyak orang yang dapat berubah secara karakter menjadi jauh lebih baik dan istimewa karena sudah pernah mengalami sebuah kegagalan di dalam hidupnya. Mereka dapat belajar dari kesalahan dan dapat mengambil hikmah, sehingga akan lebih berhati-hati dalam melangkah ke depan.

Perceraian lebih mudah dilakukan daripada pemutusan saat pacaran. Ada orang yang memutuskan menikah hanya karena mereka terlalu lama pacaran. Tidak menjamin, pacaran lama akan membuat sebuah hubungan pernikahan bertahan lama pula. Mereka berpikir dengan adanya sebuah pernikahan, mereka akan memulai kehidupan yang baru.

Segala pergantian bahagia dan manis saat pacaran belum tentu berbuah hal yang sama dengan pernikahan. Saat berpacaran, sebuah konflik yang dihadapi pasangan mungkin tidak melibatkan keluarga sehingga tidak melebar, bisa dipengaruhi juga dengan berbagai faktor daya tarik secara emosional atau hasrat satu sama lain.

Tidak sesuai ekspektasi, berbeda ketika saat menikah, kebanyakan pasangan lebih mengutamakan ego masing-masing atau saling menuntut, sehingga yang terlihat justru sebuah kekecewaan dan rasa tidak terpenuhi dari pasangan satu sama lain. Namun ada juga dengan berpacaran cepat akan menimbulkan perceraian yang cepat pula. Bisa didasari karena saling tidak mengenal satu sama lain, salah mengartikan perasaan cinta dengan ketertarikan semata dan masih bisa dinilai dari berbagai macam aspek.

Baca Juga  Pengendalian Diri sebagai Bentuk Komunikasi dari Hati ke Hati
***

Ada sebuah contoh studi kasus. Suami istri yang sudah menjalani sebuah pernikahan selama beberapa tahun. Sang istri baru mengetahui sang suami seringkali melakukan KDRT yang tidak pernah ia tunjukkan selama berpacaran. Akibat dari KDRT tersebut, merugikan banyak pihak terutama seorang anak yang akan menjadi trauma dan tumbuh dengan masalah jika melihat hal tersebut terus menerus. Tidak ada perubahan pada suami walaupun sang istri sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk suami dan menuruti segala kemauan suami.

Apakah anda akan tetap menyarankannya untuk bertahan? Hal ini juga dapat berlaku bagi seorang suami yang mengalami KDRT dari istri atau keluarga istri. Apapun problem yang dihadapi oleh sebuah rumah tangga, kita tidak boleh seenaknya mengkata-katai bahkan menghujat. Karena kita tidak pernah tahu sebuah prahara di dalam rumah tangga orang lain, dan tidak pernah menjalaninya.

Tidak berarti juga, bahwa setiap permasalahan harus diselesaikan dengan sebuah perceraian, karena banyak juga sebuah perceraian dilakukan hanya karena mementingkan ego masing-masing. Dimana sebuah perceraian itu seharusnya tidak terjadi, namun bisa dilakukan dengan sangat mudah. Perceraian adalah sesuatu yang berat, mempertahankan pernikahan yang tidak bahagia juga berat. Pilihlah secara bijak.

***

Bagikan
Post a Comment